Wanita dan Makna Emansipasi

Wanita dan Makna Emansipasi
Oleh : Umi khusnul khotimah

Bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan belum lama ini memperpanjang daftar terorisme di Indonesia. Pihak-pihak yang diduga terlibat, kemudian dicari dan diburu keberadaannya. Menurut hasil penyelidikan, istri korban pelakulah yang pertama kali memperkenalan pelaku dengan pemahaman radikal ini. Kasus lain seperti, peristiwa pengeboman tiga Gereja di Surabaya pada tahun 2018 lalu, juga melibatkan keluarga sebagai pelakunya. Pasangan suami istri dan empat anak mereka, yang beberapa diantaranya masih dibawah umur.

Pembahasan mengenai beberapa kejadian tersebut menjadi melebar, mulai dari negara yang kecolongan dari pelaku teror, intoleransi, sampai dengan keberadaan perempuan dalam pusaran terorisme. Topik yang terakhir inilah yang menjadi bahan pembahasan selanjutnya.

21 April dan 22 Desember menjadi moment yang tepat guna menggaungkan pesan emansipasi wanita. Hari kelahiran R.A. Kartini dan perayaan hari ibu inilah yang digunakan oleh media, masyarakat, maupun lembaga untuk mengingat kembali akan derajat dan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Kisah hidup Kartini yang mengispirasi dalam memperjuangkan hak wanita sering kali menjadi tema pembahasan, entah berapa ratus kali hal itu dibicarakan. Media juga tidak kalah hebohnya. Menampilkan wanita-wanita luar biasa masa kini menjadi andalan pemberitaan disetiap tahunnya. Seorang ibu yang berprofesi sebagai sopir, wanita berprestasi dari ranah politik, sampai dengan artis yang juga dijadikan contoh Kartini masa kini.

Sosok Kartini menjadi tokoh yang sering atau bahkan wajib disebut jika membahas mengenai emansipasi wanita khususnya di Indonesia. Pemikiran dan sikapnya yang dinilai out of the box terhadap kondisi sosial masyarakat Jawa pada saat itu memang patut dikaji dan diteladani. Hidup di lingkungan dengan adat dan tradisi Jawa yang masih sangat kuat membuatnya harus rela menerima pelbagai keterbatasan-keterbatasan. Sistem pingit yang masih diterapkan kepada anak perempuan saat itu, memaksa Kartini untuk berhenti sekolah. Membaca buku milik kakaknya Sosrokartono dan kegemarannya berbalas surat dengan kawan-kawannya dari Eropa. Membuat pemikiran dan pandangan hidupnya menjadi terbuka.

Pendidikan bagi kaum wanita, kesempatan bekerja, hak politik dan mengemukakan pendapat di muka umum, memang telah didapat oleh perempuan pada zaman sekarang ini. Namun, isu-isu yang berkaitan tentang feminisme juga masih terus berjalan dan dibicarakan. Mulai dari sulitnya perempuan memangku jabatan dilembaga pemerintahan, ketidakadilan di tempat kerja, hingga ketidakpercayaan kepada perempuan di ruang publik. Sikap-sikap seperti itu memang tidak benar-benar bisa dihilangkan dari lingkungan patriarki seperti di Indonesia ini. Entah disadari atau tidak nyatanya di era modern seperti sekarang ini wanita masih dipandang sebagai manusia kelas dua.  Walaupun telah ada banyak lembaga dan organisasi yang mengkhususkan diri melindungi hak-hak perempuan.

Keterlibatan wanita di pusaran terorisme, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Seakan-akan menggugah kembali kesadaran bersama akan makna penting emansipasi wanita. Apabila diperhatikan dari kaca mata luar, timbulnya teroris perempuan ini menjadi bukti bahwa kaum hawa sekarang ini telah dapat menyuarakan dan memperlihatkan apa yang menurutnya benar. Akses akan informasi dan pelbagai macam ilmu juga sangat mudah didapat. Walaupun dalam kasus ini, apa yang didapat dan disuarakan oleh seorang yang mebuat kekacaun dan merenggut banyak nyawa orang adalah tidak bisa dibenarkan.

