MEMBANGUN KEMAMPUAN BERINTERAKSI DI KERETA EKONOMI

(The Story Of Mudik 2019)

Hari Sabtu, 1 Juni 2019, selepas melaksanakan tugas upacara bendera memperingati Hari Lahir Pancasila saya menuju Stasiun Purwosari, melaksanakan apa yang seperti orang-orang sedang laksanakan, ‘mudik’, yah mulih dilik – yang kata orang tua artinya pulang sebentar. Waktu sebentar memang, pemberian cuti hari raya Idul Fitri 1440 H yang cukup singkat karena tanggal 10 Juni 2019 saya harus kembali glidik mengabdi kepada negeri di Bumi Intan Pari. Perjalanan saya dan keluarga memang tidak terlalu jauh, dengan menggunakan moda transportasi umum kereta api perjalanan kami hanya ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Walau terbersit dalam hati ingin pulang membawa kendaraan pribadi , tapi mungkin Sang Pencipta belum mengamanahkan sebuah kendaraan pribadi kepada saya, ya saya nikmati saja, selalu bersyukur dan nikmati saja.   Setibanya saya di stasiun bersama anak dan istri, selesai  mencetak boarding pass saya menuju ruang tunggu stasiun yang siang itu cukup dipenuhi calon penumpang. Kereta ekonomi jurusan Solo – Jakarta Pasar Senen ini merupakan kereta tambahan khusus lebaran, maklum saja sarat calon penumpang, terlebih hari raya Idul Fitri tinggal menghitung hari.

Tak lama menunggu kereta pun datang, setelah berhenti para calon penumpang mulai memasuki gerbong kereta sesuai yang tertera dalam tiket masing-masing, termasuk saya masuk ke gerbong paling belakang kereta, seketika udara panas yang berada di luar berganti menjadi udara yang sejuk dan harum, bagaimana tidak, ada beberapa AC ruang yang di pasang dalam satu gerbong untuk 90an penumpang, beberapa saat mencari akhirnya tempat duduk saya ketemu, disitu telah terlebih dulu ada seorang bapak dan anak laki-lakinya.

“Permisi pak” sapa saya.

“Monggo Mas, Mbak…kursi 12 D, A dan B ya ? Silahkan…” jawab bapak tersebut.

“ Mau kemana Mas ?” lanjutnya.

“ Kebumen Pak…Bapak turun dimana ?” Saya bertanya balik kepada bapak tersebut.

“Saya mudik ke Purwokerto” jawabnya.

Berawal dari sapaan tersebut, percakapan kami pun meluas, diawali bagaimana memesan tiket secara online,  berbincang tentang fasilitas kereta ekonomi yang semakin baik, kemudian bercakap mengenai  fenomena mudik yang semakin mudah dengan jalan tol, pembicaraan tentang pemilihan umum beberapa waktu lalu, dan masih banyak bahan yang bisa untuk kami perbincangkan, tak jarang istripun juga turut berbincang dengan beliau, kebetulan beliau tinggal satu kabupaten dengan saya, dan secara tidak langsung saya tahu dimana beliau tinggal, berbincang mengenai figur-figur politik yang ada  Indonesia beliau begitu bersemangat ketika bebicara mengenai bidang politik, dan presiden hasil pemilihan umum april lalu, dengan berbekal pengetahuan dari media massa dan berita online yang terkadang saya baca, saya pun mencoba mengimbanginya, namun tetap dalam kapasitas netral dan tidak menjatuhkan salah satu pihak, dalam pikiran saya beliau ini adalah seorang Polisi atau TNI, karena begitu fasih dalam hal undang-undang, setiap sampai dan berhenti distasiun yang dilewati pokok pembicaraan kami berubah, hal ini dikarenakan putra beliau yang notabene menjadi pendengar kami menyela dan ikut berbincang menanyakan hal yang tidak dia pahami, terlebih baru pertama kali dia naik kereta, saya memperhatikan putra beliau hampir sama sekali tidak memainkan gawainya selama dalam perjalananan, setahu saya hanya sekali itupun untuk mengambil foto dirinya duduk dikereta untuk memberitahu sanak saudara bila dia sedang menuju kesana, selebihnya setelah gawai masuk kembali ke sakunya dia lebih asik mengikuti pembicaraan kami untuk bertanya dan melihat pemandangan diluar kereta dan sesekali berbincang dengan putri saya. Beralih tema dalam percakapan, ternyata beliau ini juga gemar menulis, dan juga menuangkan ide serta gagasannya dalam media cetak, dan telah dimuat di media masaa, dari situ perbincangan kami kembali asik, karena saya pun hobi menulis dan kami saling berbagi pengalaman bagaimana memulai sebuah tulisan dan mengirimkannya ke media cetak, beliau juga bercerita sedang menyusun kerangka sebuah buku, saya bertanya buku tentang apa dan terjawablah pekerjaannya, ternyata beliau ini adalah seorang pengacara, yang sedang menulis buku tentang hukum dan pemerintahan.  Perbincangan kami ini ternyata cukup mengasyikan karena tak terasa kami telah sampai di stasiun Kutoarjo dan beberapa saat lagi akan tiba pada stasiun tujuan saya. Saya berpamitan kepada beliau dan saling bertukar nomor ponsel untuk berbagi informasi mengenai kegiatan kepenulisan, tak lupa saya tanya namanya dan saya sampaikan nama saya, terkesan menggelikan memang sudah berbincang lama belum kenal nama.

