KEMBALI MENAPAKI SUMPAH PEMUDA DI KARANGANYAR PADA ERA MILENIAL

KEMBALI MENAPAKI SUMPAH PEMUDA DI KARANGANYAR  PADA ERA MILENIAL

Oleh : Irfan Hidayah, S.Pd
Ngadiluwih, Matesih

Bulan Oktober, Indonesia memperingati tidak kurang tiga peristiwa penting yang ada dalam sejarah bangsa Indonesia. Pertama pancasila, dasar Negara Indonesia yang kembali mengukuhkan kesaktiannya pada tanggal 1 Oktober 1965. Selain itu, ada Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dulu bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang setiap tahun diperihati hari jadinya setiap tanggal 5 Oktober. Satu lagi peristiwa yang tidak kalah penting bagi pergerakan bangsa Indonesia yaitu Sumpah Pemuda, yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Sumpah Pemuda bukan sekedar “hari jadi” maupun momen deklarasi pemuda untuk bersatu padu melawan penjajah pada tahun 1928. Tanggal 27 hingga 28 Oktober 1928, kongres Pemuda II digelar. Agenda itu merupakan tindak lanjut dari putusan dari kongres I pada tahun 1926. Pemuda-pemudi antarpulau beradu gagasan dan menelaah resep yang cocok untuk masa depan Indonesia. Mulanya kongres pemuda dianggap sebelah mata oleh pejabat Kolonial, yakni Van Der Plass. Baginya agenda itu hanya sekedar diskusi biasa yang tak akan berefek besar. Tak ada bau-bau ancaman yang berarti. Namun, sayangnya perhitungan Van Der Plass luput.

Apa yang dipikirkan Ben Anderson tentang “Imangined Communities” menemukan aktualitasnya. Imaji tentang satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan tak muncul hanya sekedar lewat perasaan saling memiliki atau saling tersiksa. Gagasan kebangsaan juga bermunculan berkat penyemaian perangkat pengalaman dahulu, agar tidak kembali masuk untuk kedua kalinya. Terbentuknya bangsa Indonesia, dalam pandangan Ben Anderson sangat dibantu oleh media surat kabar dengan menggunakan bahasa ibu. Bahasa yang familiar untuk rakyat marjinal, ketika bahasa dominan bahasa Belanda hanya dikuasai orang tertentu. Koran Sinar Hindia tahun 1918 menerbitkan propaganda dan literatur yang ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo berjudul Student Hidjo secara serial. Pembaca Koran mulai tergugah dan mampu menggerakkan dalam menyuarakan hasil olah pikir dan pembelajaran bahasa persatuan.

Buku karya Yudi Latif dengan judul Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan menggambarkan kisah para pemikir pra-ikrar Sumpah Pemuda. “Yang mereka ciptakan adalah nama. Tanda pengenal diri, yang memberi kesadaran eksistensial. Jika tak suka dengan rumah kolonial, hal pertama yang harus dirobohkan adalah tanda-tanda yang diciptakannya”. Merumuskan nama, tentu menggunakan perangkat bahasa. Pencarian nama tak berpandangan pada kolonial. Pemuda-pemudi menggunakan bahasa ibu. Maka, etika tanah air disebut kolonial sebagai Hindia-Belanda, mereka menggantinya dengan kata “Indonesische”. Tetapi, pergantian nama itu tidak bertahan lama sekitar dua tahun saja. Sebab masih mencerminkan dialek kolonial. Para pemuda-pemudi melakukan perundingan dan pada akhirnya, lewat nama ‘Indonesia’, bangsa, tanah air dan bahasa dipertemukan dalam ikrar monumental Sumpah Pemuda.

Sebagai pemuda yang hidup di era milenial, sepantasnya kita kembali napak tilas perjuangan para pemuda yang dahulu sudah mencetuskan gagasan Sumpah Pemuda. Peran pemuda sangat diharapkan untuk perkembangan dan menjawab tantangan jaman. Namun sebenarnya dalam hidup ini yang namanya “idealisme’, suatu pemikiran tentang dunia utopia, merupakan hal penting yang membuat manusia tetap mempunyai semangat dan harapan untuk tetap berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Dunia utopia memang seperti mimpi. Tapi saya percaya bahwa mimpi yang terukur dan dikombinasikan dengan pemikiran serta semangat positif dapat mengubah dunia. Pada saat kita berhenti bermimpi, berarti kita, telah berhenti berusaha, maka kita akan mati.

Di sinilah peran pemuda, sebagai sosok yang muda, yang dinamis, yang penuh energi, yang optimis, diharapkan untuk dapat menjadi agen perubahan yang bergerak dan berusaha untuk sedekat mungkin dengan dunia utopia itu. Pemuda diharapkan bisa membawa ide-ide segar, pemikiran-pemikiran kreatif dengan metode thinking out of the box yang inovatif, sehingga dunia tidak melulu hanya dihadapkan pada hal-hal jaman old yang itu-itu saja dan tidak pernah berkembang. Dengan kata lain pemuda diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang lebih baik dari pemimpin masa kini. Pemuda diharapkan untuk menjadi change agent, yaitu pihak yang mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik melalui efektifitas, perbaikan dan pengembangan.

Di era ini dengan segala kecanggihan teknologi, tingkat persaingan juga semakin tinggi. Kualitas dan kinerja manusia juga dituntut menjadi semakin tinggi. Generasi masa kini harus mampu beradaptasi dengan cepat, belajar dan menjadi lebih baik dengan cepat serta melakukan navigasi yang lincah dan tepat untuk dapat memecahkan setiap masalah. Apabila tidak, dalam beberapa tahun ke depan mungkin posisi kita sudah digantikan oleh robot atau program komputer.

Di Indonesia, ada sekitar 81 juta penduduk yang termasuk dalam generasi milenial. Berarti sekitar hampir 32% dari total populasi di Indonesia. Pertanyaannya: Mampukah kelompok 32% ini menjadi change agent untuk Indonesia? Siapkah mereka untuk membangun dan meneruskan Indonesia? Ini yang menjadi tantangan terbesar bagi generasi milenial Indonesia. Menyadiri pentingnya Sumpah Pemuda sebagai salah satu tonggak pentingnya dalam merawat keberagaman bangsa ini, ada baiknya momen ke 90 tahun perayaan Sumpah Pemuda ini pemuda-pemudi Indonesia kembali “napak tilas”, mengingat kembali arti penting Sumpah Pemuda sebagai pemersatu bangsa. Potongan puisi Muhammad Yamin. Seorang penyair sekaligus aktivis, tokoh yang sangat puitis menulis rumusan Sumpah Pemuda ini, inilah sebuah puisi yang cemerlang untuk kita para pemuda-pemudi meresapi arti, juga harapan sebagai sebuah bangsa. Kini bangsaku, insafkan diri/Berjalan ke muka, marilah mari/Menjelang padang ditumbuhi mujari/Dicayai Merdeka berseri-seri.