SPIRIT KEBANGSAAN

Opini

Oleh: Sriyanto

Negara Kesatuan Republik Indonesia genap berusia 74 Tahun. Usia tak lagi muda untuk sebuah negara. Tentu lebih matang jika dibandingkan dengan Sudan Selatan (negara termuda) yang baru menginjak usia 8 Tahun. Jika eksistensi Indonesia dibawa ke ranah sejarah Nusantara, maka jauh berabad-abad lalu telah ada. Mahapatih Gadjah Mada misalnya, telah mengenalkan Nusantara pada tahun 1336. Sebelumnya, Kertanegara Raja Singasari pada tahun 1276 dengan konsep Dwipantara. Dwipa sinonim “nusa” yang bermakna pulau. Sehingga Dwipantara merupakan   “kepulauan antara”, yang maknanya sama persis dengan Nusantara.

Secara bahasa, istilah “Indonesia” dikenalkan pertama oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika diasingkan ke negeri Belanda tahun 1913, ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau.

Negara ini dibangun atas optimisme dan visi yang kuat. Para pendahulu telah menginfakkan seluruh jiwa raga. Demi Ibu Pertiwi dan berkibarnya merah putih ribuan nyawa telah berpulang. Para pahlawan telah berkorban dan nirpamrih. Puncaknya, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi  awal kehidupan berbangsa yang merdeka.

Pidato Ir. Sukarno pra pembacaan teks proklamasi secara lugas menguraikan konvergensi suasana kebatinan seluruh rakyat Indonesia yakni “Merdeka”. Kutipan pidato tersebut “Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita”.

Nilai-nilai sejarah terbentuknya negara ini sebagai penopang sendi kebangsaan. Kebhinekaan menjadi keniscayaan. Namun semangat kebangsaan tak selamanya elok dan tanpa uji.

Sekarang ini, kehidupan bangsa dalam keadaan kronis. Rongrongan amat masif. Disadari atau tidak, perilaku korup mengamputasi hak rakyat. Ujungnya kesejahteraan sosial sulit terwujud. Selain itu, pembangunan masih bersifat jawa sentris mengakibatkan  ketidakmerataan pembangunan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung usai. Diperparah dengan tingginya angka ketimpangan menjadi cermin buruknya distribusi pendapatan.

Bangsa ini merupakan bangsa besar, meski dengan segudang problematika. Anak bangsa, dimanapun berada dan apapun posisinya, idealnya menjadi bagian dari solusi. Negara butuh uluran jiwa raga untuk menyemai nasionalisme dan memperkokoh patriotisme.

Ada satu kutipan yang relevan sebagai wujud komitmen pengabdian kepada bangsa oleh Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy. Pada saat pidato pelantikannya di tahun 1961, ia berucap bahwa Jangan tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu tapi tanyakan apa yang kamu berikan  kepada negaramu.

Dalam menjaga keutuhan negara, semangat kebangsaan menjadi bekal yang mutlak adanya.  Seluruh unsur di negeri ini harus satu pandangan terhadap empat pilar kebangsaan. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Undang-undang Dasar 1945. Jika dianalogikan NKRI sebuah rumah, Pancasila menjadi pondasi, Bhineka Tunggal Ika sebagai keanekaragaman ornamen dan UUD 1945 merupakan adab bagi penghuninya.

Adalah anomali dan ingkar adab jika ornamen rumah dikotori dengan perilaku intoleran, ujaran kebencian, persekusi ataupun rongrongan disintegrasi. Lebih parah lagi, adanya dorongan untuk meruntuhkan pondasi negeri. Hal demikian perlu dihindari karena tidak sejalan dengan semangat kebangsaan.

Riuhnya tarik tambang hingga panjat pinang menghiasi perhelatan peringatan kemerdekaan ke-74. Upacara Proklamasi Kemerdekaan di seluruh penjuru negeri. Rakyat bahu-membahu bersatu padu tanpa membedakan suku, ras dan agama. Kebhinekaan menjadi bukti aset perekat bangsa.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Detik-detik Proklamasi berkumandang, Merah Putih berkibar dengan gagah perkasa sebagai nutrisi nasionalisme dan patriotisme. Jika dada tak bergetar dan tak lagi ada rasa haru, maka pertanda pudarlah semangat nasionalis dan jiwa patriotik kita.

Terhindarnya negeri dari kungkungan penjajah bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Nikmat Tuhan berupa kemerdekaan diberikan melalui perjuangan penuh kegigihan dan ketulusan. Apa yang diraih negeri dimasa sekarang tidak lepas dari jasa para pendahulu. Maka semboyan masyhur yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidato terakhirnya  pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 seakan tak lekang zaman. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah  “Jasmerah”.

Tak ada kata terlambat dalam membangun negeri. Selama seluruh elemen negeri ini satu pandangan terhadap nilai universal empat pilar kebangsaan. Bekal sudah dalam genggaman. Dipadu internalisasi spirit kebangsaan. Terimplementasi dalam kehidupan keseharian. Kehidupan bangsa yang lebih beradab tidak lagi sekedar impian. Rakyat negeri ini cinta perdamaian dan persatuan. Jangan karena tingkah polah segelintir oknum, persatuan negeri ini terkoyakkan. Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia.