Reboisasi dan Biopori untuk Karanganyar

Reboisasi dan Biopori untuk Karanganyar
Oleh : Agus Riyanto
Papahan, Tasikmadu

 

Warga Karanganyar tentu merasakan betapa saat ini terjadi perbedaan yang sangat signifikan di kabupaten tercinta ini. Pembangunan di pelbagai bidang masif dilakukan oleh pemerintah untuk memajukan dan menyejahterakan warga.  Geliat pembangunan juga menyentuh sektor pariwisata utamanya di daerah Gunung Lawu (Tawangmangu, Karangpandan, Matesih, dan Ngargoyoso). Tren wisata bernuansa alam di daerah yang berudara dingin menyebabkan menjamurnya tempat-tempat wisata di daerah tersebut. Banyak rumah-rumah makan, hotel, penginapan, dan tempat wisata baru yang ditawarkan untuk menarik wisatawan.

Perkembangan sektor pariwisata ini tentu tidak bisa kita hindari, dengan potensi alam yang eksotis, Karanganyar memang layak disebut sebagai surganya wisatawan. Perkembangan ini diharapkan berdampak positif bagi tingkat kesejahteraan warga dan pendapatan daerah khususnya dari pajak usaha. Akan tetapi, perkembangan pembangunan pariwisata tersebut, kita sadari juga memiliki dampak negatif terutama bagi lingkungan. Sebut contoh, antara lain: pertama, penebangan pepohonan di daerah wisata (terutama pada lokasi parkir, tempat makan, dan pelebaran jalan – akses menuju ke lokasi) hal ini berdampak pada berkurangnya penyerapan karbondioksida, produksi oksigen, dan penyerap air tanah oleh pohon sebagai cadangan air tanah.

Kedua, betonisasi (pengerasan) pada tempat-tempat di atas juga mengurangi derah resapan air. Air tidak hanya butuh mengalir, tetapi juga harus diserap oleh tanah agar menjadi sumber air tanah. Betonisasi (pengerasan) tanpa memikirkan adanya daerah resapan air tentu akan mengurangi banyaknya air yang meresap ke dalam tanah. Air yang turun biasanya langsung menuju ke saluran-saluran air, sehingga debit air saat penghujan menjadi berlebih tetapi kering saat musim kemarau.

Ketiga, banyaknya kendaraan yang memproduksi karbon monoksida. Tujuan dibangunnya pariwisata memang untuk menarik kunjungan wisatawan. Banyaknya wisatawan yang ingin menikmati pariwisata kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi sampai lokasi wisata. Produksi karbon monoksida dan berkurangnya pepohonan sebagai penghisap alami karbon monoksida itulah yang menyebabkan suhu udara menjadi terasa panas.

Ketiga dampak tersebut kini kita alami. Mungkin 10 tahun yang lalu, ketika memasuki wilayah Papahan kita sudah merasakan kesejukan, semakin ke timur maka kesejukan akan semakin terasa dan udara dingin (walau siang hari terik) akan terasa di Tawangmangu. Bagaimana dengan sekarang?! Jangankan di Papahan, di Tawangmangu saja kita merasakan panas, kalaupun ada angin yang berhembus akan terasa kering bukan sejuk lagi.

Bukan hanya itu, dahulu sungai-sungai yang ada di Karanganyar juga tak pernah mengalami kekeringan. Bahkan menurut warga Ngijo, dahulu mereka bisa berenang di Kali Gabahan (Papahan) saat mereka menggembala dan atau pergi ke sawah. Bagaimana dengan sekarang?! Jangankan di Kali Gabahan, di sungai-sungai yang ada di Karangpandan saja sudah mengalami kekeringan. Kemudian apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan kesejukan dan ketersediaan air yang ada di Karanganyar ini?

