Ancaman Mengintai Gunung Lawuku yang Malang

Apa yang ada dibenak kita ketika mendengar kata PANAS BUMI? GEOTHERMAL? EKSPLORASI PANAS BUMI? dan sejenisnya?? pasti bagi sebagian besar masyarakat di lereng gunung Lawu, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Karanganyar sudah tidak asing dengan kata-kata tersebut. Isu-isu eksplorasi dan eksploitasi gunung Lawu  yang akan dijadikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sempat menuai kecaman dan aksi demo di sejumlah wilayah di Kabupaten Karanganyar, khususnya di wilayah Tawangmangu pada sekitaran tahun 2018 hingga kini. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tokoh masyarakat juga menyatakan penolakan dengan perealisasian mega proyek yang digagas oleh pemerintah ini. Tentu saja pemerintah daerah Kabupaten Karanganyar tidak memandang sebelah mata aksi-aksi kontra yang dilakukan oleh masyarakat, berbagai cara selalu dilakukan pemerintah daerah kabupaten Karanganyar agar masyarakat dan pihak perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk membangun proyek PLTP ini tidak semakin membesar dan mendapatkan jalan tengah.

Maka setelah adanya demo dan kecaman dari masyarakat, Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar mengeluarkan surat penolakan melalui surat terbuka Bupati Karanganyar mengenai pembangunan proyek PLTP pada tahun 2018 lalu, sehingga pembangunan proyek PLTP ini ditunda sampai dengan waktu yang belum ditentukan, atau jika banyak petisi yang menyatakan keberatan atau bahkan menolak, kemungkinan besar pembangunan proyek PLTP ini akan dihentikan atau dipindahkan ke wilayah lain.

Sebagai masyarakat era globalisasi yang dikenal dengan milenials, seharusnya informasi yang kita dapatkan dalam berbagai hal menjadi sangat mudah,  Lalu, Bagaimana pandangan masyarakat awam sebagai masyarakat modern yang sudah melek teknologi mengenai dampak positif maupun dampak negatif yang ditimbulkan dari pembangunan PLTP ini ??

Mari kita pelajari lebih lanjut,

Menurut (Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 23, No 2, Agustus 2017: 217-237), menyabutkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dalam memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri masih tinggi. Energi fosil memberikan kontribusi 94,3% dari total kebutuhan energi nasional yang sebesar 1.357 juta SBM (setara barel minyak), sedangkan sisanya sebesar 5,7% dipenuhi dari energi baru terbarukan. Berdasarkan jumlah tersebut, minyak bumi memberikan kontribusi 49,7%, gas bumi 20,1%, dan batu bara sebesar 24,5%. Sebagian dari minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri harus diimpor, baik dalam bentuk minyak mentah maupun dalam bentuk produk minyak. Hal ini sangat tidak mendukung ketersediaan ketahanan energi di dalam negeri (Dewan Energi Nasional, 2014). Kegiatan eksploitasi terhadap sumber daya alam selama ini menyebabkan krisis energi pada sumber daya fosil. Hal tersebut berbahaya terhadap keberlanjutan pembangunan dan tidak terpenuhinya kebutuhan energi dalam negeri yang memiliki pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat setiap tahunnya. Perlunya langkah tepat untuk mengatasi kebutuhan energi dalam negeri sekaligus untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat.

Salah satu energi terbarukan yang memiliki potensi sangat bagus adalah Panas bumi. Panas bumi adalah bentuk energi terbarukan yang menghasilkan sedikit emisi gas rumah kaca dan dapat memberikan kestabilan dan keamanan energi. Energi panas bumi, bahkan meskipun kecil, dapat menjadi solusi nyata untuk masyarakat luas yang membutuhkan listrik di masa depan. Energi panas bumi juga dapat memberikan kontribusi untuk kemandirian energi masyarakat pada desa-desa terpencil juga untuk melindungi masyarakat pedesaan terhadap tingginya harga minyak bumi. Energi panas bumi juga bisa memfasilitasi peluang ekonomi dalam menyediakan energi untuk keperluan alternatif seperti produksi pangan. Panas bumi memainkan peran yang semakin penting dalam penyediaan energi dunia (Wawancara dengan Yunus Saefulhak).

Definisi yang jelas tentang energi panas bumi diatur dalam undang-undang panas bumi (Undang Undang Nomor 21 Tahun 2014) yang sebelumnya dikategorikan dalam pertambangan, minyak bumi atau air yang ada (Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2003).