Tetapi benarkan pendidikan bagi kaum hawa dan kebebasan berbicara adalah tujuan emansipasi sebenarnya? Bagaimana dengan fenomena terorisme belakangan ini, yang juga menyeret wanita dalam pusaran pelakunya? Kemudahan yang didapat para perempuan dalam menerima dan mendapatkan ideologi-ideologi radikal tersebut, nyatanya secara tidak sadar telah menempatkan wanita itu sendiri kembali menjadi manusia tingkat dua. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Surat Kartini yang dikirim kepada Prof. G.K. Anton pada 4 Oktober 1902, memuat pendapat dan pengharapan akan pendidikan bagi para perempuan.

“Alangkah bahagianya laki-laki, bila istrinya bukan hanya menjadi pengurus rumah tangga dan ibu anak-anaknya saja, melainkan juga menjadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya, menghayatinya bersama suaminya. Mohon dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukanlah karena kami hendak menjadikan perempuan manjadi saingan laki-laki dalam perjuang hidup ini. Kami hendak menjadikan perempuan menjadi lebih cakap dalam melakukan tugas besar yang diletakkan oleh ibu alam sendiri ke dalam tangannya agar menjadi ibu, pendidik umat manusia yang utama. ”

(Surat Kartini kepada Prof. G.K. Anton, Ari P, 2011: 339)

 

Pendidikan di sekolah bagi perempuan adalah pengharapan besar Kartini saat itu. Namun dalam surat yang sama, ia juga menyadari bahwa pendidikan di sekolah saja tidaklah cukup untuk seorang anak manusia. Ia menceritakan bagaimana pengetehuan luas seseorang tidak sejalan dengan budi pekerti yang dimiliki.

“Sedih hati kami menyadari hal tersebut, tetapi setelah kami selidiki lebih lanjut dan kami cari penyebabnya sampailah pada kebenaran kedua. Bukan saja sekolah yang harus mendidik jiwa anak, tetapi juga yang utama pergaulan di rumah yang juga harus didik. Sekolah mencerdaskan pikiran dan kehidupan di rumah tangga hendaknya membentuk watak anak itu”  

(Surat Kartini kepada Prof. G.K. Anton, Ari P, 2011: 340)

 

Pengetahuan yang dimaksud Kartini bagi kaum wanita sendiri tidak hanya pengetahuan baca, tulis, maupun ilmu esakta saja, melainkan juga pengetahuan mengenai sikap dan moralitas. Pendidikan yang mensinergikan antara sekolah, rumah, dan lingkungan yang digagas oleh Kartini mewujudkan pendidikan yang dinilai lengkap. Pendidikan tidak hanya membuat seseorang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, namun juga membuat manusia dapat memilah dan memilih tindakan yang baik dan tidak baik dilakukan.

Sebagaimana diberitakan Antaranews.com, Yenny Wahid, Diretur The Wahid Institute mengatakan bahwa menurut hasil survei The Wahid Institute. Perempuan yang independen atau mandiri akan semakin sulit untuk masuk atau bergabung dalam kelompok radikal. Perempuan independen yang dimaksud disini adalah perempuan yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Sehingga apabila ada seseorang yang mengajaknya masuk dalam kelompok teroris maka ia akan memiliki banyak pertimbangan dan memerlukan argumentasi yang kuat dan jelas. Sehingga perempuan seperti ini tidak akan mudah untuk menerima ideologi atau pandangan baru yang sekiranya tidak jelas. “Sekarang Mereka sudah jadi eksekutor. Loyalitas dan kepatuhan yang ada pada perempuan ini dimainkan oleh teroris,”tutur Yenny.

Kesetaraan akan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan tidak hanya berupa tindakan yang dapat dilihat saja, seperti kebebasan wanita keluar rumah, bekerja, berpolitik, sekolah dan lain sebagainya. Hal itu seakan-akan tidak bermakna apabila dalam pemikiran dan pengambilan keputusan, wanita itu sendiri masih saja manut lan nurut. Sikap seperti itu akan semakin menjauhkan wanita dari cita-cita emansipasi. Pemikiran yang dibarengi oleh tindakan kritis inilah yang dapat dikatakan inti dari emansipasi wanita itu sendiri. Memperbanyak bacaan, dan bersosialisasi dengan banyak orang menjadi jalan bagi pemikiran yang maju dan terbuka. Sebab, Kartini juga melalakukan hal yang sama.