MPR RI Kemas Pagelaran Wayang Kulit sebagai Sarana SosialisasiV

 

Karanganyar, Senin 7 Mei 2018

Indonesia memiliki berbagai macam budaya dari berbagai daerah yang ada. Sebagai sarana untuk mensosialisasikan program-progam pemerintah seringkali dipakai seni dan budaya dari berbagai daerah.

Demikian halnya yang terjadi pada Sabtu malam, 5 Mei 2018 di Lapangan Desa Suruh Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar diselenggarakan pagelaran wayang kulit sebagai sarana sosialisasi program pemerintah 4 (empat) pilar.

Acara diawali dengan suguhan karawitan dari grup karawitan Gito Laras, Pancot Tawangmangu sembari menunggu kehadiran tamu undangan dan warga masyarakat Desa Suruh dan sekitarnya.

Kehadiran rombongan dari Sekretariat Jenderal MPR RI yang terdiri dari Hidayat Nur Wahid (Wakil Ketua MPR RI), Martri Agoeng (Anggota MPR dari Fraksi PKS), Siti Fauziah (Kepala Biro Humas MPR RI), Andrianto (Kepala Bagian Humas MPR RI) dan beberapa staf dari Setjend MPR RI disambut tarian oleh dua orang pemuda yang berperan sebagai pendekar.

Siti Fauziah, Kepala Biro Humas MPR RI melaporkan bahwa acara pagelaran wayang kulit malam itu diselenggarakan sebagai sarana sosialisasi kepada warga masyarakat tentang 4 (empat) pilar yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sekaligus sebagai alat untuk melestarikan kebudayaan daerah. Siti Fauziah berharap pagelaran wayang kulit ini tidak hanya untuk dinikmati atau hanya menjadi tontonan tetapi juga sebagai  tuntunan.

Acara tersebut bisa terselenggara atas kerja sama antara Setjen MPR RI dan Yayasan Insan Mandiri. Dalam sambutannya Anwar Abdul Gani, Ketua Yayasan Insan Mandiri  menyampaikan bahwa pagelaran wayang kulit malam itu dimaksudkan sebagai sarana memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Suruh Kecamatan Tasikmadu dan sekitarnya. Lebih lanjut ditegaskannya bahwa masyarakat Indonesia harus cinta kepada bangsa dan Negara Indonesia, Pancasila, UUD 45 dan NKRI.  “Berbagai macam cara digunakan untuk sosialisasi, yang paling mengena di Jawa adalah dengan pagelaran budaya wayang kulit, sekaligus untuk ‘nguri-uri budaya Jawi,” imbuhnya.

Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI menjelaskan bahwa MPR RI sudah sering menyelenggarakan acara sosialisasi 4 Pilar di berbagai daerah. Seperti yang sudah-sudah, kegiatan sosialisasi dikemas dengan pertunjukan seni budaya di masing-masing daerah. Di Jawa Barat kegiatan sosialisasi disampaikan melalui wayang golek, di Sumatera dengan tari-tarian dan lain-lain. Sarana-sarana ini diharapkan bisa mempermudah untuk mengundang masyarakat supaya tertarik mau hadir.

Ditambahkannya, sesuai UUD 45 pasal 30 (1) tugas Negara adalah memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Wayang kulit merupakan salah satu kebudayaan yang sudah diakui secara nasional bahkan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

“Berdasarkan hal ini sudah sewajarnya sekarang kita menggunakan kebudayaan yang adiluhung ini (wayang kulit) supaya melalui hal ini dalang bisa menyampaikan prinsip berbangsa, bernegara, prinsip melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum, prinsip menjaga keamanan, kedamaian, guyub rukun, dan lain-lain,”  jelasnya.

“Melalui sosialisasi dengan pagelaran wayang kulit kali ini yang mengambil judul ‘Wahyu Cakraningrat’ diharapkan timbul kesadaran akan keberagaman, kepedulian akan NKRI supaya tetap terjaga, serta menegaskan bahwa kita semua saudara sebangsa, setanah air, sebagaimana dicontohkan oleh para founding fathers, para pendiri negara ini,” imbuhnya.

Pagelaran wayang kulit dimulai dengan penyerahan tokoh wayang oleh Hidayat Nur Wahid kepada dalang, Danang Suseno, yang merupakan putra dari dalang kondang, Ki Manteb Sudarsono dari Karanganyar.

Demikian Diskominfo (krs)