Taman Saraswati, ‘Jujugan’ Baru Wisata Di Karanganyar

Sekda Kabupaten Karanganyar, Samsi melihat lokasi langsung rumah untuk edukasi pertanian di kompleks Taman Saraswati, Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso

KARANGANYAR- 19 Maret 2018

Desa-desa di Karanganyar terus berbenah diri. Tujuan berbenah itu adalah untuk mendatangkan Pendapatan Desa (PD)  dengan menyulap lahan kurang potensial menjadi lebih berdaya guna. Salah satu desa yang berbenah itu adalah Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso. Desa yang menjadi pintu masuk kecamatan Ngargoyoso tersebut, mengubah lahan 1 hektar kurang potensial menjadi tempat wisata. Tempat itu dinamakan Taman Saraswati.

Jika anda berkunjung ke area Ngargoyoso, pasti akan dengan mudah menemukan Taman Saraswati. Taman yang baru didirikan 1 Januari 2018 lalu terus menjadi ‘lirikan’ wisatawan lokal. Sebab, letaknya berada dipinggir jalan. Tiga bulan berlalu, sudah ada puluhan SD atau SMP di derah Solo telah berwisata di Taman Saraswati. Mereka melakukan out band ditempat baru tersebut. Sebab selain bisa turbing, peserta out band akan mendapatkan edukasi pertanian dan buah-buahaan.

“Desa Girimulyo merupakan pintu masuk kawasan kebun teh kemuning, candi Sukuh dan Cetho. Desa dan lembaga desa berupaya maksimal untuk mendatangkan pendapatan untuk desa dengan menyulap lahan yang kurang potensial menjadi tempat wisata yang menarik,” papar Kepala Desa Girimulyo, Suparno menjeng.

Kepala Desa yang sangat familiar tersebut mengatakan taman Saraswati terdiri dari turbing, taman selfi, villa dan gunung cilik. Saat ini, menurutnya baru taman, resto, turbing dan edukasi pertanian. “Kami tengah membangun musium buah, dimana ada 36 macam buah di tempat tersebut. Kami memang harus inovatif untuk mendatangkan pendataan desa,” imbuhnya.

Untuk mempercantik Bumdes Taman Saraswati tersebut, Suparno menggandeng pihak ketiga. Sebab jika hanya mengandalkan kas desa maka pembangunan taman Saraswati akan molor atau tidak terealisasi dengan baik. Untuk pembagiannya, desa mendapatkan 15 persen dan pihak ketiga mendapatkan 75 persen. “Momen tahun baru kemarin, ada 2000 pengunjung. Sedangkan per minggunya sekitar 400-500 pengunjung,” imbuh bapak yang memiliki hobi tanaman tersebut.

Nama sarawasti diambil dari nama dari sesosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih. Sekaligus Saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan suci yang akan memberikan keindahan dalam diri. Sehingga konsepnya, menurut Suparno adalah taman bukan rumah makan.  Sehingga orang yang datang kesini akan mendapatkan pendidikan.

Semenatara pihak pengembang Heri mengatakan rencana pembangunan taman Saraswati yang akan dikerjakan sekitar 1 hektar. Sesuai nama Saraswati berarti ilmu pengetahuan, pihaknya berharap yang hadir akan mendapatkan ilmu pengetahuan. Khususnya edukasi pertanian dan akan hadir alat-alat pertanian dulu sampai sekarang. “Anggaran dasar untuk menyelup Taman Sarawati sekitar Rp 1,3 miliar. Rata-rata justru yang kesini dari luar kota,” imbuhnya. (hr/ft/ard/adt)