Ratusan Warga Berebut Gunungan Dalam Napak Tilas Perjanjian Giyanti di Karanganyar

Sekda Karanganyar Sutarno saat memberikan sambutan dalam acara ceremonial Perjanjian gianti di Jantiharjo

Karanganyar – 14 Februari 2020

Ratusan warga berebut gunungan berisi hasil bumi, arum manis dan brondong dalam acara napak tilas Perjanjian Giyanti di Kelurahan Jantiharjo Kecamatan/ Kabupaten Karanganyar, Kamis (13/2/2020) malam.

Napak tilas ini merupakan upaya memperkenalkan dan melestarikan Perjanjian Giyanti yang berlangsung pada 13 Februari 1755 silam. Dimana dalam perjanjian tersebut menandai pembagian dua wilayah yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Jalan kampung sepanjang sekitar 300 meter di padati bazar jajanan serta dihiasi arum manis yang digantung. Tampak ratusan pengunjung memadati kawasan situs Perjanjian Giyanti sebelum dilangsungkan kirab gunungan.

Tepat saat prosesi persembahan gunungan, pengunjung yang didominasi warga sekitar tak canggung berdesakan demi mendapatkan arum manis dan hasil bumi. Tradisi tahunan tersebut menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga Kerten Jantiharjo maupun sekitarnya.

Meski telah lanjut usia, warga Kerten RT 2/9, Muhammad Sujak (72) rela berdesakan dengan warga lainnya demi mendapatkan hasil bumi dan arum manis yang disajikan dalam empat gunungan.

Jerih payahnya berdesakan dikerumuman warga membuahkan hasil. Perempuan itu tampak mendekap beberapa jagung dan cabai yang didapatkannya setelah berebut gunungan dengan warga lainnya.

“Ini dapat cabai, jagung dan kentang. Saya ikut karena kepingin. Setiap tahun pasti ke sini tapi tidak selalu ikut rebutan,” katanya sembari mendekap hasil gunungan.

Petugas Linmas, Parno (40) mengungkapkan, perayaan tahun ini lebih ramai dibandingan tahun lalu. Parno terlihat kerepotan mengamankan jalannya prosesi berebut hasil gunungan.

“Lebih mudah tahun lalu. Tahun ini lebih ramai. Kalau kemarin kan berebutnya di luar (jalan kampung), ini di dalam dan ruangannya sempit,” terangnya.

Lurah Jantiharjo, Agus Cahyono menyampaikan, serangkaian acara napak tilas Perjanjian Giyanti berlangsung mulai 8-13 Februari 2020. Perayaan ini dikemas dengan adat budaya Jawa dilengkapi iringan musik karawitan serta tari gambyong.

“Ada sekitar 2.000 arum manis yang dibagikan kepada warga. Arum manis itu merupakan hasil UKM warga sekitar. Ada empat gunungan yang disajikan, dua hasil UKM warga sekitar dan sisanya berisi hasil bumi,” ujarnya.

Dijelaskannya, gunungan tersebut merupakan wujud syukur dari masyrakat. Ibarat apa yang dihasilkan masyarakat dibagikan kembali kepada masyarakat.

Ia berharap melalui kegiatan ini bisa memperkenalkan dan melestarikan situs Perjanjian Giyanti di Kelurahan Jantiharjo.(Ard/Tgr)