Tradisi Dhukutan, Bentuk Kerukunan Yang Kini Jadi Objek Wisata

 

Ritual lempar nasi jagung menjadi puncak ritual Dhukutan di Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Selasa (30/04)

 

KARANGANYAR – 30 April 2019

Ritual tradisional Dhukutan di Kampung Nglurah, Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu kini telah menjadi ‘jujugan’ wisatawan. Dahulu Dhukutan digelar untuk merukunkan warga karena sering tawuran atau berkelahi antara dusun Nglurah Lor dan Nglurah Kidul. Kini prosesi ritual Dhukutan sebagai simbol bahwa kedua desa telah kembali rukun dan membangun kebersamaan.

“Ritual Dhukutan ini simbol pemersatu antara kedua dusun. Kedua dusun sudah tidak ada dendam dan hidup saling rukun,” papar Koordinator Lingkungan (korling) Nglurah, Ismanto Hartono kepada infopublik, Selasa (30/04).

Ritual dhukutan dimulai dengan makanan dari nasi jagung didoaakan bersama. Usai didoakan, kemudian para pemuda yang membawa nasi jagung tersebut berputar-putar keliling desa. Kemudian melempar nasi jagung tersebut kepada orang yang ditemuinya. Namun akibat pelemparan tersebut tidak ada warga yang marah atau dendam. “Upacara trdiasi ini dilakukan setiap 7 bulan sekali. Alhamdulillah, setiap ritual tradisi dilakukan masyarakat dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan acara tersebut,” imbuhnya.

Dia menambahkan tradisi dhukutan saat ini ditambahi berbagai seni dari masing-masing warga. Mulai dari seni pertunjukkan reog, pakaian tradisional dan tarian. Menurut Ismanto tradisi dhukutan sudah dilakukan secara turun-temurun dari nenek moyang warga desa setempat. (hr/tgr)