Bupati Karanganyar Targetkan Zero Stunting Di 2023 Mendatang

KARANGANYAR- Pemerintah Kabupaten Karanganyar, menargetkan di tahun 2023 mendatang zero stunting. Berbagai upaya pun saat ini dilakukan oleh pemerintah kabupaten karanganyar melalui sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh beberapa dinas terkait.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono usai membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah, yang digelar oleh Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar, mengungkapkan mengingat saat ini angka stunting di Kabupaten Karanganyar, tercatat mengalami penurunan sejak tahun 2019, maka bupati mengharapkan agar di tahun 2023 nanti Karanganyar bisa Zero Stunting.

“Akan jadi program prioritas kami nanti, beberapa kegiatan untuk penekanan angka Stunting saat ini sudah kita lakukan, selain pemberian nutrisi dan pengawasan terhadap pernikahan dini juga melakukan beberapa kegiatan yang outputnya adalah sebagai upaya penurunan Stunting, kita bersama sama mulai dari tingkat kabupaten Kecamatan dan Desa,” terang Bupati.

Disisi lain, Kepala DKK Karanganyar Purwati, dalam laporan yang disampaikan dalam rakor kesehatan daerah mengungkapkan, Secara umum angka stunting di wilayah Kabupaten Karanganyar diketahui mengalami penurunan sejak tahun 2019, hingga tahun 2021 lalu.

“Untuk tahun 2022 ini turun menjadi 3,2 persen, tahun 2021 lalu sempat 4,48 persen,” terang Purwati.

Lebih jauh Purwati mengungkapkan, di kabupaten Karanganyar sendiri angka stunting untuk anak usia bawah dua tahun (Baduta) di tahun 2022 mencapai 0,27 persen. Sedangkan untuk anak dibawah usia lima tahun (Balita) yakni mencapai 3,3 persen.

“Dari jumlah anak yang ada di Karanganyar baik Baduta maupun Balita sebanyak 48.203 anak. 1.603 anak diketahui mengalami stunting. 358 anak yakni Baduta,” terang Purwati.

Sementara itu, dalam upaya untuk menurunkan angka stunting yang ada di Kabupaten Karanganyar. Pemerintah melalui DKK sudah melakukan berbagai kegiatan yakni diantaranya analisi situasi, sampai dengan rencana penyusunan kegiatan dan mencatat kinerja tahunan yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.

“Perlu perubahan perilaku, dalam memberikan pola asuh agar tidak terjadi gangguan gizi. Karena penyebab stunting sesuai dengan data yang kami terima salah satunya adalah pola asuh anak,” pungkas Purwati.(Ard)