Kunjungan kerja Pemkot Kendari disambut pejabat Pemkab Karanganyar

Kominfo
Asisten II Siti Maesaroch saat menyerahkan cindera mata dari Kabupaten Karanganyar kepada Plt Walikota Kendari Sulawesi Tenggara saat melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Karanganyar dan disambut di ruang Anthurium Rumah Dinas Bupati, Kamis(22/11)

Karanganyar – 22 November 2018

Pemerintah Kota Kendari dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar menggunakan bantuan nonpemerintah untuk menuntaskan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Berbagai inovasi kerjasama dengan mitranya terbukti efektif menyiasati dana terbatas.

“Pada 2017 kemarin, APBD mengalokasikan dana pembuatan jamban Rp 9 miliar. Ini jumlah yang besar dan menyemangati tim menuntaskan masalah sanitasi,” kata Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Baperlitbang) Karanganyar, Muh Indrawanto di hadapan peserta kunjungan kerja Pemkot Kendari di rumah dinas bupati, Kamis (22/11).

Dalam forum tersebut dipaparkan data sanitasi yang disusun Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) secara periodik, dimana tersisa 5.885 rumah tanpa jamban. Meski demikian, bukan berarti mereka buang air besar sembarangan (BABS).

“By name by address rumah tangga tanpa jamban terdata tiap tiga bulan. Akses sanitasinya melalui perjanjian dengan tetangga terdekat yang berjamban. Jadi, bisa numpang BAB. Apabila itu orang mampu, didorong membuat jamban secara mandiri,” kata Sekretaris DKK, Fatkhul Munir.

Asisten II Sekda Pemkab Karanganyar, Siti Maesyaroch menghadirkan kelompok kerja (Pokja) STBM dari pemerintah dan mitranya dalam forum itu. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Karanganyar merupakan salah satu penyokong utama. Pada pembangunan sanitasi masyarakat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menjalankan pesanan sedot tinja yang dibiayai dana umat. Pemkab juga menerima CSR Bank Jateng serta PLN terkait jamban bagi MBR. Sedangkan Wakil Ketua Baznas Karanganyar, Iskandar mengatakan penyaluran dana umat diselaraskan program pemerintah bagi kesejahteraan masyarakat.

“Baznas ikut membantu menuntaskan lima bidang pembangunan Karanganyar. Jambanisasi masuk pengentasan kemiskinan. Dialokasikan Rp 100 juta untuk sedot tinja 400 masjid. Teknisnya di DLH, uangnya dari Baznas,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kendari, Rahminingrum mengatakan problem sanitasinya mirip dengan Karanganyar. Yakni seputar kurangnya pengetahuan jamban sehat. Tak sedikit keluarga di Kendari BAB di jamban, namun tak memiliki septictank.

“Pembuangan akhirnya di sungai,”katanya.

Plt Wali Kota Kendari, Sulkarnain mengatakan Kabupaten Karanganyar pantas dijadikan rujukan pengelolaan STBM. Apalagi, Karanganyar menyandang predikat ketiga terbaik nasional untuk pengelolaan STBM. Pada layanan lumpur tinja terjadwal (L2T2), ia menawarkan opsi subsidi silang.

“Saya itu enggak suka yang gratisan. Benefitnya dulu dikejar. Misalnya, L2T2 ke swasta dimaksimalkan. Baru kemudian sebagian hasilnya untuk melayani MBR. Programnya jalan, tapi nonAPBD. Untuk pembuatan septictank, kami memiliki skema kredit tanki kedap air,” katanya.(Ard/Tgr)