Pelabuhan Ramai Nan Sunyi

Suasana mudik terjadi tiap tahunnya di Indonesia, tak terlepas juga warga Karanganyar, menjelang lebaran tiba terutama bagi para perantau yang mengadu nasib di kota – kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya dan sebagainya. Mereka ingin segera melepas rasa rindu, kangen, suka cita  dan duka dengan keluarga serta sanak sudara. Tak hanya itu suasana mudik kali ini juga dimeriahkan dengan adanya fasilitas mudik gratis, dimana pada tahun 2019 ini Pemerintah Kabupaten Karanganyar menyedikan 30 unit bus mudik gratis dengan kapasitas 50 tempat duduk per bus (Sundoro, 13 Mei 2019). Warna warni suasana mudik memang sudah biasa terjadi, namun bila kita telaah lebih dalam ada makna menarik di dalamnya.

Tulisan ini akan membahas sedikit mengenai hubungan para perantau dengan kondisi daerah yang terjadi. Para perantau atau kaum urban, sehingga prosesnya disebut ‘urbanisasi’,  adalah berpindahnya penduduk dari desa ke kota, sehingga presentase penduduk yang tinggal di kota meningkat (Daldjoeni, 1998). Perpindahan dari desa ke kota tersebut mengindikasikan bahwa ada yang mendorong dan menarik mereka untuk keluar dari daerah asal menuju ke daerah lain, utamanya perkotaan.

Sumber : slideplayer.info/slide/12060674/

Faktor Pendorong

  • Sangat minimnya lapangan kerja. Masyarakat desa nyaris memiliki satu jenis pekerjaan yaitu bertani, beda halnya dengan lapangan pekerjaan yang ada di kota. Di kota lapangan pekerjaan lebih variatif dan beragam.
  • Terbatasnya sarana prasarana. Kurangnya infrastruktur pedesaan menyebabkan banyak warga masyarakat desa yang memutuskan untuk melakukan urbanisasi karena menurut mereka, di desa masyarakat kesulitan untuk mengembangkan kompetensi dirinya.
  • Tidak cocok lagi dengan budaya setempat. Kebudayaan di pedesaan, umumnya masih kuno dan cenderung mengikat kehidupan masyarakatnya, lain halnya dengan di daerah perkotaan yang cenderung bebas dalam melakukan sesuatu.
  • Alasan pekerjaan, pendidikan, perkawinan, bahkan bencana alam.

Faktor Penarik

  • Kesempatan mendapat pekerjaan dan upah yang lebih baik.Di daerah perkotaan terdapat banyak pekerjaan, baik di sektor perdagangan maupun industri yang langsung dapat menghasilkan uang
  • Kesempatan pendidikan. Masyarakat pedesaan yang sadar akan pentingnya pendidikan akan memilih sekolah dan perguruan tinggi yang ada di kota. Hal ini disebabkan karena fasilitas pendidikan yang ada di perkotaan jauh lebih lengkap dan didukung oleh tenaga pengajar yang profesional.
  • Kondisi lingkungan yg menyenangkan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian maju, sarana dan prasarana hidup di kota-kota pun menjadi semakin lengkap.
  • Ajakan teman, keluarga, ataupun orang lain melalui informasi audio maupun visual (media cetak dan elektronik).

Kita coba menggunakan hitungan sederhana dengan menggunakan sampel Kabupaten Karanganyar. Lebaran kali ini ada sekitar  1.500 orang pemudik, dan tentunya jumlah tersebut belum menunjukkan total keseluruhan dari warga perantauan yang berada di kota, itu baru satu kabupaten saja belum kabupaten di seluruh Indonesia. Bilamana proses urbanisasi tersebut terus-menerus terjadi dan jumlahnya meningkat tiap tahun, maka akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar, katakan saja ketika orang-orang berkumpul secara terus menerus di suatu tempat yang luasnya konstan, yang akan terjadi adalah kepadatan yang luar biasa. Memang bila dilihat sisi positifnya bisa menimbulkan penawaran tenaga kerja dengan SDM yang mudah, murah dan lebih berkulitas, tapi kenyataannya permintaan tenaga kerja yang dibutuhkan tidak selalu sebanding dengan penawaran tenaga kerja yang ada.

