Masih Bisakah Jadi Kota In(tan)pari di Musim Ini ?

Masih Bisakah Jadi Kota In(tan)pari di Musim Ini ?
Oleh : Iin Ismiliyawati
Mojoroto, Mojogedang, Karanganyar

 

Karanganyar, kota yang terletak di kaki Gunung  Lawu ini memiliki lebih dari sejuta pesona untuk dinikmati. Tidak diragukan lagi, panorama alamnya membentang dari pelosok desa hingga ke pusat kota. Bukan sekedar sawah dan ladang hijau saja, melainkan juga pabrik-pabrik industri yang terus bekerja tanpa lelah. Di sisi lain, ada lebih dari 20 tempat wisata yang dapat dijumpai sejauh mata memandang. Karanganyar memang dikenal dengan industri, pertanian, dan pariwisatanya, dengan akronim INTANPARI. Namun, merujuk pada kondisi akhir-akhir ini, sektor pertanian di Karanganyar cukup mengulik perhatian. Menggelitik, namun juga miris.

Dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun mendatang, Indonesia diprediksikan mengalami musim kemarau berkepanjangan. Tentunya, hal ini menjadi  bom waktu masalah dalam dunia pertanian. Tidak sedikit petani memilih menelantarkan ladangnya sembari menunggu musim kemarau berakhir. Sedang yang lainnya tetap condong menanam padi atau bahkan menggantinya dengan kedelai dan jagung. Banyak di antara petani yang mencoba menanam tanaman umbi-umbian atau sejenisnya, namun gagal karena tidak adanya air yang mengaliri ladang mereka. Padi-padi yang terlanjur ditanam pun ikut mengering menjadi jerami . Bahkan, tanah lumpur yang biasanya tergenang air malah merekah lebar kekurangan air.

Permasalahan utama yang dialami petani bukan sekadar kekurangan air untuk ladang mereka. Sebenarnya, setiap daerah telah dijatah air dari waduk yang ada di Karanganyar. Namun, kerap kali air yang dibagikan dicuri-curi dan tidak dapat dibagi secara merata. Akibatnya, petani dengan ladang yang jauh dengan saluran irigasi hanya dapat merenungi nasibnya. Di sisi lain, air yang ada juga kerap jadi bahan perebutan antar petani. Bahkan, tidak sedikit diantaranya terjadi perdebatan dan pertengkaran antar sesama. Banyak di antara mereka terbayang-bayang dengan kegagalan panen dan merasa pesimis ke depannya.

Ketika ladang-ladang petani mulai mengering,  mereka mencari air ke sungai-sungai terdekat dan membuat bendungan kecil. Dengan bantuan pompa air, air yang dibendung tadi dialirkan ke ladang. Cara ini memang sedikit lebih murah daripada membuat sumur bor yang menghabiskan dana hingga puluhan juta rupiah. Tetapi, tetap saja beberapa ladang mengalami kekeringan karena pasokan air yang tidak mencukupi. Pada akhirnya, para petani hanya akan merugi karena besar modal yang dikeluarkan untuk musim tanam serta perawatan jauh lebih besar daripada hasil panen. Belum juga selesai permasalahan irigasi, kini petani yang berhasil merundukkan padinya harus berhadapan dengan banyaknya jumlah burung pemakan biji-bijian. Jumlah padi yang dimakan burung memang tidak seberapa, namun jika setiap hari terjadi,tentu merugikan petani kembali.

Di daerah Mojogedang, lahan-lahan terbengkalai dan hampir separuh ladang telah mengering. Air yang dialirkan selalu kurang mencukupi untuk lahan pertanian. Memang benar ada yang berhasil panen, namun jumlah panen yang diperoleh pada musim ini benar-benar merosot.  Di daerah lain pun juga banyak lahan yang akhirnya terbengkalai. Hal ini pun menimbulkan kemerosotan di bidang pertanian.

Permasalahan demi permasalahan kian menghantam dunia pertanian musim ini. Resah, gelisah, bimbang, dan ketidak tenangan hati senantiasa menyelimuti bayang-bayang petani sampai masa panen tiba. Sebenarnya, kegagalan panen itu sendiri dapat dicegah dengan melakukan perombakan tanaman. Padi bukan satu-satunya tanaman yang dapat ditanam di ladang. Padi memang bukan tanaman air, namun perlu cukup air untuk kelangsungan hidupnya. Maka dari itu, petani bisa beralih merombak tanaman padi dengan jagung, kedelai, kacang tanah, atau singkong yang bahkan hanya membutuhkan air dengan jumlah sedikit.

Di sisi lain, alangkah baiknya jika pemerintah memberikan bantuan berupa subsidi air kepada para petani di daerah yang mengalami kekeringan. Selain subsidi air, penyuluhan dan sosialisasi mengenai perombakan tanaman juga sebaiknya dilakukan. Memang, pengetahuan dasar tentang perombakan tanaman pertanian sudah diketahui petani secara umum, namun perombakan tanaman pertanian dengan mempertimbangkan nilai jual atau pangsa pasar belum tentu dimiliki setiap petani. Harapannya, dengan setiap petani memiliki modal pengetahuan, ladang, dan air yang cukup maka pertanian di daerah Karanganyar dapat tetap berjaya meskipun di musim kemarau yang berkepanjangan. Bahkan, sekali pun memasuki musim paceklik tani, pertanian Karanganyar dapat terus meningkat dan tetap menjadi Kota Intanpari dengan pertaniannya yang makmur.