Pentingnya Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini

Pentingnya Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini
Oleh : Enggi Ria Ristama
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

 

Orang tua memiliki peran penting dalam pendidikan seks untuk anak. Kurangnya pemahaman tentang bahaya laten yang ada disekitar membuat anak menjadi mangsa para predator seksual. Kasus kekerasan seksual pada anak (child abuse) dapat dilakukan oleh  orang asing hingga orang- orang terdekat dengan anak. Sehingga  orang tua memiliki peran penting dalam pemahaman akan pendidikan seks usia dini pada anaknya. Hal ini sangatlah penting mengingat kejahatan seksual makin marak dan korbannya dimulai dari anak-anak usia 3 tahun. Permasalahannya, orang tua dalam memberikan pemahaman tentang seksualitas masih dirasa  sungkan untuk di bicarakan hal ini dikarenakan pembicaraan seks masih dianggap hal yang tabu, dan belum perlu diberikan kepada anak-anak sejak dini.

Tujuan pendidikan seks bukan hanya mempelajari tentang aspek biologi atau sosial tetapi menyangkut masalah psikologis, budaya, moral, etika dan hukum. Tujuan lain dari pendidikan seks tidak hanya mencegah dampak negative dari perilaku seks di usia dini, tetapi lebih menekankan pada kebutuhan akan informasi yang benar dan luas tentang perilaku seks serta berusaha memahami seksualitas manusia sebagai bagian penting dari kepribadian yang menyeluruh. Tanpa pengetahuan yang memadai, anak dengan mudah dijadikan korban oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk itulah sangat perlu pendidikan seks yang tepat untuk anak-anak agar mereka mendapat bekal memadai.

Pendidikan seks merupakan upaya memberikan informasi atau mengenalkan (nama dan fungsi) anggota tubuh, pemahaman perbedaan jenis kelamin, penjabaran perilaku (hubungan dan keintiman) seks, serta pengetahuan tentang nilai dan norma yang ada di masyarakat berkaitan dengan gender. Pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang seks akan membantu anak memiliki rasa tanggung jawab sejak dini. Orang tua dapat memahamkan anak mengenai diri mereka dengan menggunakan berbagai cara yang di anggap baik untuk dilakukan, peran orang tua memiliki posisi yang strategis sebab memiliki kualitas dan kuantitas waktu yang besar bersama anak.

Hal hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menumbuhkan pemahaman dan pengertian mengenai seksualitas mengutip dari Ilmawati (dalam Listiyana, 2012) yaitu; Pertama tanamkan rasa malu pada anak, rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak walau masih kecil bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Membiasakan anak sejak kecil untuk selalu menutup bagian sensitive. Kedua, menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan. Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan mendasar. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang berbeda yang kelak akan diperankan anak.

Ketiga, memisahkan tempat tidur anak dengan orangtua dan saudaranya. Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang dirinya. Jika pemisahan tempat tidur tersebut terjadi antara dirinya dan orangtuanya, setidaknya anak telah dilatih untuk berani mandiri. Anak juga dicoba untuk belajar melepaskan perilaku lekatnya dengan orang tuanya. Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang  perbedaan jenis kelamin. Keempat, pendidik menjaga kebersihan alat kelamin. Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training) dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam membuang hajat.  Kelima, mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata. Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan mata yang dibiarkan melihat gambar-gambar atau film yang mengandung unsur pornografi. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

Pemahaman seks bagi anak-anak usia dini saat ini menjadi penting, maka penerapannya dalam kehidupan sehari-haridapat dilakuakan dalam bentuk formal, nonformal, maupun informal, menjadi niscaya pula, meski dengan kadar-kadar tertentu sesuai dengan usia sang anak. Dikutip dari Handayani (2008) bentuk pemahaman diri kepada anak usia prasekolah sebagai berikut: Usia 18 bulan hingga 3 tahun, pada usia ini anak mulai belajar mengenali anggota tubuhnya. Saat mengajari anak, ingatlah bahwa memberikan nama yang tepat pada masing-masing anggota tubuh adalah penting. Mengganti nama anggota tubuh dengan sebutan lain justru akan membuat anak berpikir ada yang salah dengan nama asli anggota tubuh tersebut. Oleh karena itu, tidak perlu mengganti istilah penis dengan sebutan “burung”, atau merespon berlebihan ketika dia menunjuk alat kelaminnya, sama seperti cara menyebutkan nama untuk bagian bagian tubuh lainnya. Hal yang juga penting pada usia ini adalah menjelaskan pada anak agar mereka mengerti bagian tubuh mana yang boleh dilihat oleh orang lain, dan mana yang tidak boleh sehingga harus ditutupi dengan pakaian. Usia 4 hingga 5 tahun, pada usia ini anak mulai menunjukkan ketertarikannya pada seksitas dasar seperti organ seks yang dia miliki maupun organ yang dimiliki oleh lawan jenisnya. Anak  mungkin akan bertanya dari mana bayi lahir, ia juga ingin tahu mengapa tubuh laki-laki dan perempuan berbeda.

Anak merupakan generasi masa depan bangsa. Anak harus terus dibina, dibimbing, dan dilindungi agar sehat dan sejahtera baik fisik, emosional, intelektual, social, dan seksuanya. Tanggungjawab orang tua tidak hanya mencakup atau terbatasi pada kebutuhan materi saja, tetapi sesungguhnya mencakup juga kepada seluruh aspek kehidupan anaknya, termasuk didalamnya aspek pendidikan seksual. Dimana pemahaman dan pemilihan metode pendidikan seksual yang tepat akan mengantarkan anak menjadi insan yang mampu menjaga dirinya dari pernbuatan perbuatan yang terlarang dan sadar akan ancaman  serta peringatan dari perbuatan amoral serta memiliki pegangan agama yang jelas.