Di Penghujung Rembulan Temaram

Cerpen

Oleh : Lina Khoirun Nisa

Sayup-sayup terdengar derai langkah kaki. Menyusuri setiap petak-petak rumah mungil ini yang hanya berukuran tak lebih luas dari kandang sapi 3 ekor. Mengendap-endap, agar tak membangunkan seisi rumah. Ya, itulah kebiasaan Abil kakakku yang harus terbangun dini hari demi mencari ikan untuk dijual. Tapi apa daya, rumah ini terlalu mungil untuk sekadar mendengar setiap tiupan angin yang berhembus.

Sepeninggal kedua orangtua, membuat kami dituntut untuk lebih hidup mandiri. Menyuruh kami untuk keras akan keadaan. Memang beda rasanya. Kesedihan kala itu, masih terasa. Hidup kami berubah, bukan dalam artian fisik. Tapi kami harus kehilangan kedua harta berharga yang kami punya, terenggut nyawanya lima tahun silam. Tak terbayangkan akan peristiwa waktu itu. Disaat menerima piala pertamaku, Kak Abil berlari tergopoh-gopoh sembari menyerukan namaku. Di kejauhan mata, ku bertanya-tanya. Memberi tanda isyarat “Ada apa?”. Ekspresi Kak Abil serta guru yang mendampingiku sewaktu lomba, tak bisa kubaca. Pada akhirnya kutahu, berita apa yang kudapat. Berita segetir ini di saat ku tak sempat memberi piala lomba untuk mereka, Ayah & Ibu.

Kini, ku hanya bersama Kak Abil. Tinggal berdua di bekas kandang sapi Pak Wijaya. Disulap seadanya dengan bantuan warga sekitar. Rumah kami terbakar dan itulah yang merenggut nyawa kedua orangtuaku. Menyisakan puing-puing yang telah menjadi abu. Tak menyisakan sedikit pun. Tapi ku bersyukur, aku masih memiliki Kak Abil, hartaku satu-satunya. Kejadian demi kejadian yang menyayat hati, tak membuatku menyalahkan ketentuan Sang Maha Kuasa. Kuyakin, akan ada hikmah dibalik semua kejadian walau secara tersirat.

Memasuki jenjang perkuliahan, ku salut akan kerja keras Kak Abil selama  ini. Dukungan yang ku terima, memacu semangatku untuk terus belajar menggapai cita-cita. Dapat diterima lewat jalur undangan dengan mendapat beasiswa, tak pernah terbayang dibenakku. Tak henti-hentinya ku mengucap rasa syukur. Hinaan karena impianku terlalu tinggi, justru memacu diriku untuk terus bangkit. Kan kubuktikan, bahwa kesuksesan tak hanya semata-mata mengenai harta. Sudut pandang materi sangatlah subjektif untuk dijadikan sebuah ukuran. Itu semua membuatku mengerti, dan menikmati setiap proses yang kualami walau dipenuhi jalan berliku. 

***flashback off***

Ditengah pekerjaan kantor yang menumpuk, tiba-tiba kenangan masa lalu itu terlintas memenuhi seluruh ruang sel-sel otakku. Membuat perasaan campur aduk di relung hati ini. Memori-memori di kala itu, masih tersimpan rapi serta detail demi detail yang masih teringat dengan jelas. Tak bisa terbuang atau lupa begitu saja, walau dengan kesibukan yang sedang kujalani saat ini.

Sekarang seperti yang kalian tahu, aku berhasil menggapai apa yang ku impikan sedari dulu. Semua mimpi-mimpi yang pernah kutulis, kini telah tercoret tinta merah karena sudah kulalui. Semua karena dukungan Ayah, Ibu, serta Kak Abil. Yang selalu menasehatiku agar tak menyalahi bagaimana keadaan. Memotivasiku agar jangan pernah putus semangat. Hingga peristiwa demi peristiwa yang tak ingin kulalui, mau tak mau harus juga kualami. Ditambah sebulan yang lalu, aku merelakan harta berhargaku satu-satunya pergi. Kak Abil terenggut nyawanya karena tabrak lari. Disaat ia akan menjemputku pada malam purnama. Kuingat bahwa ia telah berjanji untuk kita pergi, dan benar. Ia telah pergi untuk selamanya. Tak kurasakan firasat apapun. Tapi itu tak membuatku untuk lantas menyalahi skenario Sang Kuasa. Dimana setiap apa yang telah Tuhan ukir untuk jalanku, kupercayai itulah yang terbaik. Jika raga kami dapat bertemu, ku ingin memberitahu satu hal. Bahwa sekarang kubisa menjadi apa yang kumau. Membuat mereka yang pernah menertawakan impianku, diam seribu bahasa. Ku tahu, Ayah, Ibu, Kak Abil ada di sana melihatku dengan penuh kebanggaan. Ya di sana, sebuah tempat indah, yang sangat indah. Kulihat mereka tersenyum walau hanya dengan bayang-bayang semu tetapi bisa tertangkap di pelupuk mataku.

Djakarta, 21 September 1998 tepat dimana rembulan itu akan temaram. Terganti sesosok fajar yang ‘kan segera menyingsing.