Petani Bawang Putih Kembali Bangkit, Setelah Sempat Vakum 20 Tahun

KARANGANYAR-  3 September 2019

Bupati Karanganyar, Juliyatmono ikut membantu memisahkan daun bawang dengan bawangnya

Panen raya bawang putih di Desa Segoro Gunung, Kecamatan Ngargoyoso dan Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu membuktikan petani di lereng Gunung Lawu kembali bangkit. Pola kemitraan antarkelompok tani dengan swasta menjadi kunci sukses kebangkitannya. Pasalnya, petani di dua wilayah tersebut sempat vakum atau tidak menanam bawang putih selama 20 tahun.

“Budidaya bawang putih sudah 20 tahun vakum. Pasarannya enggak menjamin, karena harganya sering jatuh. Ongkos tanam dengan hasilnya timpang,” kata Kepala Desa Segoro Gunung, Tri Harjono saat memberikan sambutan pada panen raya di Lapangan Mini Desa Segoro Gunung, Kecamatan Ngargoyoso, Selasa (3/9).

Menurut Tri Harjono kondisi demikian berubah berkat ajakan bermitra dari perusahaan swasta. Para petani diberi secara cuma-cuma bibit bawang putih jenis Tawangmangu Baru dan beberapa jenis lokal lainnya. Lahan digarap 30 hektare dari total tersedia 115 hektare. Pada panen Juli-Agustus dan Agustus-September, dihasilkan rata-rata 18,4 ton per hektare. Sebagian hasil panen dibeli perusahaan dengan harga Rp 18 ribu perkilogram kondisi basah. Pola kemitrannya, yakni 70 persen hasil panen hak petani sedangkan 30 persen dibeli perusahaan. Nantinya, panenan yang dimiliki perusahaan untuk pembibitan. Lebih lanjut dikatakan, lahan potensial bercocok tanam bawang putih selain di desanya juga di Kecamatan Tawangmangu, Jenawi dan Jatiyoso. “Panenan di gudang ada 60 ton. Sudah dibeli semua oleh CV Berkat Putih Abad. Kita jadi bersemangat menanam lagii,” katanya.

Dalam membudidaya bawang putih, perusahaan itu menggandeng kelompok tani diantaranya Nyawiji Rejeki dan Rejeki Makmur. Anggota Poktan Nyawiji Rejeki, Jarwanto mengatakan keuntungannya maksimal. Di lahannya seluas 4 hektare, ia mampu memanen 45 ton. Keuntungan bersih sekitar Rp 7 juta per hektare. Dimulai menanam April, kelompok tani ini memanen pada Agustus. Ia mengatakan, waktu menanam tiap kelompok tani mitra tidak sama. Hal itu disebabkan dropping benih juga tak serentak. “Yang dibutuhkan petani kepastian. Pasti dibeli, pasti harganya dan jaminan keberlanjutan kerjasama dengan rekanan. Dulunya semua takut menanam bawang karena serba tidak pasti,” katanya.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan panen melimpah bawang putih Karanganyar diharapkan mengurangi impor komoditas tersebut. Sebab hasil panen di Ngargoyoso dan Tawangmangu bagus dan melimpah. Sehingga ke depan, pihaknya berharap tanaman bawang putih bisa menjadi unggulan di Kecamatan Ngargoyoso dan Tawangmangu.  (hr/adt)