Destinasi Wisata Kuliner Klasik Pasar Jadoel Tradisional di Matesih, Karanganyar

JUARA 4 Rubrik Karanganyar Menulis 2019 Periode 5

Destinasi Wisata Kuliner Klasik Pasar Jadoel Tradisional di Matesih, Karanganyar
Oleh: Wisang Nugraha Ardyansa
Matesih, Karanganyar

 

Karanganyar, Bumi Intanpari, tempat seni budaya, historia, dan pariwisata melengkapi klasiknya keindahan sebuah kabupaten yang terletak di timur kota Solo ini. Belum lagi keindahan alam lereng Lawu dengan eksotis mampu memberikan sebuah sentuhan keajaiban Tuhan Yang Maha Kuasa. Ratusan destinasi wisata, sudah terhampar dalam sebuah frame cita rasa negeriku, Indonesia.

Dari ratusan destinasi wisata, sebuah tempat bersejarah yang banyak menyimpan cerita bagaimana dahulu, masyarakat leluhur berjibaku dengan kehidupan yang masih terbilang kuno. Sapta Tirta Pablengan, Matesih, Karanganyar. Yang menyimpan tujuh sumber mata air dengan berbagai keunikan tersendiri.

Tetapi, kali ini kita tidak akan membahas obyek wisatanya , tetapi kita akan merekonstruksi kembali, bagaimana dahulu masyarakat mampu membuat sebuah peradaban pada zaman itu. Melalui berbagai kuliner klasik yang dibangkitkan kembali dari mati surinya. Menunjukkan kembali nikmatnya citarasa kuliner masyarakat lampau dengan balutan nama Pasar Jadoel Sapta Tirta.
Sejenak saja bayangkan, sebuah suasana desa, dengan berbagai gubuk bambu dan atap jerami, beralaskan tanah. Sesederhana itu, begitu juga dengan apa yang mereka makan, apa yang disediakan oleh alam, dengan bungkus daun, dengan berbagai umbi dan singkong, yang semesta sudah sediakan untuk mereka.

Tahukah kalian dengan makanan dan kuliner ini?

Klepon, sawut, tiwul, timus, kemplang, cenil, dele, kembang goyang, balung kethek, gendar, pondoh, jadah, klenyem, onde-onde, rempah, nogosari, ketan, peyek, rangin, corobikang, suweg, gayam, gudangan, urap, dan sebagainya.

Dari beberapa diatas, berapa yang kalian pernah makan?

Kalau sudah lebih dari sepuluh, berarti kalian termasuk makhluk yang tergolong klasik. Karena bagi sebagian masyarakat yang lahir pada masa dinasti hamburger, makanan-makanan ini cenderung terlupakan.


Oleh karena itu, Pasar Jadoel Sapta Tirta ini berusaha merekonstruksi kembali sejarah ke dalam sebuah lembaran kisah klasik dari generasi ke generasi selanjutnya. Meskipun tidak sesempuna yang bisa kita imajinasikan dalam pikiran kita masing-masing, namun, Pasar Jadoel ini sudah mampu menjadi pengobat rindu bagi para sesepuh, dan para generasi muda penggemar kuliner yang menjadi identitas kita dahulu sebagai orang pedalaman.

Berbagai gubuk yang ada di lokasi wisata Sapta Tirta Pablengan ini menyediakan berbagai makanan masa lalu beserta seluruh kenangannya. Seperti seorang ibu yang bercerita bahwa dahulu sepotong ubi begitu berharga untuk dimakan sekeluarga, atau seorang bapak dulu menceritakan kisahnya tentang kerasnya makanan balung kethek waktu beliau kecil.

Semua memori dan sisi historis itu seperti sebuah lentera bahwa ada cerita yang mampu membuat kita merasa bahagia, membuat kita merasa terharu karena mampu mengulang, mampu merekonstruksi kembali potongan-potongan kenangan mereka yang tersimpan di sentong-sentong kuno pikiran mereka. Setidaknya itulah yang para sesepuh coba ungkapkan.
Tidak hanya itu, generasi muda yang penuh dengan curiousity mereka, atau dari cerita orang tua mereka, akan berbondong-bondong untuk berburu berbagai kuliner khas yang ada pada masa simbah mereka. That’s it, they are so exited to see, they are exited to taste something else.

Dan perlu kalian tahu, generasi muda FKPI, EKRAF, dan berbagai lapisan masyarakat Pablengan bersatu demi sebuah kisah senja yang membanggakan sebagai dongeng ketika anak kita tidur, ketika kita memiliki mimpi-mimpi yang sama untuk ikut serta menunjukkan bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk Karanganyar.

Setelah itu, mereka akan lebih memahami apa arti narimo ing pandum dan memiliki paradigma yang sederhana, memiliki senses untuk lebih menjaga kelestarian budaya, dan sekaligus memiliki empati untuk bersama-sama ikut melestarikan ratusan juta memori sebagai bekal nanti generasi selanjutnya menceritakan kisah-kisah klasik ini kembali ke anak cucu mereka. Dan dengan ini, setiap dari kita, akan lebih memiliki sikap memayu hayuning bawana , menjaga alam sekitar yang sudah tercipta begitu indah. Menjadi generasi yang sadar wisata, sadar sejarah dan memahami betapa berharganya setiap sisi kehidupan manusia.

Sebagai penutup, iringan gamelan dari lagu gugur gunung, let’s do something untuk Karanganyar, untuk bumi tempat kita berpijak, untuk negeri tempat kita berdiri. Paling tidak dari hal yang paling mendasar, paling tidak dari hal yang paling sederhana, yaitu memiliki rasa bangga menjadi bagian masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan keberagamannya.

Salam Hangat dari Pasar Jadoel Sapta Tirta Pablengan.

Bumi Intanpari, Karanganyar.