IMPLEMENTASI PHBS DI SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN PESERTA DIDIK

IMPLEMENTASI PHBS DI SEKOLAH DALAM UPAYA PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN PESERTA DIDIK
Oleh : Dimas Wihandoko, S.Pd M. Pd
Guru Penjaskes SDN 01 Bolon, Colomadu

  

Istilah PHBS ( Perilaku Hidup Bersih Sehat ) pada prinsipnya adalah Sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok  atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan Kesehatan Masyarakat. Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga dan tatanan lainnya termasuk lingkungan sekolah.

Dan bila diimplementasikan di sekolah maka perilaku ini dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran. Dalam hal ini guru merupakan  motor penggerak utama pelaksanaan PHBS ini, didukung oleh  keterlibatan PUSKESMAS bidang promosi kesehatan yang rutin melakukan sosialisasi kepada peserta didik memberi instruksi dan  penekanan terhadap beberapa indikator yang merupakan sasaran PHBS di sekolah diantaranya :

  1. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun
  2. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
  3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
  4. Olahraga yang teratur dan terukur
  5. Memberantas jentik nyamuk
  6. Tidak merokok di sekolah
  7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
  8. Membuang sampah pada tempatnya

Ada tantangan  internal dan eksternal untuk mewujudkan Kedelapan komponen tersebut tantangan internal sasaran PHBS adalah saat diinstruksikannya kedelapan kompenen tersebut kepada  seluruh peserta didik dari kelas I hingga kelas VI, ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan, utamanya  pada jenjang pendidikan dasar rasa tanggung jawab dan kepedulian anak khususnya kelas bawah ( kelas I – III ) mengenai kesehatan sangat masih perlu ditingkatkan, karena karakteristik anak sekolah dasar yang masih gemar bermain dan pola berpikir mereka yang masih abstrak menjadikan mereka kurang peduli terhadap kebersihan diri maupun lingkungan, kebersihan diri meliputi kebersihan gigi dan mulut serta telinga, sedang kebersihan lingkungan lebih pada kebersihan ruang kelas dan sekolah. Ketidakpedulian peserta didik ini bisa lebih menjadi apabila bila tidak ada perhatian dan peran serta orang tua dalam tugas mengingatkan tentang kebersihan. Maka dari itu 8 komponen tersebut yang terlihat sangatlah sederhana pastinya cukup memerlukan energi dan  kesabaran dalam upaya menjadi komponen tersebut menjadi sebuah kebiasaan juga sebuah kebutuhan dengan timbulnya kesadaran dari peserta didik.  Dan tantangan internal yang lain lebih pada kontiuitas atau pelakasanaan program yang ajeng dan berkelanjutan, terkadang saat guru dihadapkan pada pemenuhan administrasi mengajar dan urusan birokrasi kepegawaian, program implementasi yang telah dilaksanakan kurang menjadi prioritas utama bagi guru, guru jarang melaksanaan monitoring langsung pelaksanaan PHBS di sekolah. Untuk itulah dibuat regulasi yang merupakan dukungan dan Peran untuk membina PHBS di sekolah, Adanya kebijakan dan dukungan dari pengambil keputusan seperti Bupati, Kepala Dinas pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan, DPRD, lintas sector sangat penting untuk pembinaan PHBS disekolah dalam upaya terwujudnya sekolah sehat. Disamping itu, peran dari berbagai pihak terkait (Tim Pembina dan pelaksana UKS), sedangkan masyarakat sekolah berpartisipasi dalam perilaku hidup bersih dan sehat baik di sekolah maupun di masyarakat.

Upaya mewujudkan terciptanya sekolah yang bersih dan sehat bukan tanpa alasan, selain kegiatan pembelajaran berlangsung dengan nyaman , siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit. Sehingga siswa mampu mengikuti proses belajar mengajar dengan baik, hal ini tentu memiliki pengaruh terhadap semangat proses belajar mengajar yang berdampak pula pada prestasi belajar siswa
selain itu citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga dapat menarik minat orang tua peserta didik.