Tentu kejadian di atas tidak terjadi setiap ketika saya naik kereta ekonomi, dimana saya menemui penumpang yang mampu diajak membangun interaksi, nyatanya berbagai karakter penumpang pun saya temui, ada yang apriori dengan penumpang di sebelahnya, ada yang asyik dengan gawainya, bahkan ada yang menutup rapat mulutnya dengan masker dan berkacamata hitam, ada juga yang tidur-tiduran, sengaja saya tidak mengeluarkan gawai saya ketika kali pertama masuk dan duduk ke dalam kereta, karena saya ingin membangun sebuah interaksi dari kereta yang saya tumpangi ini.

Terlepas dari hal tersebut,  sebagai seorang guru pada prinsipnya dituntut memiliki kemampuan sosial dan interpersonal yang di dalamnya mencakup bagaimana membangun sebuah interaksi, karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, berinteraksi juga mampu memperluas pertemanan dan jaringan walau kini interaksi secara langsung telah bergeser karena adanya media sosial, sering saya mendapati semua penumpang menunduk, tertawa geli, mengkerutkan dahi,mereka fokus melihat layar pada gawainya masing-masing, jadi memang benar adanya bila adanya perangkat pintar itu, dunia digital telah mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat, terlebih generasi millenial yang sering saya temui ketika hari minggu perjalanan dari Kebumen ke Solo hari tersebut lebih banyak disi oleh mahasiswa yang kembali ke tempat kuliah mereka, ketika duduk tangan mereka lebih sering memainkan gawai dalam gengamannya, saat saya mencoba menyapa  hanya dijawab satu dua kata lalu menunduk dan membisu, beberapa contoh tersebut seakan menginterpretasikan perkembangan internet menjadikan manusia menjadi anti sosial. Sebenarnya memang bukan kewajiban mereka untuk menjawab dan berinteraksi dengan saya, namun saya sudah merasakan sendiri bahwa berinteraksi di dunia nyata lebih menyenangkan dari pada hanya lewat media. Siapapun dia, termasuk  penumpang – penumpang yang telah berusia senja, yang tiada gawai di tangannya ketika kita berinteraksi akan ada pengalaman baru yang kita dapat darinya.

Karena pada dasarnya tidak ada yang pernah tahu bahwa dengan berinteraksi, disitulah  kita mampu merubah jalan hidupmu, bagi yang belum menikah bisa jadi bertemu jalan jodohmu, yang belum mendapat pekerjaan bertemu jalan pekerjaanmu, dan bagi yang sakit bertemu jalan kesembuhanmu.

Maka teruntuk para guru sejenak lepaskan gawaimu sapa, senyumlah dengan orang-orang di sekitarmu, ajaklah berinteraksi denganmu, dan ketika mereka bertanya apa pekerjaanmu, jawablah dengan kebanggaan saya guru, karena guru adalah orang berilmu tentu tidak akan membiarkan waktu berlalu dengan orang-orang di sekitarmu melihatmu menundukan kepala dan matamu asik dengan gawai mu.

Oleh : Dimas Wihandoko, S.Pd., M.Pd.