Jangan Bandingkan Karanganyar Dengan Solo

Jangan Bandingkan Karanganyar Dengan Solo
Oleh : Romensy Augustino
Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar

 

Karanganyar adalah kota di mana saya tinggal sekarang. Kota itu teramat luas jika dibandingkan dengan Solo. Luasnya mencapai 773,8 km persegi. Lebih dari sepuluh kali lipat luas kota Solo. Tapi justru saya menghabiskan hari-hari dengan berkegiatan di Kota bejuluk “The Spirit of Java” itu.

Solo memang punya daya pikat luar biasa. Kebudayaan kota itu dekat dengan kami yang berbaju Orang Jawa. Bahkan menjadi sebuah kebanggaan ketika menjawab pertanyaan, “Dolan neng ndi?.” Teman-teman di tanah perantauan tak mau kalah dengan selalu menjawab Solo sebagai tempat asal mereka. Tak jarang orang dari daerah lain kembali menanyakan, “Solonya mana?.”

Keberadaan keraton sebagai pusat pemerintahan di masalalu, masih menjadi alasan utama “mengaku” bertempat tinggal di Solo. Dua keraton yang masih bertengger gagah hinga saat ini adalah dua objek menarik dengan keeksotisan dan kesexyannya. Keduanya menjadi salah satu cermin kebudayaan Jawa yang mendunia. Bahkan bangunan, serta aktivitas masyarakatnya masih terus digali hingga saat ini, dengan anggapan bahwa konsep-konsep pemikiran Orang Jawa memang elegan untuk diterapkan.

Solo memang punya segudang elemen Kebudayaan Jawa untuk merangsang para pelancong berkunjung. Namun Solo tak memiliki keindahan alam, dan aktivitas kultur budaya Indonesai ya terkenal dengan kebudayaan agrarisnya. Solo kini menjadi kota urban, di mana gedung-gedung bertingkat semakin marak berdiri. Macet jelas, pembangunan infrastruktur marak, hingga akhirnya rumah-rumah warga tak punya lahan untuk sekedar lari anak-anak.

Keindahan alam pegunungan, itulah anugerah yang dimiliki oleh  Karanganyar. Aktivitas-aktivitas kebudayaan agraris masyarakatnya masih terpampang jelas di depan kedua bola mata kita. Tak ketinggalan mitos-mitos tentang alam dan penunggunya masih terus dipercaya hingga kini.

Bersih desa menjadi topik hangat untuk melihat interaksi dunia nyata dan dunia gaib. Entah sejak kapan itu ada, yang jelas, aktivitas itu masih dilakukan hingga sekarang. Penolakan bala dan rejeki melimpah untuk satu tahun ke depan menjadi alasan kuat yang terlontar dari ucapan setiap juru kunci.

Ambilah contoh upacara sedekah bumi sendang Plesungan, atau upacara Dalungan di Macanan. Konsep keduanya tak berbeda jauh dengan apa yang terselenggara di Surakarta. Sajen dan arak-arakan menjadi pakem yang tak ketinggalan. Namun keadaan geografis kedua wilayah menjadikan rasa itu berbeda, “Agak aneh melihat masyarakat yang bukan petani melakukan tradisi yang dilakukan oleh petani.”

Dalan Tembus

Masih ingat lagu yang dinyanyikan Mas Didi Kempot?. Ada dua lagu ikonik dengan Karanganyar dan Solo. Stasiun Balapan untuk Solo dan Dalan Tembus untuk Karanganyar.

Khusus untuk dalan tembus, bisa dibilang, “Ingat Karanganyar, ingat Dalan Tembus.” Lagu itu pertama kali muncul di tahun 2000-an. Awal kemunculannya, lagu yang menceritakan tentang jalan yang menghubungkan Karanganyar dan Magetan itu dibawakan Solo oleh sang maestro. Dan di tahun 2018, lagu itu diproduksi kembali dengan format duet bersama Rina Brebes.

“Nganti seprene neng ati tansah kelingan.” Sepenggal kalimat dalam refrain itu menegaskan pada pendengar tentang kenangan-kenangan personal. Bukan hanya dari sang penyanyi, tapi juga merasuk pada para pendengarnya. Kenangan tentang keindahan yang menjadi latar atas kebersamaan.

Udara nan sejuk, pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi, kicauan burung-burung di pagi hari, dan buah-buahan yang bergelantungan di pinggir jalan menjadi sebuah latar menarik untuk menghabiskan liburan. Bersama kawan, keluarga, dan pasangan hidup akan memberikan kesan personal yang tak terlupakan. Maka tak salah jika bupati terdahulu menggunakan “Dalan Tembus” sebagai media mempromosikan Karanganyar. Dan menjadi hal menarik bagi masyarakat ketika beliau sendirilah yang menyanyikannya langsung bersama Mas Didi.

Duet keduanya telah ada sebelum lagu itu diproduksi kembali. Bergaya bak seorang nan elegan, kala itu Bu Rina seolah ingin menyiratkan, “Ini lho Karanganyar”. Terekam jelas dalam video clipnya pembangunan jalan baru Karanganya-Magetan yang selesai di tahun 2008. Menyusul kemudian, spot-spot pariwisata, seperti Telogo sarangan, dan Candi Sukuh. Tak ketinggalan keindahan alam nan elok terbingkai khusus dalam video berdurasi 7 menit itu.

Dalan tembus semakin menegaskan apa yang dimiliki oleh Karanganyar. Dan memang, tak sepantasnya sebagai warga Karanganya kita selalu membandingkan Karanganyar dengan Solo. Keduanya memiliki pesan dan kesan yang berbeda bagi para pelancongnya. Solo yang kental dengan Kebudayaan Jawanya dan Karanganyar yang syarat dengan kebudayaan agrarisnya. Sekian.