Lawu Percussion : Bermula dari Lomba 17an Agustus Hingga Event Nasional

JUARA 2 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Lawu Percussion : Bermula dari Lomba 17an Agustus Hingga Event Nasional
Oleh: Andrianto Dwi Saputo
Karangpandan, Karanganyar

 

Anggota “Lawu Percussion”

17 Agustus mulai mendekat, suara gaduh di kampung yang sunyi terdengar setiap sore menjelang Maghrib. Mereka adalah sekelompok pemuda-pemudi yang berasal dari Dusun Kapingan, Desa Dayu, Kabupaten Karanganyar. Barisan barang bekas yang ditata rapi terlihat setiap sore di jalan tengah kampung tersebut. Ternyata suara gaduh tadi berasal dari barang bekas yang dijadikan pemuda-pemudi tadi sebagai sarana bermain musik.

Ide tersebut muncul ketika pihak Desa mengadakan perlombaan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saat itu tahun 2016. Sebagai partisipasi muda-mudi dari Dusun Kapingan tersebut mempunyai ide yang unik dalam mengikuti perlombaan tersebut, maka tercetuslah ide bermain musik dengan menggunakan barang bekas seperti ember, drum bekas dan botol. Setiap sore sebelum adzan maghrib berkumandang mereka selalu latihan di tempat yang sama, yaitu di pertigaan jalan tengah kampung. Hal tersebut menarik perhatian warga yang lain untuk melihat latihan mereka setiap sorenya dan tentunya memberikan semangat.

Hari yang dinanti datang, mereka mengikuti perlombaan dengan gembira, tanpa memikirkan menang atau kalah, ikut meramaikan dan berpartisipasi ialah tujuan utama mereka. Namun, hasil malah berpihak kepada mereka, mereka berhasil menjadi juara di acara yang di adakan oleh pihak Desa tersebut.

Semua telah berakhir, acara 17an Agustus kelompok muda mudi yang membuat suara gaduh di tengah kampung setiap sorenya. Sekarang bahkan (jangankan) suara gaduh, muda-mudi berkumpul saja tidak terlihat, kecuali memang ada acara perkumpulan muda-mudi. Hal itu membuat Andri dan Narso merasa perlu adanya suatu ide besar agar mereka muda mudi kampung tersebut ada aktivitas yang positif di waktu longgar mereka. Ide pun muncul untuk bermain musik yang berbeda, mereka terpikirkan apa yang telah dilakukan muda-mudi kampung saat acara 17 Agustusan kenapa tidak dilanjutkan. Itu bukan suatu kebetulan, namun memang adanya bakat yang harus diasah. Saat itu Andri rela menyediakan rumah sebagai sarana tempat untuk berlatih, dan Narso yang berbekal pengalaman yang dia dapat selama berkuliah di Institut Seni Indonesia di Solo merasa, ilmunya harus disalurkan ke yang lain.

Mulai dari situlah mereka berdua berkomitment untuk membentuk suatu group musik. Mereka memilih anggota yang sekiranya berpotensi dalam hal ini. Akhirnya mereka sudah menentukan anggota dari group musik tersebut. Dimas, Icha, Resima, Ageng dan Tifah. Mereka yang dianggap tepat untuk dijadikan sebuah group musik menurut pendapat Andri dan Narso. Semua sudah siap, namun mereka melupakan hal yang sangat krusial yaitu alat musiknya. Tidak akan bisa berjalan jika tidak ada alat musiknya, namun mereka tidak menyerah mereka kembali menggunakan alat musik yang terbuat dari barang bekas dan di kombinasikan dengan alat musik tradisional Jawa.

Hari demi hari mereka lalui dengan berlatih, hari yang biasanya setiap sore sudah sepi dari suara gaduh, sekarang mulai terdengar lagi dari alunan musik yang mereka mainkan. Sudah hampir setahun mereka berlatih, saat mereka untuk berani pentas dalam sebuah acara. Andri berpikir keras saat itu, acara apa yang bisa diikuti untuk menunjukan hasil kerja keras mereka selama ini, dan Narso pun iseng merekam setiap kali anak-anak tersebut beratih. Hasil rekaman Narso pun sampai ke temannya yang notabene beliau berasal dari Korea Selatan. Dari situlah semua mulai jelas. Andri mulai mendapat ide, kalau tidak ada acara yang bisa kita ikuti, kenapa kita tidak membuat acara sendiri saja?

