Sidak Di Pasar Palur dan Giant Palur Plaza

Diskominfo
Petugas saat melakukan pengecekan makanan di Giant Palur Plaza

KARANGANYAR – Makanan olahan maupun kemasan tak layak konsumsi di pasar tradisional maupun modern makin sulit dikenali. Masyarakat diimbau cerdas memilihnya.

Hal tersebut terangkum dalam inspeksi mendadak (Sidak) tim Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) bersama Satpol PP dan Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi UMKM Karanganyar di Pasar Palur dan Swalayan Giant, Senin (20/5).

Di Pasar Palur, ditemukan 38 jenis makanan maupun minuman kemasan pabrikan berkondisi kedaluwarsa. Selain itu, enam sampel makanan tambahan positif mengandung bahan kimia berbahaya jenis formalin, boraks dan rodhamin B. Parahnya lagi, tim mengindikasi praktik penjualan minyak goreng daur ulang.

“Identitas pedagang berikut laporan temuannya, sudah kami sampaikan ke lurah pasar. Di bawah pembinaan dinas terkait, semoga perilakunya membaik. Tidak ada yang disita. Hanya dibina di tempat dan mengambil sampel makanan yang dicurigai beracun,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) DKK, Rita Ratna Sari Dewi.

Berdasarkan pantauan, produk kedaluwarsa dijajakan bercampur dengan produk berkondisi bagus. Dari 38 jenis produk kedaluwarsa itu, kebanyakan makanan kecil kemasan dan susu anak beraneka rasa. Tim menemukan pula penyimpanannya tidak steril dan penataan buruk.

“Banyak ditemukan kotoran tikus di wadah dan tempat penyimpanan dagangan. Bahaya sekali kencingnya. Bisa terkena leptospirosis. Produk makanan ditata berdampingan sabun, cairan pembersih dan sebagainya,” ujar Rita ke Kepala Kantor Pasar Palur, Sri Haryani.

Mengenai kandungan racun sampel makanan tambahan, Kasi Kefarmasian Anik Dwiyanti meminta masyarakat ekstra waspada. Sebab, kandungan racunnya dapat memicu kanker di kemudian hari. Mengenai minyak goreng diduga daur ulang, petugas meminta pedagang berhenti menjualnya.

“Berubah warna keruh. Itu biasanya yang dibeli penjual gorengan. Harganya Rp 14 ribu per 1,5 kilo. Murah sekali,” kata Anik.

Pedagang makanan kecil kios C5 Pasar Palur, Prapti ditegur tim. Sebab, wanita itu menjual produk makanan dan minuman berkondisi buruk. Selain produk tak tercantum tanggal kedaluwarsa, juga melempem dan berdebu.

“Terpaksa tidak saya buang walaupun sudah ED (expired date). Nunggu sales datang mengambil. Sebab, dagangan ini sudah saya bayar semua,” katanya.

Dari tokonya diambil beberapa sampel. Seperti sereal tanpa merek yang dikemasnya sendiri ke plastik transparan.

Sementara itu di Supermarket Giant Palur Plaza, rata-rata produknya bagus. Namun, manajemen tetap diperingatkan.

“Ada beberapa kaleng roti dan susu yang penyok. Juga ditemukan nomor dagang palsu di tepung aren. Ada juga karak kemasan berkutu,” ujar Anik.

Manager Giant Palur Plaza, Fuad Ari bakal lebih teliti memeriksa dagangannya. Ia meyakini seluruh etika jualan sudah dipenuhi tokonya.

“Yang penyok akan diretur. Dicek rutin setiap hari supaya jangan ada yang terlewat. Tentang tepung bernomor dagang fiktif, akan kami minta suplier lebih teliti lagi,” katanya. (an/ina)