Tantangan dari luar adalah ketika sekolah dihadapkan dengan adanya pedagang asongan terutama jajanan makanan yang sering  kali mangkal di depan sekolah, menolak dan mempersilahkan pedangan tersebut untuk tidak berjualan di lingkungan sekolah adalah hak preogratif sekolah, namun, rasa kemanusiaan lah yang menjadi dilema ketika mereka berdalih mencari rejeki untuk menghidupi anak istri, dan pada akhirnya pihak sekolah hanya memberikan pengarahan kepada mereka untuk menggunakan bahan – bahan yang sehat alami dalam jajanan mereka, Dan sebaiknya sekolah melibatkan PUSKESMAS untuk mengambil sampel makanan yang dijajakan untuk memastikan bahan pembuatnya aman dikonsumsi, karena akan mempengaruhi kesehatan anak baik jangka panjang maupun pendek bila jajanan mengandung zat yang tidak laik konsumsi.

“ first make a habbits and habbits make us “  adalah istilah pertama yang mungkin pantas untuk implementasi phbs dilingkungan sekolah, pertama kita bentuk kebiasaan pada peserta didik terlebih dahulu dan kebiasaan itulah yang akan membentuk mereka, seperti telah ditulis di atas sudah menjadi sebuah kesadaran dan kebutuhan untuk hidup bersih dan sehat menjaga lingkungan. Menjadi sebuah kebutuhan  layaknya kebutuhan makan dan minum. Peserta didik memiliki keyakinan yang kuat dimana didalam tubuh sehat terdapat jiwa kuat, memiliki lebih energi untuk mengukir prestasi. Penerapan PHBS di Sekolah dapat berupa :

  1. Menanamkan nilai-nilai untuk ber-PHBS kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku (kurikuler)
  2. Menanamkan nilai-nilai untuk ber-PHBS kepada siswa yang dilakukan diluar jam pelajaran biasa (ekstra kurikuler)
  3. Kerja bakti dan lomba kebersihan kelas
  4. Aktivitas kader kesehatan sekolah /dokter kecil.
  5. Pemeriksaan kualitas air secara sederhana
  6. Pemeliharaan jamban sekolah
  7. Pemeriksaan jentik nyamuk di sekolah
  8. Demo/gerakan cuci tangan dan gosok gigi yang baik dan benarPembudayaan olahraga yang teratur dan terukur
  9. Pemeriksaan rutin kebersihan
  10. kuku, rambut, telinga, gigi dan sebagainya.
  11. Bimbingan hidup bersih dan sehat melalui konseling.
  12. Kegiatan penyuluhan dan latihan keterampilan dengan melibatkan peran aktif siswa, guru, dan orang tua, antara lain melalui penyuluhan kelompok, pemutaran kaset radio/film, penempatan media poster, penyebaran leafleat dan membuat majalah dinding.
    Pengawasan & penerapan sanksi Pengawas penerapan PHBS di sekolah mencatat pelanggaran dan menerapkan sanksi sesuai dengan peraturan yang telah dibuat seperti merokok di sekolah, membuang sampah sembarangan

Istilah kedua yang relevan dengan pelaksanaan PHBS adalah “ jer basuki mawa bea “  berarti bahwa sebuah keberhasilan membutuhkan pengorbanan, ketika sekolah mampu menimplementasi kan 8 komponen sasaran menjadi sebuah kebiasaan pada warga sekolah itu berarti sekolah tersebut berhasil, namun keberhasilan itu tentu membutuhkan proses dan anggaran, untuk mendukung program ini tentu sekolah mengalokasikan anggaran pelaksanaan PHBS dengan melibatkan unsur komite sekolah untuk mendukung dalam hal pendanaan untuk sarana dan prasana pembinaan PHBS di sekolah. Unsur kedua adalah orang tua murid melatih kebiasaan hidup bersih sehat di rumah dan masyarakat. Dan unsur utamanya adalah guru.

Maka demi mewujudkan generasi emas yang berkualitas mumpuni berkarakter sehat jasmani dan rohani. Laksanakan PHBS ini dengan tiga kunci utama, laksanakan mulai dari hal yang kecil dan sederhana, laksanakan dari masing – masing individu peserta didik sendiri, dan laksanakan sekarang juga. Mari hidup sehat