Hal yang sangat benar dan tepat yang dipikirkan oleh Andri, karena sebentar lagi momen 17 Agustus 2017. Dia terpikirkan membuat acara tirakatan malam 17 Agustus dengan menampilkan Hasil kerja keras anak-anak berlatih selama ini tentunya disisipi dengan acara lain. Disisi lain Narso berusaha membunjuk teman yang dari Korea selatan tadi untuk mau join dalam acara Tirakatan 17 agustus yang akan diadakan di halaman bekas SD N 2 Dayu.

Semua berjalan lancar kepanitiaan sudah terbentuk, roundown acara sudah fixs dan orang Korea juga sudah mau untuk join. Namun ada sebuah masalah lagi, anak-anak tadi belum mempunyai nama group musik. Walaupun mau tampil ditempat dan acara sendiri, tapi sebuah nama group musik itu sangat penting.

Setelah semua berunding akhirnya muncul nama “Lawu Percussion” dan semua setuju akan nama tersebut. Hari tersebut sudah di depan mata, panggung sudah berdiri, sound sistem sudah mulai berdengung dengan keras. Dan tibalah saat acara dimulai, rentetan acara sudah dimulai dengan lancar, anak-anak Lawu Percussion menampilkan pertunjukan yang membuat semua penonton memberikan teriakan dan tepuk tangan, sedangkan rekan dari Korea juga menampilkan sebuah pertunjukan seni musik Korea yang tentunya di simak baik baik oleh penonton, karena hal tersebut merupakan suara baru yang masuk ke telinga mereka. Di akhir acara, ternyata ada kejutan yang dibawa oleh teman dari Negeri K-Pop sudah mempunyai naluri bahwa anak-anak Lawu Percussion ini akan berkembang dengan pesat bahkan hal itu sudah ia ketahui setelah melihat rekaman yang ditunjukan oleh Narso. Karena melihat alat musik yang dimainkan oleh Lawu Percussion adalah barang bekas, Si Korea lantas berniat memberikan alat musik kepada mereka untuk mengembangkan bakat yang mereka punya, dan di acara inilah moment yang tepat untuk memberikan alat musik tersebut.

Suara jeritan bahagia terdengar dari semua anak-anak Lawu Percussion, mereka mendapat suatu hal yang tidak mereka bayangkan, mereka mendapat alat musik khas Korea yang bernama Samulnori. Acara malam tirakatan 17 Agustus 2017 tersbut akhirnya berjalan sesuai dengan harapan.

Kemudian harinya anak-anak lawu percussion bersemangat berlatih dengan menggunakan alat barunya. Suara gaduh di tengah kampung semakin menggaduh setiap harinya dikala sore tiba. Semakin kesini, mereka semakin mahir dalam memainkan alat musik yang mereka gunakan. Hingga mereka memutuskan harus tampil di event luar. Dan berbagai event yang diadakan di sekiatar Kota Solo mereka berhasil berpartisipasi. Mulai saat itu Lawu Percussion mulai terkenal di daerah Kabupaten Karanganyar, dan mereka beberapa kali mendapat undangan untuk mengisi acara.

Pentas di Semarak Indosiar

Andri dan Narso tidak puas akan hal terebut, tibalah saat itu ada pagelaran tingkat nasional yang bertakjub Indonesa Drum dan Perkusi 2018. Mereka berkomitmen untuk mengikuti acara tersebut entah bagaimana caranya dan bagaimana soal dananya, karena acara tersebut dilaksanakan di Jakarta. Dengan tekat yang kuat akhirnya mereka bisa menjadi salah satu perserta dalam acara tersebut. Anak-anak lawu Percussion yang bernggotakan 5 anak tersbut sampai rela setiap harinya menyisihkan uang saku sekolah untuk menabung agar bisa berangkat ke Jakarta. Dan Andri sendiri mencari sumber dana dengan segala cara agar mereka dapat berangkat, mulai dari Desa, Donatur, dll.

Akhirnya mereka bisa berangkat ke Jakarta untuk mengikuti acara yang terkenal disingkat IDP Fest 2018 tersebut. semua berjalan dengan lancar dan hasil yang sangat memuaskan, sebuah group musik yang beranggotakan sekumpulan anak SD dan bermula dari barang bekas, bisa menjadi Juara 4 tingkat Nasional. Orang tua mereka menangis bangga, tidak mengira bisa sejuah ini. Semua pagelaran IDP Fest 2018 sudah selesai, mereka kembali pulang dengan tekat tahun depan harus masuk ketiga besar.

