Benahi Tradisi Dhukutan, Kampung Nglurah Siap Jadi Kampung Wisata

Camat Tawangmangu, Rusdiyanto (baju batik biru) ikut berjoget dalam tradisi Dhukutan Di Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu Selasa (2/10)

KARANGANYAR – 2 September 2018

Kampung Nglurah, Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu terus bersolek. Pembenahaan itu dilakukan untuk membuat kampung tersebut menjadi kampung wisata. Selain tanaman hias, kampung nglurah juga terdapat tradisi Dhukutan atau bersih desa yang dilakukan 7 bulan sekali.

“Hampir 90 persen penduduk kampung Nglurah berprofesi petani tanaman hias dan pedagang tanaman hias. Kami terus mengevaluasi penyelenggaraan Dhukutan, penambah segala sesuatu agar kunjungan wisatawan ke kampung kami bertambah banyak,” papar Kordinator Lingkungan (Korling), Ismanto Hartono kepada Karanganyar.

Dia menambahkan tradisi dhukutan ditambahi dengan pawai keliling kampung. Hal itu dimaksudkan agar semua masyarakat terlibat dan ikut serta dalam tradisi budaya Dhukutan. Menurut Ismanto tradisi dhukutan sudah dilakukan secara turun-temurun dari nenek moyang warga desa setempat. “Tradisi Dhukutan ini dilakukan untuk membersihkan desa dan bersyukur agar bumi tetap aman dan bebas dari segala bencana. Dilakukan pada selasa Kliwon wuku dukhutan,” tambahnya.

Proses Dhukutan dimulai hari senin kemarin. Yakni para warga mengumpulkan sedekah nasi jagung. Kemudian malam selasa Kliwon digelar tirakatan. Pagi harinya pukul 07.00 dilakukan pawai keliling dengan dengan beras tumpeng dari jagung.

tradisi Dhukutan dengan berkeliling kampung.

 

Sementara ketua penyelenggara Dhukutan, Sugeng mengatakan tradisi ini bermula ketika dahulu senopati Temanggung beristirahat ditempat tersebut. Pada saat istirahat itu dia melihat sekitar kampung tidak ada padi akan tetapi palawija. Dari mulai palawija Gemantung, palawija Ijo dan pala pendem. Hal ini sebagai wujud syukur atas limpahan hasil bumi. Kemudian, jagung yang dilempar itu hanya sebagai simbol untuk sedekah kepada alam. Toh, sedekah  ke tercecer ditanah akan dimakan oleh binatang-binatang kecil seperti semut dan lain sebagainya. “Yang jelas tradisi ini adalah sedekah alam dan dijauhkan dari segala bahaya,” imbuhnya. (hr/Tgr)