Menghidupkan Lagi Permainan Tradisional di Kawasan Perbatasan

JUARA 3 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Menghidupkan Lagi Permainan Tradisional di Kawasan Perbatasan
Oleh: Intan Khotimah, S.T
(Staf Bidang PSDM & Karya Taman Baca Masyarakat ROMUSA)
Kebakkramat, Karanganyar

 

Menghidupkan lagi permainan tradisional yang sempat mati menjadi tantangan yang tidak mudah. Terlebih lagi di kawasan perbatasan yang sudah terkontaminasi dengan modernisasi yang teramat pesat. Desa Kaliwuluh, salah satu desa yang masih mmenjadi kawasan Kabupaten Karanganyar yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sragen. Letaknya yang strategis, dekat dengan jalur utama yang menghubungkan Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta menjadikan kawasan ini dapat berkembang begitu cepat.

Modernisasi yang menghadirkan berbagai macam kemudahan dalam kehidupan baik dalam komunikasi, pendidikan, kesehatan, perekonomian dan lapangan pekerjaan. Namun ada yang terlewatkan. Perkembangan anak-anak yang mulai terlena dengan kemajuan teknologi. Teknologi menjadi andalan orang tua dalam menjinakkan anak-anak agar “betah” berada dirumah. Mudah dipantau keberadaannya bagi orang tua yang bekerja.

Disisi lain, permainan tradisional yang lebih sering dimainkan secara berkelompok sudah menjadi permainan yang tidak lagi dikenal anak-anak. Sebut saja lompat tali, betengan, gobak sodor, jamuran, cublak-cublak suweng, benthik dan lain sebagainya. Bisa dihitung dalam satu dusun berapa anak yang mengenal mainan-mainan tersebut.

Saat ini sudah jarang terlihat anak-anak melakukan aktivitas di luar rumah. Entah karena kehilangan lahan bermain, kehilangan waktu bermain atau telah kehilangan teman sepermainan. Satu hal yang mulai jarang terlihat adalah anak-anak tidak lagi bermain di tanah lapang, tidak lagi bermain di jalan-jalan dekat sawah dan tidak ada lagi permainan tradisional. Hal ini juga diperkuat dengan beberapa orang tua yang mulai melarang anak-anaknya bermain di luar rumah dengan alasan perkembangannya akan sulit di kontrol, panas dan kotor. Tidak sedikit pula orang tua yang khawatir bahwa anaknya akan terlibat pertengkaran dengan anak yang lain.

Padahal permainan tradisioanl memiliki banyak manfaat. Berbagai manfaat itu antara lain berpengaruh pada perkembangan anak yang meliputi perkembangan intelektual, melatih kemampuan sosial, menguatkan perkembangan fisik dan motorik serta mengontrol perkembangan emosional. Bahkan baru-baru ini mulai ada temuan bahwa dengan bermain dapat mengurangi perilaku agresif pada anak.

Lagi-lagi menjadi tantangan yang tidak mudah untuk menghidupkan lagi permainan tradisional. Selain dianggap kuno dan tidak menarik, anak-anak mulai kehilangan dukungan untuk bermain bersama-teman-temannya. Kondisi ini menciptakan keresahan dikalangan pemuda Desa Kaliwuluh khususnya di Dusun Bekon. Banyak pemuda yang mulai khawatir akan muncul generasi yang antisocial sebab anak-anak lebih menikmati waktu bermain sendiri didalam rumah. Khawatir bahwa nanti akan muncul generasi yang tidak peka terhadap lingkungan sosial dan individualis.
Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Forum Muda Prakarsa (ROMUSA) mendeklarasikan diri untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan ramah anak untuk menyelamatkan ancaman yang mungkin akan menimpa anak-anak dimasa depan. Salah satu cara yang dilakukan oleh Forum Muda Prakarsa adalah dengan mendirikan taman baca masyarakat yang selanjutnya disebut TBM ROMUSA.

TBM ROMUSA memiliki beberapa program unggulan, diantara program unggulan yang dimiliki adalah perpustakaan, kampung belajar 1820 dan kumpul bocah. Perpustakaan menyediakan berbagai buku dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa. Anak-anak dapat belajar bersama pada jam operasional perpustakaan dengan didampingi kakak-kakak pendamping dari Forum Muda Prakarsa maupun tim relawan. Dengan Kampung belajar 1820 ini direncanakan anak-anak akan memiliki waktu khusus untuk belajar dirumah bersama orang tua dengan mematikan televisi dan handphone pada pukul 18.00 samppai 20.00. Diharapkan anak-anak akan memiliki waktu lebih efektif untuk belajar dan bersama orang tua.

Sementara ini kumpul bocah menjadi program unggulan utama menghadirkan sajian berbagai permainan tradisional, pengembangan bakat dan olahraga yang dapat dilakukan oleh anak-anak secara bersamaan. Pada kegiatan inilah anak-anak kembali dikenalkan dan diajak bermain tentang berbagai permainan tradisional.

Sejak awal berdiri, setiap bulannya Forum Muda Prakarsa melaksanakan kumpul bocah. Kegiatan ini melibatkan anak-anak dan pemuda di Dusun Bekon, Desa Kaliwuluh. Sedikit demi sedikit kembali diperkenalkan dengan permainan tradisional. Adapun beberapa permainan yang pernah kami lakukan adalah benthik, uding, lompat tali, sepak bola, dan berbagai permainan lainnya. Selain permainan tradisional kami juga menyisipkan pengetahuan yang dikemas dengan berbagai kegiatan literasi seperti membaca buku bersama, bercerita untuk teman, pendampingan belajar dan berbagai permainan tebak kata.

Program Taman Baca Romusa ini mendapat dukungan positif dari masyarakat Dusun Bekon dan Pemerintah Desa Kaliwuluh. Bahkan banyak orang tua yang mengharapkan program ini akan terus berlanjut.

Bagi kami, pemuda, masa depan anak-anak sangatlah penting sebab mereka adalah aset masa depan bangsa. Kami mendukung modernisasi tetapi kami juga berharap dan berusaha agar dapat meminimalisir dampak negatifnya sehingga anak-anak tetap bahagia dan dapat berkembang optimal sesuai dengan masanya.