Rakor Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Kabupaten Karanganyar

Kepala Satpol PP, Kurniadi mendampingi AKBP Catur Gatot E pada acara Rakor Karhutla

KARANGANYAR – Penyelidikan kasus kebakaran hutan Gunung Lawu dimulai. Polres Karanganyar membidik pelaku dari kalangan pembuat arang. 
“Memotong kayu hutan di kawasan itu saja sudah ilegal. Apalagi membuat arang yang memicu kebakaran hutan,” kata Kapolres Karanganyar AKBP Catur Gatot Efendi di Rakor Penanganan Karhutla di Mapolres, Rabu (9/10). 

Polisi mendapati barang bukti berupa cangkul, tampah arang dan lubang bekas pembuatannya di petak 63 RPH Blumbang BKPH Lawu Utara pada Selasa (8/10). Awalnya, polisi hutan melihat asap mengepul di area tersebut. Kemudian tim dari berbagai instansi menuju lokasi di sekitar pos dua jalur pendakian Lawu via Cemoro Kandang. Di sana ditemukan lubang-lubang berisi arang di area berukuran 500 meter persegi. Kuat dugaan, kebakaran pepohonan di sekitarnya akibat aktivitas tersebut. Dengan masih maraknya pembuatan arang, ia meyakini imbauan dan larangan aktivitas tersebut tak dipatuhi. 
“Perlu adanya sosialisasi lebih intensif disertai perubahan perilaku. Utamanya mengganti mata pencehariannya itu,” katanya. 

Kanit 2 Reskrim Polres Karanganyar, Iptu Herawan mengatakan pelaku pembakaran hutan dijerat UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan sanksi kurungan 15 tahun dan denda maksimal Rp 5 miliar.
“Sedang diusut. Siapa pelakunya. Kami sudah mengantongi barang bukti. Dugaannya, mereka tinggal tak jauh dari lokasi membuat arang,” katanya. 
Asisten Perhutani/ka BKPH Lawu Utara Widodo mencatat empat hektare hutan terbakar di lereng Lawu pada musim kemarau kali kali ini. Lokasinya ada di Tengklik dan Blumbang Tawangmangu serta Beruk Jatiyoso. 

“Di Blumbang, penyebabnya pembuatan arang. Sedangkan lainnya belum pasti. Bisa karena putung rokok,” katanya. 
Ia menegaskan patroli dilakukan lebih intensif. Saat mendapati lokasi pembuatan arang, petugas bakal langsung membongkarnya. (in/an)