Pengembangan panas bumi  sebagai energi terbarukan ini memiliki beberapa keistimewaan atau keunikan yaitu :

  1. Pertama, merupakan green energy yang tidak menghasilkan gas buang, dan jika disbanding batu bara dan emisinya di bawah 1%, CO2 nya sangat rendah, 1,5 kali dari batu bara. Jadi jika batubara mencemari udara 100%, panas bumi hanya sekitar 1,5% dari batubara itu.
  2. Kedua, sustainable, dengan syarat agar permukaan di atas panas bumi itu dijaga lingkungannya karena panas bumi bergantung pada yang ada di permukaan. jika air hujan menyerap dengan meteoric terus-menerus maka air yang ada di reservoir akan  dipanaskan oleh magma dengan melalui rambatan batu panas, akhirnya menjadi uap. Selama tidak ada air yang terkontaminasi di dalamya, maka tidak mungkin ada panas bumi. dalam hal ini pengusaha harus berperan aktif dalam menjaga lingkungan tetap asri agar tidak tercemar atau rusak.
  3. Ketiga, indigineous, adanya pengembangan wilayah sehingga dengan mengembangkan daerah sekitar PLTP menjadi sentra ekonomi yang baru. Pengembangan wilayah juga dapat dilakukan dengan pendekatan membangun sentra ekonomi di daerah yang memiliki potensi panas bumi melimpah.
  4. Keempat, adanya bonus produksi yang bisa digunakan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) tempat panas bumi itu dikembangkan.
  5. Kelima, Indonesia dianugerahi potensi panas bumi melimpah karena memiliki banyak gunung berapi di seluruh wilayahnya, ini merupakan harta karun yang terpendam yang dapat diusahakan demi menuju ketahanan energi.

Namun demikian, dibalik keistimewaan yang di tawarkan pada proses pengembangan batu bara, dampak negatif yang ditimbulkan tentu menjadi ancaman warga masyarakat sekitar wilayah PLTP dalam jangka panjang untuk masa depan, berikut adalah dampak negatif pembagunan PLTP adalah :

  1. Dapat mengeluarkan gas berbahaya. Dibawah permukaan bumi, ada banyak sekali gas rumah kaca, dengan memanfaatkan panas bumi ini, dikhawatirkan dapat memicu terjadinya migrasi gas-gas rumah kaca ke permukaan bumi dan mencemari udara. Emisi ini sangat berbahaya karena PLTP akan terkait dengan emisi silika dan sulfur dioksida. Selain itu, pada reservoir, panas bumi juga mungkin akan mengandung logam berat beracun seperti arsenic, boron dan merkuri.
  1. Pompa panas bumi harus dapat beroperasi dengan bantuan listrik. Meskipun energi panas bumi merupakan energi yang murah untuk digunakan, tetapi pompa panas bumi membutuhkan listrik agar mampu beroperasi.
  1. Daerah sekitar eksplorasi panas bumi dimungkinkan akan mengalami kekeringan. Panas bumi yang berasal dari reservoir bumi dapat keluar ke permukaan bumi dan menyebabkan kekeringan. Masa-masa kekeringan dapat berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya, itulah mengapa energi panas bumi harus dimanfaatkan denga hati-hati dan tidak menyalahgunakannya
  1. Dapat menyebabkan permukaan bumi menjadi tidak stabil. Konstruksi PLTP konvensional melibatkan pengeboran batu yang mengandung air dan uap yang terperangkap dalam pori–pori bumi dan pemahatan secara alami. Patahan yang diakibatkan oleh pengeboran ini menyebabkan uap keluar dri hasil pengeboran. Sebetulnya proses pengeboran ini tidak akan menyebabkan gempa, tetapi pecahnya uap dan kembalinya air yang digunakan untuk pengeboran kedalam reservoir air panas bumi, hal tersebut dapat menyebabkan gempa bumi. maka siklus seperti ini dapat menyebabkan ketidakstabilan sepanjang garis patahan akhibat gempa bumi tersebut.
  1. Membutuhkan suhu yang sangat tinggi. Pengeboran batu-batu merupakan aktivitas yang berbahaya. Suhu yang dibutuhkan untuk tiap proses pengumpulan energi panas bumi paling tidak sebesar 350 derajad fahrenheit. Jika temperature kurang dari itu, maka tidak dapat menghasilkan panas bumi. (www.kompasiana.com)

Pada kasus yang terjadi di gunung Lawu, PT pertamina Geothermal Energy menunda proyek pembangunan PLTP dikarenakan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar belum mengeluarkan izin resmi pembangunan proyek ini dan kendala lain  ditemukan pada lahan, karena area di sekitar gunung Lawu terdapat banyak candi dan situs purbakala yang rawan rusak akibat getaran apabila saat dilakukan pengeboran. Untuk itu, sebagai masyarakat yang cerdas, mari sama-sama membangun Karanganyar tercinta sebagai asset daerah dan tetap menjaga kelestarian lingkungan gunung Lawu untuk kehidupan masa depan yang lebih baik, setuju atau tidaknya pembangunan PTLP ini pasti memiliki efek.😊

Oleh : Nabila Nindi Radiawati