Upaya Pemkab Antisipasi Bencana di Musim Kemarau

Bupati Karanganyar, Juliyatmono (memegang mic) memberikan pengarahan pada Sambung Rasa di Hal. Radio Swiba, Kamis (30/8)

Karanganyar, 31 Agustus 2018

Musim kemarau penjang tahun ini membawa keprihatinan tersendiri bagi penduduk di Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Karanganyar. Menyikapi hal ini tadi malam, Kamis (30/8) Radio Swiba mengadakan siaran langsung dengan tema tersebut. Narasumber yang diundang adalah mereka yang benar-benar paham di bidangnya  bahkan yang menangani langsung hal ini. Sedangkan peserta atau audiens yang dihadirkan adalah para relawan bencana baik dari Damkar, BPBD, Senkom dan PMI.

Narasumber utama adalah Bupati Karanganyar, Juliyatmono. Dalam penjelasannya Juliyatmono menyampaikan bahwa  yang pertama kita harus bersyukur ke hadirat Tuhan alam ini anugerah Tuhan. “Kita harus berlatih berpikir jangan sampai hidup ini mengeluh, sangat tidak bagus Tuhan menciptakan kita untuk berbuat yg terbaik jangan sampai merusak lingkungan. dulu waktu kecil jarang mendengar bencana, karena alam masih segar alam masih orisinil,” ungkapnya.

“Sekarang alam ini sudah banyak yang rusak. Sudah nampak di darat di laut, bumi ini rusak. Kerusakan  terjadi di mana-mana, oleh karena tangan-tangan manusia. Perilaku eksploitasi, perilaku yang sangat bertentangan dengan alam sehingga rusak. Berulang kali saya mengingatkan. Ayo bareng-bareng berpikir, bagaimana berkomunikasi dengan Tuhan dengan baik, harmonisasi dengan alam, tumbuh-tumbuhan dengan baik, juga berharmonisasi dengan sesama makhluk hidup. Oleh karena tidak semua orang berpikir baik, pemerintah siap mengantisipasi. Indonesia hanya mengenal 2 musim, kemarau dan penghujan. Sekarang ini musim kemarau yang panjang. Bencana yang timbul adalah kebakaran. Padahal kebakaran itu sendiri pasti disebabkan oleh human error, kelalaian manusia, perilaku manusia yang ceroboh. Listrik tidak tertata bagus, menyalakan kompor sembarangan tanpa dikontrol, membuang puntung rokok sembarangan, membuang sampah sembarangan. Ini adalah perilaku yang salah. Pemerintah sebetulnya bisa lebih efisien kalau perilaku manusianya baik. Walau demikian, kalau sudah terjadi kebakaran Damkar tetap siap membantu setiap saat dengan cepat. Kendala kendaraan yang rusak milik Damkar, akan ditambah dengan kendaraan baru. Apabila ada kekeringan, PDAM siap menyediakan kebutuhan air. Syukurlah sampai hari ini kebutuhan air kita masih tercukupi dengan baik. PMI juga siap menghadapi resiko-resiko bila terjadi bencana maupun situasi yang tidak terduga untuk menyelamatkan jiwa para korban,” tambah Juliyatmono.

Juliyatmono berharap supaya Karanganyar bebas dari bencana. Hal ini harus diusahakan, tidak hanya dengan doa saja. Usaha yang dimaksud adalah dengan tetap menjaga alam dan lingkungan sekitarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah menjelaskan bahwa Kabupaten Karanganyar mempunyai wadah yang cukup banyak dalam mengantisipasi bencana, di antaranya BPBD, PMI, Damkar, Relawan yang tergabung dalam Ormas-Ormas. Sumber daya manusianya juga siap. Bahkan Karanganyar menjadi rujukan kabupaten lain apabila ada bencana di daerahnya, karena Karanganyar sudah berpengalaman dalam ikut mengatasi bencana di mana-mana, misalnya di Aceh, Nusa Tenggara Barat (NTB). Anggaran untuk mendayagunakan organisasi dan membantu korban bencana sudah disediakan. Sarana kendaraan juga cukup untuk operasional penanganan bencana, baik mobil Damkar, mobil untuk dapur umum yang dikoordinir BPBD maupun yang dikoordinir Dinas Sosial.

Ketua Pelaksana (Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Bambang Jatmiko menambahkan bahwa BPBD mempunyai fungsi mengatasi bencana mulai dari pra bencana, tanggap darurat bencana dan pasca bencana. Pra bencana yang dimaksud adalah penyediaan data rawan bencana, upaya pencegahan bencana misalnya, bersih-bersih sungai, pemeliharaan alat-alat. Tanggap darurat yang dilaksanakan oleh BPBD dibantu para relawan sejumlah 1.600 orang yang sigap dan benar-benar sangat membantu. Relawan yang beberapa waktu yang lalu dikirim untuk membantu korban bencana gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) ternyata sangat membantu utamanya dalam pemasangan tenda karena tidak semua orang bisa melakukannya.

Di akhir pengarahannya, Juliyatmono menghimbau supaya kita menjaga tumbuh-tumbuhan yang ada di Kabupaten Karanganyar. Pohon-pohon yang ditebang, harus diganti lebih banyak jumlahnya dari yang ditebang. Hal ini untuk mencegah banjir di kemudian hari serta untuk menyediakan gas O2 (Oksigen) bagi pernafasan kita. Rencananya akan ada gerakan menanam pohon besar-besaran di Kabupaten Karanganyar pada 15 Desember 2018 mendatang.  Demikian Diskominfo. (krs/ard)