Kepadatan yang terjadi akan menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi, seperti halnya antrian kendaraan yang mengular dimana-mana, tak sedikit kaum urban memiliki kendaraan sehingga menambah volume kendaraan di setiap ruas jalan di kota. Selain itu,  kaum urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya mendirikan pemukiman liar di bahu jalan, sehingga kota semakin macet dan hilang keindahannya.

Mereka yang datang ke kota tanpa mempunyai bekal keterampilan dan pendidikan menjadi salah satu penyebab makin parahnya masalah pengangguran dan kemiskinan. Lapangan kerja yang tersedia sudah tidak mampu menyerap tenaga kerja yang ada, efek selanjutnya bagi mereka yang tidak mendapatkan perkerjaan tentu juga tidak akan mendapatkan penghasilan yang tetap, yang terjadi pengangguran, kemiskinan menumpuk di perkotaan. Bisa kita lihat realita yang terjadi mengapa di perkotaan lebih banyak terjadi masalah sosial seperti kekerasan, kejahatan bahkan pembunuhan. Bukan tidak mungkin hal itu merupakan salah satu efek dari banyaknya orang-orang miskin dan pengangguran. Banyak dari mereka ingin hidup mudah tapi malah susah.  Lalu apa yang bisa dilakukan guna mengatasi hal tersebut ?

Bila kita kerucutkan masalah urbanisasi yang terjadi sebenarnya mereka pindah ke kota dengan alasan yang paling banyak ditemui adalah untuk mendapatkan pekerjaan dan upah yang lebih baik dari tempat asal, yang mana pekerjaan dan upah di daerah mereka belum sesuai dengan kebutuhan hidup layak mereka, sehingga mereka harus mengadu nasib ke kota-kota besar. Dari sinilah kita tahu bahwasanya kita sangat membutuhkan usaha untuk membangun daerah masing-masing khususnya mulai dari unit desa.

Kita tidak bisa selalu berpangku tangan menunggu bantuan ataupun program kerja yang ditawarkan pemerintah, pemerintah bukanlah pelayan rakyat tapi pemerintah adalah fasilitator rakyat. Kita butuh orang-orang kreatif yang mampu berkarya, mau berusaha mengelola dan menciptakan berbagai lapangan kerja sendiri, banyak upaya yang bisa dilakukan mulai dari menggalakkan semangat pendidikan generasi muda, menghidupkan UMKM, menghidupkan koperasi desa, dan BUMDes yang keberadaannya kurang terlihat.

Pembangunan desa juga didukung oleh berbagai peraturan diantaranya UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, PP No. 43 Tahun 2014 Pasal 114-120 dan PERMENDAGRI No. 114/2014 Tentang Perncanaan Pembangunan desa. Selain itu usaha pemerintah untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan dibuktikan dengan memberikan fasilitas  dana desa tiap tahunnya. Berdasarkan data APBN 2019 ada sebesar 70 triliun dengan total 74.953 desa penerima, maka bila dihitung tiap desa akan mendapat dana sebesar 933,9 Juta Rupiah tiap tahunnya. Bukan secara cuma-cuma dana yang digelontorkan pemerintah tetapi,  dalam upaya membangun desa menjadi desa yang tumbuh terutama dalam pembangunan infrastruktur dan sosial ekonomi.

Sumber : Buku informasi APBN 2019

Informasi APBN 2019

 Dari desa tersebut diharapkan akan tumbuh ekonomi-ekonomi kreatif sehingga melahirkan lapangan kerja baru dengan memanfaatkan tenaga kerja dan segala sumber daya lokal yang tersedia, sehingga perkembangan desa sebagai pusat pertumbuhan diharapkan kedepannya akan memberikan efek  pada pertumbuhan daerah yang lebih luas yaitu kecamatan, kemudian dilanjutkan kabupaten dan begitu seterusnya.

Oleh : Sigit Budiyarto