Semua kembali normal, suara gaduh tiap hari masih terdengar yang kali ini bersumber di rumah Andri. Andri dengan senang hati menjadikan rumahnya sebagai basecamp dan tempat latihan bgi anak-anak lawu percussion. Tiap hari mereka berlatih dengan target tahun 2019 mengikuti IDP Fest 2019 dan masuk ke tiga besar. Dan anak-anak tersebut kembali menabung setiap hari dengan harapan saat waktunya uang tabungannya bisa digunakan untuk berangkat kembali ke Jakarta. Semakin hari skil anak-anak semakin terasah berkat hal-hal dan ilmu baru yang di ajarkan oeh Narso.

Pentas di Borobudur, Festival Payung

Di tengah persiapan menuju IDP Fest 2019 mereka beberapa kali mendapat undangan untuk tampil mengisi disebuah acara, termasuk undangan dari luar Kabupaten yaitu acara Festival payung di Obyek Wisata Borobudur di penghujung tahun 2018. Nama Lawu Percussion semakin terkanal saja oleh penggiat-penggiat acara yang membutuhkan pengisi acara.

Event yang mereka nanti-nantikan sebentar lagi akan datang, hal tersebut membuat semangat anak-anak semakin berlipat, hentakan tangan memumuk alat musik seakan lebih keras dari biasanya, suara gaduh ditengah kampung semakin keras terdengar. Semangat yang terbakar demi menunjukan bahwa mereka bisa masuk 3 besar. Bukan tanpa masalah, kali ini disisi pendanaan tidak selancar tahun kemarin, pihak Desa tidak menyumbang lagi. Andri berpikir keras akan hal tersebut, dia berfikir bagaimana caranya anak-anak bisa berangkat dan tidak kecewa jikalau tidak dapat berangkat karena masalah keuangan pasti semangat mereka sontak akan hilang begitu saja. Sampai andri dan Narso membuka Donasi untuk anak-anak bisa berangkat. Mereka menyebar pengumuman di media sosial. Alhamdulilah banyak yang peduli akan bakat anak-anak Lawu Percussion dengan menyumbangkan sedikit rejeki agar mereka daat berangkat ke jakarta.

“prakkkkkkk” terdengar suara pecah, ternyata suara tersebut bersumber dari 5 celengan yang dipecahkan secara bersama oleh ke 5 anak anggota Lawu Percussion tersebut untuk biaya mereka berangkat ke jakarta mengikuti IDP Fest 2019.

Hari yang dinanti tiba, mereka berangkat menuju Jakarta di antar oleh oarng tua masing masing. Tangis haru dan harapan besar dari orang tua mengiringi keberangkatan mereka. Ke esokan harinya mereka sudah sampai Jakarta, langkah yang yakin mengiri mereka menuju ke lokasi acara diselenggarakan. Tidak ada rasa gugup di muka mereka mereka bersemangat menanti hari tiba.

Pengumuman Juara IDP Festival 2019

Suara teriakan dan suara keras musik mulai terdengar, mereka menampilkan sebuah pertunjukan yang membuat juri dan penonton sangat terhibur, “dibalik usia mereka yang masih kecil dibandingkan kontestan lain mereka sangat berbakat” ucap salah satu juri. Mulai pembawa acara terlihat berada di tengah panggung, waktunya pengumuman juara. Kali ini terlihat muka anak-anak tersebut mulai tegang. Dan hasilnya mereka, Lawu Percussion yang merupakan sekumpulan anak-anak yang berasal dari kampung mendapatkan Juara ke-tiga dalam pagelaran IDP Fest 2019 ini, suatu yang sangat diharapkan oleh anak-anak itu untuk bisa masuk ketiga besar dan hal tersebut dapat mereka buktikan. Teriakan senang terlontar dari mulut mereka.

Akhirnya mereka kembali ke kampung dengan dada yang tegap, selain dapat mencapai target yang mereka targetkan, mereka juga membanggakan orang tua serta daerahnya di tingkat nasional. Berita tersebut sampai ketelinga Waki Bupati karanganyar saat itu, sontak bapak Wakil Bupati mengundang mereka ke kediamanya untuk sekedar memberikan apreisiasi kepada Anak-anak tersebut karena sudah membawa nama baik Kabupaten Karanganyar di Tingkat Nasional.

Undangan Wakil Bupati Karanganyar

Itulah kisah sekumpulan anak-anak dari kampung yang perjuangannya sangat menginspirasi, tentunya juga berkat bimbingan dan arahan dari Andri dan Narso, sosok dibalik kesuksesan mereka. Saat ini suara gaduh di tengah kampung tidak terdengar lagi, namun berganti dengan suara merdu dari alat musik yang mereka mainkan, mereka sekarang mempunyai target untuk bisa mewakili negara Indonesia di pentas Dunia.