Sepatu Buat Lari Wisnu Pinjam Bapaknya

 

Wisnu, pelajar SMPN 4 Karanganyar yang sempoyongan mencapai garis finis tengah berbaring di rumah sakit dan dijenguh teman-temannya

 

 

KARANGANYAR – 28 Februari 2019

Wisnu, pelajar SMPN 4 Karanganyar yang ‘sempoyongan’ untuk mencapai finis dalam lomba lari 10 K HUT DPRD Karanganyar ke 68 kini viral di media sosial. Semangat pelajar kelas 8F untuk mencapai garis finis sungguh luar biasa.  Meskipun badannya sudah lemas, tenaga berkurang, nafas sudah ‘ngos-ngosan’ dan terjatuh tiga kali namun dia berhasil mencapai garis finis di urutan pertama.

Sungguh capaian yang luar biasa dari dari atlet pemula yang baru kali pertama menjajal 10 K. Sebelumnya, wisnu hanya ikutan lomba lari di 100-200 meter saja. Namun bakat Wisnu dibidang atletik sudah terlihat sejak kecil. Dari SD, anak Purn TNI Sutardjo sudah memenangkan lomba lari tingkat kecamatan Tasikmadu. Kemudian, masuk ke Porda tingkat Kabupaten dan sebagai juara 3. “Badannya lemas dan gak kuat, tapi saya lihat garis finis di depan saya nekat. Apalagi guru saya terus menyemangati,” papar Wisnu yang masih terbaring lemas di ruang IGD RSUD Karanganyar.

Begitu masuk garis finis, Wisnu sempat diberikan bantuan pernafasan dengan alat dari rumah sakit daerah. Namun karena nafasnya tidak teratur, tim medis segera melarikan ke RSUD Karanganyar. Keesokan harinya dan saat dijenguk, Wisnu tengah berbaring di IGD nomor 6 B. Meski demikian, Wisnu sudah dapat berbicara namun badannya tampak lemas. Alumnus SD 2 Pandeyan memakai baju warna kombinasi kuning dan hijau serta celana biru. Dia ditemani kedua orang tuanya dan kakaknya. Tidak selang bantuan pernafasan di hidungnya. Namun pada tangannya masih terlihat selang infus menempel. Dia sudah terlihat tersenyum dan berbicara dengan lancar. Hanya saja, suaranya sangat pelan.

Ditanya mengapa kondisi bisa drop saat memasuki garis finis?, Bocah laki-laki yang ikut estra basket di sekolah ini mengaku malam harinya terbangun dan tidak bisa tidur. Dia baru tertidur usai pukul 24.00 malam. Paginya bangun seperti biasa pukul 05.00 dan sudah melakukan pemanasan keliling di rumahnya. Kemudian berangkat ke sekolah dan diantar gurunya menuju tempat star lomba lari 10 K di depan gedung DPRD Karanganyar. Rencananya pukul 07.00 namun molor hingga 07.30 baru diberangkatkan. “Saya memang punya penyakit sesak nafas atau asma. Makanya dengan olahraga lari ini, saya berharap penyakit sesak nafas bisa sembuh,” ungkap Wisnu.

Kenapa tidak ikut atletik di sekolah ? Pertanyaan itu langsung dia jawab Wisnu di sekolah tidak ada ekstra atletik. Yang ada, menurutnya adalah bola basket. Mau tidak mau, dia mengikuti kegiatan ekstra basket. Lomba lari 10 K ini didaftarkan ibu guru olahraga SMP 4, Mulyani. Rencana didaftarkan dengan jarak yang lebih pendek, namun karena sudah ditutup beralih ke lari 10 K. “Tidak ada target dari ibu guru karena hanya buat pengalamaan saja. Namun saya justru terpancing untuk berbuat yang terbaik,” ungkap Wisnu.

Tidak berselang lama, semua rekan-rekan satu kelasnya menjenguk Wisnu. Rizal, salah satu temannya mengakui bahwa Wisnu hebat. Dia mampu menginspirasi untuk tidak pernah menyerah mencapai garis finis. “Saya lihat jatuhnya Wisnu di video yang sudah beredar luas di masyarakat sebanyak 3 kali. Namun dia terus bangun sampai mencapai finis meski harus sempoyongan,” ungkap Rizal.

Menurut Rizal orangnya memang penuh semangat dan pantang menyerah. Jika bidang olahraga Wisnu juga jago. Dalam permainan basket, dia selalu menjadi andalan teman-teman. Hal senada juga disampaikan ayahnya, Sutardjo. Namun saat mengikuti lomba lari 10 K tersebut Sutardjo tidak bilang ke ayahnya sehingga tidak tahu. “Saya dikabari gurunya jam 10.00 jika Wisnu masuk rumah sakit karena mengikuti lomba lari,” papar Sutardjo.

Meski kaget, Sutardjo mengaku bangga karena sudah berbuat yang terbaik. Anaknya tidak pernah menyerah meski harus jatuh tiga kali. Namun demikian, ayah dua putra ini meminta jika ingin mengikuti lomba harus latihan dulu. Klau lombanya misal 10 K, maka latihan larinya harus lebih dari 10 K, supaya terbiasa dan bisa juga mengatur irama nafas. Sehingga tidak harus dilarikan ke rumah sakit. Kuncinya hanya latihan dan latihan sehingga akan menjadi juara. (hr/adt)