Kabupaten di Jawa Tengah Bisa Tiru Karanganyar dalam pengelolaan Desa Wisata

Sekda Kabupaten Karanganyar, Samsi memberikan paparan kepada anggota DPRD Propinsi Jawa Tengah mengenai desa wisata di ruang Podang 2 (31/05)

Karanganyar – 31 Mei 2018

Pengelolaan Desa Wisata di Karanganyar mendapat acungan jempol dari DPRD Propinsi Jawa Tengah. Tak heran, jika para wakil rakyat ingin melihat dari dekat dan belajar pengembangan potensi desa wisata di Karanganyar untuk rancangan pembuatan perda. Bahkan, kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah diminta untuk lebih banyak belajar mengenai pengelolaan desa wisata.

“Kami ingin membuat perda inisiatif dari DPRD terkait desa wisata. Sebab sektor wisata dapat mendongkrak devisa dan menciptakan lapangan kerja baru” ujar Ketua Rombongan DPRD Propinsi Jateng, Hj Nur Khasanah SH saat memberikan paparan di ruang Podang II Setda Karanganyar (31/05).

Nur menambahkan pengelolaan pariwisata hendaknya dikelola secara professional dan bertanggungjawab. Khususnya desa wisata  yang mulai tumbuh dan menggeliat. Desa wisata bisa menjadi pendongkrak kesejahteraan masyarakat. Lebih jauh, Nur mempertanyakan beberapa hal tentang pengelolaan desa wisata. Yakni perda tentang desa wisata, bagaimana koordinasi desa-desa yang mempunyai potensi wisata dan PAD dari desa wisata.

Sekretaris Daerah (Sekda) Samsi mewakili Pjs Bupati Karanganyar, Prijo Anggoro Budi Raharjo menyambut baik rombongan dari DPRD Propinsi Jawa Tengah. Perlu diketahui, Karanganyar menjadi nomor dua se Indonesia kinerja pemerintahaan terbaik. Bahkan, Karanganyar mendapatkan juara tiga se Indonesia dalam penataan pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan desa wisata memang tumbuh begitu pesat. “Pertumbuhaan desa wisata memang banyak dikelola masyarakat desa. Sehingga banyak tumbuh-tumbuh BUMDes. Justru kami berharap ada regulasi dari Pemerintah sehingga bisa kami ikuti,” papar Samsi.

Pengelolan pariwisata di Karanganyar, Menurut Samsi hanya satu milik Pemkab yakni edupark. Sedangkan tempat wisata yang lain adalah kerjasama dengan berbagai pihak. Termasuk wisata Grojogan Sewu di Tawangmangu juga kerjasama dengan Perhutani. Itu saja kerjasama baru terjalin akhir-akhir ini setelah berjuang selama empat tahun untuk melobi. Mengenai PAD dari desa wisata pemerintah belum bisa berharap banyak. Karena PAD hanya kecil. “Namun yang kita kejar adalah multi player efek dari  desa wisata tersebut. Yakni rumah makan, penginapan atau hotel dan berbagai kerajinan asli karanganyar,” imbuhnya. (hr/ana)