Kelola Limbah Untuk Jadi Berkah dan Bisa Membawa Rupiah

Bupati Karanganyar, Juliyatmono memberikan sambutan dalam acara lauching pemanfaatan limbah rumah tangga untuk budidaya ikan dan tanaman

 

 

KARANGANYAR – Daleman, RT 03 RW 9, Lingkungan Manggung, Kelurahaan Cangakan, Kecamatan Karanganyar patut diacungi jempol. Sebab di lokasi tersebut Pemkab dan masyarakat setempat membuat sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik- Terpusat (SPALD). Yakni menampung limbah rumah tangga untuk budidaya ikan dan untuk menyiram tanaman.

SPALD-T yang dibangun di atas tanah kas desa itu dapat menampung air limbah yang dihasilkan dari rumah warga sekitar. Air limbah tersebut lantas diolah dan disaring sehingga ketika dibuang ke sungai tidak mencemari lingkungan. Di tempat pengolahan berukuran 12 meter x 30 meter itu juga dikembangkan budidaya tanaman sayur seperti cabai, terong, kangkung serta kolam lele.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono menambahkan pentingnya pengelolaan sanitasi. Adanya SPALD-T ini dapat menjadi percontohan di wilayah lain seperti daerah kumuh dan perumahan. Selain untuk mengolah limbah, juga dilakukan pendataan lingkungan sehingga terlihat rapi dan indah.  “Saya berharap SPALD ini bisa menjadi contoh untuk kawasan kumuh atau perumahan, ini bagus jadi model,” paparnya saat peresmian SPALD-T, Jumat (6/11).

Ditambahkan, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Karanganyar, Agus Cipto Waluyo mengatakan IPAL ini kapasitasnya 150 KK dengan 53 saluran rumah (SR).  Anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2020 senilai Rp 490 juta,” paparnya

Wakil Ketua Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KSM) Manggung Jaya, Suratno menjelaskan, pembangunannya SPALD-T dilakukan selama tiga bulan. Dengan adanya pengolahan limbah ini, air limbah rumah tangga dari warga sekitar akan disalurkan dan diolah di SPALD-T. “Proses penguraiannya sekitar 3 minggu sampai 1 bulan, baru aromanya hilang (tidak berbau),” ucapnya.

Dia mengungkapkan, selain untuk mengolah limbah, di tempat tersebut juga dimanfaatkan untuk menanam sayur serta budidaya lele. Lanjut Suranto, air limbah yang telah diolah belum diuji di laboratorium. “Pendamping akan mengambil sampel untuk diuji ke laboratorium DLH supaya tahu standar baku mutunya,” jelasnya.

Sementara Donny Prabawa dari Rumah Revolusi Mental Indonesia ikut membantu melakukan optimalisasi IPAL di Manggung Sebab sebelumnya IPAL Manggung masih trouble dengan adanya bau dari keluaran IPAL. Selanjutnya, Donny melakukan treatment dengan microbakter pengurai  sehingga air nya terurai sempurna. “Setidaknya IPAL Manggung bisa menjadi percontohan kedepannya dalam membangun IPAL komunal domestik di Kabupaten Karanganyar,” tambahnya. (hr/adt)