Inovatif, Cara Puskesmas Kebakkramat I Berdayakan Pasien Riwayat Gangguan Jiwa

Kepala Puskesmas 1 Kebakkramat, Retno Suwartuti memberikan paparan tentang program Desa Siaga Sehat Jiwa kepada wakil bupati Karanganyar, Rober Cristanto di aula puskesmas setempat (06/03)

 

 

KARANGANYAR – Apa yang dilakukan Puskesmas Kebakkramat 1 di Kecamatan Kebakkramat sangat mulia dan inovatif. Puskesmas yang berada di jalan raya Solo-Sragen tersebut membuat program Bebaskan Belenggu Gangguan Jiwa (BABE GUWA) untuk memberdayakan masyarakat yang memiliki riwayat gangguan jiwa. Program yang sudah berjalan sejak 2018 lalu, kini telah merekrut dan memberdayakan sekitar 10 orang yang memiliki riwayat gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Kebakkramat I.

“Selama ini saat ada jadwal kontrol ke rumah sakit jiwa ya kontrol. Besoknya begitu lagi.

Tapi di rumah selama ini nglangut (tidak ada kerjaan). Nah kami punya ide pemberdayaan pasien dengan riwayat gangguan jiwa,” kata Kepala Puskesmas Kebakkramat I, Retno Sawartuti Jumat (06/03) usai sosialisasi Desa Siaga Sehat Jiwa (DSDJ) di Puskesmas setempat.

Dia menambahkan sampai saat ini jumlah warga yang memiliki riwayat gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Kebakkramat I terdeteksi sekitar 45 orang. Secara bertahap pihaknya akan merekrut mereka dengan harapan kedepannya dapat produktif di lingkungan masyarakat. Saat ini sudah ada 10 orang yang bisa direkrut. “Yang sudah menjalani perawatan okupasi 10 orang. Mereka yang sudah bisa diajak komunikasi. Kalau yang masih diam (belum bisa diajak komunikasi) kita tunggu dulu,” terangnya.

Program yang dilakukan itu untuk memperdayakan pasien riwayat gangguan jiwa agar tidak kambuh lagi adalah mengolah pupuk organik, menanam sayuran organik, membuat tas dari bahan bekas, dan budidaya lele. “Yang sudah jalan itu mengolah sisa makanan jadi pupuk organik, di sini kan rawat inap. Sisa sayuran dipotong-potong dijadikan pupuk. Membuat tas (dari plastik bekas) dan menaman sayur organik seperti kubis dan sawi. Kalau budidaya lele masih tahap merintis. Di belakang ada tiga kolam,” imbuhnya Kepala Puskesmas yang pernah mendapatkan penghargaan karena programnya Ojek ASI.

Retno mejelaskan, konsumen yang membeli barang dan sayur hasil produksi tersebut sampai saat ini masih sebatas di lingkup puskesmas saja seperti karyawan atau saat ada kegiatan di puskesmas.

Harga tas senilai Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu  Sedangkan pupuk ada yang Rp 7.500 dan Rp 10.000.

Sementara Wakil Bupati Karanganyar, Rober Cristanto mengapresiasi program yang dilakukan Puskesmas Kebakkramat 1. Pasalnya apa yang dilakukan tidak semua orang memikirkannya. Program tersebut sangat inovatif dan bisa membantu pasien riwayat gangguan jiwa. “Saya lihat ada tanaman obat plus persiapan ternak lele bagi pasien yang riwayat gangguan jiwa. Kita akan dukung dan suport terus agar program ini bisa dicontoh puskesmas yang lain,” tandasnya. (hr/adt)