23 Korban Gempa Mamuju, Sulawesi Barat Diterima Pemkab Karanganyar, Dua Diantaranya Reaktif.

Asisten Pemerintahaan Pemkab Karanganyar, Sundoro menerima dan memberikan bantuan kepada 23 warga Karanganyar yang terkena gempa bumi di Mamuju Sulawesi Barat

KARANGANYAR – Sebanyak 23 korban Gempa Mamuju, Sulawesi Barat asal Karanganyar diterima Pemkab di rumah dinas Bupati, Jumat (22/01). Mereka warga Kecamatan Jumantono dan Jatipuro Karanganyar yang sudah puluhan tahun mencari rejeki di ibukota Sulawesi Barat tersebut. Dua diantara orang tersebut dites saat datang di bandara Adi Sumarmo reaktif covid 19. Keduanya telah diserahkan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemkot Surakarta yang telah membantu menerima dan menyerahkan ke Pemkab Karanganyar. Selanjutnya akan diserahkan ke kecamatan untuk diantar pulang masing masing ke rumah,” papar Asisten Pemerintahaan Pemkab Karanganyar, Sundoro mewakili Bupati Karanganyar.
Mantan kepala Dishub tersebut, menambahkan untuk yang reaktif ditangani oleh DKK. Sedangkan yang lain, Sundoro mewanti wanti setelah pulang untuk tetap menjalankan protokol kesehatan. Tidak usah berpelukan dengan keluarga. Cukup saling sapa dan jaga jarak agar tetap menjaga protokol kesehatan karena saat ini Karanganyar tengah melaksanakan PSBB. “Jika keluarga mau berkunjung secara bergantian dan tetap jaga jarak. Kita tidak ingin kasus covid 19 makin tinggi,”imbuhnya.

Pada kesempatan itu, Pemkab Karanganyar memberikan bantuan paket sembako dannuang Rp 500 ribu per jiwa. Diharapkan mereka bisa bangkit lagi dan berusaha kembali.

Kepala Dinas Sosial, Waluyo Dwi Basuki menambahkan mereka akan tetap dipantau. Baik secara psikoligis dan kesehatannya. Selanjutnya akan diserahkan ke camat dan kades untuk dipulangkan ke rumah masing-masing.

Sementara Wisno, 37 salah satu eksodus dari korban gempa Mamuju, mengatakan ada 4 orang anggota keluarganya. Dia merantau di Mamuju sudah 16 tahun berada di ibukota Sulawesi Barat. Dia berjualan bakso dan masih sewa rumah. Kondisi rumahnya retal retak dan takut untuk masuk. “Jujur saya masih trauma dengan gempa di Sulawesi Barat tersebut. Saya terima kasih kepada pemerintah yang bisa membantu pulang kami dengan gratis,” imbuh Wisno. (hr/adt)