Wahyu Kliyu Jadi Ikon Budaya Jatipuro

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs. Tarsa yang dalam hal ini mewakili Bupati Karanganyar saat akan melempar apem dalam Kirab Budaya Wahyu Kliyu di depan kantor Kec. Jatipuro di dampingi camat Jatipuro, Sabtu(14/09)

KARANGANYAR – 14 September 2019

Upacara adat Wahyu Kliyu dari Dusun Kendal, Desa Jatipuro bertransformasi menjadi event budaya terbesar di wilayah Kecamatan Jatipuro. Seluruh potensi masyarakat di kecamatan itu tampil saat puncak acara bersih dusun.

Camat Jatipuro Eko Budi Hartoyo mengatakan, pengenalan Wahyu Kliyu ke luar Dusun Kendal ternyata sukses memantik respons positif masyatakat. Bersih dusun yang sebelumnya dirayakan hanya warga Dusun Kendal, kini diikuti seluruh masyarakat sekitarnya di Kecamatan Jatipuro. Bukan sekadar simbolisasi sebar apem, namun juga dimeriahkan pentas ketoprak, wayang kulit, campur sari dan kirab budaya. Keikutsertaan elemen masyarakat di tahun ini juga lebih banyak.

“Wahyu Kliyu itu bukan hal baru bagi warga Kendal. Mereka melakukan ritual bersih dusun itu sudah ratusan tahun. Namun sejak tiga tahun terakhir, kami membawanya keluar. Seluruh desa, institusi, UPT, PSHT, Banser maupun kelompok masyarakat se-kecamatan ikut nyengkuyung,”  Sabtu (14/9).

Event tahunan bertajuk ‘Tradisi Menjawab Globalisasi’ ini diawali persembahan Seniman Karanganyar (Sekar) Jatipuro yang berkolaborasi dengan PSHT di pentas ketoprak dan campursari pada Jumat (14/9). Dilanjutkan kirab budaya pada Sabtu. Sekitar 1.500 peserta dan perwakilan dari 10 desa berjalan kaki mulai Dusun Kendal sampai halaman kantor kecamatan sejauh 500 meter. Mereka mengenakan pakaian adat dan kostum sesuai identitas kelompoknya. Menariknya, tiap kontingen membawa tampah berisi apem dan ubo rampe. 

Sebelum apem disebar, pembaca acara meminta petugas mengumandangkan azan. Tak butuh waktu lama menghabiskan apem di empat gunungan. Beberapa warga nekat mengambil langsung di panggung sedangkan lainnya berharap lemparan apem mendarat di tangan. Selama sebaran apem, seluruhnya mengucap kata ‘wahyu kliyu’ secara berulang. Mereka tak hanya dari Jatipuro saja, melainkan juga warga Wonogiri yang tinggal di perbatasan antarkabupaten itu.(Ard/Tgr)