Budaya Kita, Budaya Bangsa dan Dunia

Edisi : Ngisis Ringgit

Upacara Ngisis Ringgit yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pelestari Upacara Tradisi (Dharma Budaya Lestari) yang didukung oleh Komunitas Gerakan Berkualitas dan MAYARI Foundation di Pura Sedaleman, Munggur, Karanganyar, Jawa Tengah

Karanganyar, 19 Februari 2019

Ringgit atau yang lebih dikenal dengan istilah “wayang” merupakan peninggalan luhur dari Bangsa Indonesia yang telah ditetapkan oleh PBB melalui UNESCO sebagai salah satu bagian dari warisan dunia dalam kategori Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2003 silam. Nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal (local wisdom) yang terkandung di dalam cerita-cerita pewayangan kerap digunakan untuk menjadi bahan dalam melakukan kritik sosial terhadap masalah-masalah yang sedang terjadi. Meskipun jaman telah banyak berubah, namun apa yang tertuang di dalam naskah-naskah yang mengisahkan tentang cerita pewayangan masih relevan hingga kini.

Upaya untuk melestarikan wayang bukan hanya dilakukan melalui pagelaran wayang saja, namun kita juga perlu merawat wayang-wayang dengan semestinya. Ngisis Ringgit merupakan salah satu warisan tradisi Budaya Jawa yang dikenal untuk merawat wayang kulit. Dalam tradisi ini, wayang kulit yang biasanya disimpan di dalam sebuah kotak kayu, dikeluarkan dan dibersihkan. Tradisi ini rutin dilakukan agar wayang kulit terhindar dari jamur dan dapat segera diperbaiki jika terjadi kerusakan. Tradisi ini dilakukan secara berkala, setidaknya sekali dalam satu tahun.

Pada kesempatan kali ini, MAYARI Foundation dan Komunitas Gerakan Berkualitas berkesempatan untuk mendukung kegiatan Ngisis Ringgit yang dilakukan oleh Paguyuban Dharma Budaya Lestari. Bertepatan dengan hari Selasa Kliwon, Wuku Tambir, 19 Februari 2019, bertempat di Pendopo Pura Sedaleman, Munggur, Karanganyar, upacara tradisi Ngisis Ringgit dilakukan. upacara ini dilakukan dengan dipimpin oleh eyang Murdijarso selaku ketua Paguyuban Dharma Budaya Lestari.

Foto : Mudijarso selaku ketua Paguyuban Dharma Budaya Lestari ketika mengawali upacara tradisi ngisis ringgit

Sebagai permulaan, upacara ini dibuka dengan penataan sesaji dan doa bersama untuk mengawali upacara ritual. Upacara ini dilakukan dengan tetap memegang apa yang telah menjadi tradisi turun temurun sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Selanjutnya, wayang mulai dikeluarkan dari kotak dan satu-persatu dibersihkan dari debu dan jamur dengan menggunakan kuas.

Foto : Siti Insofiah (Ketua Komunitas Gerakan Berkualitas) sedang melakukan proses pembersihan wayang

Seusai dibersihkan, wayang-wayang tersebut kemudian diangin-anginkan (di-isis) dan dicek kelengkapan bagian-bagiannya. Proses ini membutuhkan ketelitian, karena pada proses ini seluruh wayang dicek kelengkapan bagian per-bagiannya. Jika terdapat kerusakan pada wayang, maka perbaikan segera harus dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Upaya ini juga dilakukan untuk menjamin kelayakan wayang ketika sewaktu-waktu akan digunakan untuk keperluan pagelaran.

Foto : Abisha MWP saat sedang melakukan pengecekan kelengkapan wayang

Ngisis Ringgit sebagai salah satu upacara tradisi yang digunakan untuk menjaga eksistensi wayang kulit haruslah terus kita jaga. Lestarinya budaya luhur sebuah bangsa, terlebih lagi yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia, tentu menjadi tugas bagi kita, kaum muda. Seperti apa yang pernah disabdakan oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono X bahwa “Arum Kuncaraning Bangsa Dumunung Haneng Luhuring Budaya”, dimana dapat diartikan bahwa harum dan tingginya derajat suatu bangsa terletak pada budayanya yang luhur. Kegiatan-kegiatan MAYARI Foundation selebihnya dapat dilihat pada halaman facebook @MAYARI FOUNDATION dan Instagram @mayari.foundation.

Oleh : Nareswati Kintoko (MAYARI Foundation)