Arsip tulisan dengan penanda: Bengawan Solo

433 Mahasiswa UTP Ditarik dari Lokasi KKN

Karanganyar, 16 Januari 2017

Penarikan sejumlah 433 mahasiswa KKN Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta yang tersebar di tiga puluh desa di tiga Kecamatan yakni Kecamatan Jatiyoso, Jumapolo dan Matesih secara resmi dilakukan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Senin (16/01/2017).

Baca

Pintu Waduk Dibuka untuk PLTA

Pintu Waduk Gajah Mungkur dibuka untuk pembuangan air ke turbin penggerak generator PLTA. Hal tersebut dilakukan seiring menyusutnya ketinggian air  Bengawan Solo wilayah Jurug dengan debit air 26 meter kubik per detik. Sedangkan empat pintu pembuangan air belum satu pun yang dibuka. Ketinggian muka air di waduk secara berangsur naik, karena air hujan hari Minggu masih ada yang baru sampai di area waduk. Pada pukul 14.00 WIB, elevasi pada 131,12 meter di atas permukaan laut. Masih jauh dari 135,3 meter saat pintu harus mulai dibuka secara berangsur. “Mulai Senin (2/1) sore, untuk aliran menuju PLTA sudah mulai dibuka karena di hilir air sudah surut. Inflow ke waduk  masih terus bertambah sejak hujan Minggu (1/1). Meski dibuka, penambahan air di hilir tidak signifikan. Untuk empat pintu waduk semua masih ditutup. Tinggi muka air pukul 09.00 WIB, 130,89 meter dan pukul 14.00 WIB 131,12,” jelas Winarno Susiladi, Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) IV Perum  Jasa Tirta I Bengawan Solo, Selasa (3/1). Selain pemenuhan untuk menggerakkan turbin, air yang dikeluarkan dari pintu bawah itu juga untuk kepentingan air minum dan industri, sesuai standar teknis yang telah ditetapkan. Jika ketinggian muka air di Jurug masuk level siaga merah lagi, maka akan ditutup lagi. Sementara itu, menanggapi banjir, Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengatakan sudah bukan masalah baru. Harusnya pemerintah daerah dan masyarakat memulai penanggulangan sejak awal. “Sama-sama mari normalisasi irigasi, gorong-gorong. Buat embung, waduk, dan galakkan penghijauan.  Jangan kalau banjir baru semua bengok-bengok,” tandasnya di sela-sela kunjungan di Wonogiri, Selasa (3/1). Menteri Pertanian Suswono mengatakan untuk antisipasi area pertanian yang sering digenangi air banjir, pihaknya sudah memulai melakukan pemetaan. Dengan itu diharap dampak banjir terhadap produksi pertanian bisa ditekan. “Sudah mulai kami petakan. Menurut BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), di tahun 2012 hujan tidak merata di Indonesia. Meski iklim normal, tapi cuaca ekstrem. Perubahan cuaca mendadak ini bisa mengakibatkan angin puting beliung sehingga merusak padi. Di wilayah lain banjir yang dominan. Di bulan Februari mulai panen, sementara Januari curah hujan paling tinggi. Untuk antisipasi, salah satunya dengan memberikan alat pengering bagi kelompok tani,” katanya.