Ada 82 Jurnalis Yang “Merumput’, Diskominfo Kabupaten Malang Rangkul Semua Media (Seri 5)

Rudi Hartono (paling belakang bertopi) sedang menanyakan hubungan Diskominfo Kabupaten Karanganyar dengan awak media

KARANGANYAR – Pada kesempatan kunjungan di Diskominfo di Kabupaten Malang, wartawan Radar Solo Rudi Hartono tertarik dengan statmen Kadinas kominfo, Aniswaty Aziz. Soal wartawan di Kabupaten Malang yang berjumlah 82 jurnalis, baik media cetak, elektronik, dan online. Bagaimana pola hubungan Diskominfo Kabupaten Malang dengan para jurnalis tersebut.

“Dari 82 jurnalis tersebut apakah juga sudah diverifikasi. Diskominfo mempunyai alat sendiri untuk verifikasi atau bagaimana. Sebab jurnalis harus jelas mediannya,” ujar Rudi Hartono.

Dia menambahkan bagaimana dalam pelibatan pemberitaan dana cukai rokok atau yang lainya. Apakah adil dan merata atau bagaimana. “Sebab adil tidak harus sama,” tambahnya.

Kepala Diskominfo Kabupaten Malang, Aniswaty Aziz mengatakan memang di Kabupaten Malang ada 82 wartawan. Baik itu, wartawan media cetak, online dan elektronika. Pihaknya tetap merangkul semua wartawan tersebut. Namun demikian, memang dalam pelibatan informasi memang diutamakan jurnalis yang oplahnya atau sebaran media tinggi. “Kami punya verifikator, anggaran dikeluarkan distribusi dengan tepat. Ada penggolongan media misalnya ada harian, bulanan, online. Intinya, kami merangkul semua media yang ada, tentunya adil tidak harus sama,” ujar Kadinas Kominfo Kabupaten Malang yang baru menjabat 6 bulan.

Ditambahkan Kepala Bidang Komunikasi Diskominfo Kabupaten Malang, Adi Supramono mengatakan untuk verifikasi, pihaknya mengacu pada media yang tertera di dewan pers. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan wartawan yang belum terverifikasi dewan pers akan tetapi sudah berbadan hukum. Tentu, menurut Adi yang dilihat adalah kemanfaatnnya. “Biasanya awal tahun media memasukkan proposal. Kami himpun, diverifikasi dan kelengkapannya atau legalitas,” tambahnya.

Selanjutnya, dipilah media mingguan, bulanan, dan oplahnya seberapa besar. Adi mengatakan tidak semua media rata sebab adil tidak harus sama. Media besar dengan oplahnya banyak tetap menjadi prioritas utama. (bersambung)