Reboisasi dan Biopori sebagai Solusi

Pengetahuan kita tentang solusi yang diperlukan untuk mengatasi hal tersebut sejatinya telah termiliki. Sejak di bangku Sekolah Dasar (SD) tentu kita sudah sangat paham bahwa untuk mengembalikan kesejukan bisa dengan menanam pohon (reboisasi) dan mengembalikan ketersediaan air tanah dengan resapan air (berupa tanah kosong dan pepohonan).

Reboisasi diartikan sebagai penanaman kembali, tentunya tidak harus sama jumlahnya. Minimal di tempat yang dibangun, harus ada tanaman pohon yang bisa berfungsi sebagai pengikat karbon dari kendaraan, penyedia oksigen dari proses fotosintesis, dan penyerap air sebagai cadangan air tanah saat musim kemarau. Pohon yang bisa ditanam harus memiliki keunggulan dalam tiga hal tersebut (penyerap karbon, penyedia oksigen, dan penyerap air).

Dari beberapa sumber tentang pepohonan yang bagus untuk reboisasi, Trembesi dan Mahoni menjadi pohon yang sangat direkomendasikan. Trembesi memiliki keunggulan: pertumbuhannya cepat, batangnya besar dan tinggi, kuat (tidak mudah patah), bentangan kanopinya lebar (dahan dan dedaunan mirip kanopi),  mampu menyerap 28 ton CO2 pertahun, mampu memproduksi 0,6 ton O2 perhari, mampu menyimpan 900 m3 air perhari (saat musim hujan), dan menyalurkan 4 m3 air perhari (saat kemarau). Pohon ini cocok ditanam ditempat terbuka yang memiliki lahan luas, seperti taman, tempat parkir pariwisata, dan lahan pertanian yang dulunya merupakan hutan.

Selanjutnya Mahoni.  Pohon ini memiliki kayu yang kuat, daunnya rindang (walau sering meranggas), mampu menyerap 47 – 69% polusi di sekitarnya, dan menyerap sangat banyak air. Pohon ini bisa ditanam di sepanjang kiri kanan jalan raya, perkantoran, dan tempat yang lahannya sempit. Selain kedua pohon tersebut, masih ada beberapa pohon yang direkomendasikan yaitu Bambu, Angsana, Akasia, Beringin, Asam Jawa, Cemara Bundel, Johar, dan Matoa. Semua pohon yang direkomendasikan tersebut utamanya unggul dalam penyerapan CO2, produksi O2, dan mengikat air.

Solusi kedua yaitu pembuatan Biopori. Biopori yaitu membuat lubang pada tanah untuk jalan air masuk menjadi air tanah. Pembuatan biopori utamanya dilakukan pada tempat-tempat yang dilakukan betonisasi sehingga air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke saluran air. Ukuran standar biopori yaitu memiliki diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Dengan ukuran ini, sebuah biopori dapat memiliki luas bidang penyerapan sebesar 3.220 cm2. Pembuatan biopori juga sangat mudah, yaitu dengan melubangi tanah pada halaman atau lahan dengan jarak tertentu kemudian menimbunnya dengan dedaunan yang berfungsi sebagai penyaring kebersihan air juga bisa menjadi pupuk kompos. Biopori harus rutin dikontrol untuk memastikan fungsinya dapat berjalan dengan baik.

Kita semua paham bahwa lingkungan kita adalah tanggungjawab kita bersama. Kita hanya membutuhkan kesadaran untuk melaksanakan beberapa hal agar lingkungan ini tetap lestari ditengah gencarnya pembangunan yang mustahil kita hindari. Kesadaran ini seharusnya tanpa harus menunggu perintah dari Pemerintah, tanpa harus dibuatkan Peraturan Daerah, atau apapun. Mari kita mulai sendiri, mulai dari lingkungan kita sendiri, dan jangan sampai pembangunan ini justru berdampak negatif bagi kehidupan kita sendiri. Warga, Pemerintah, Pelaku Usaha, dan Wisatawan yang ada di Karanganyar harus saling bekerjasama untuk mewujudkan hal ini.(ed).