Peran Pelajar Jaga Ketahanan Bangsa Lewat Medsos

Peran Pelajar Jaga Ketahanan Bangsa Lewat Medsos
Oleh: Teguh Waloyo

 

Menguasai teknologi merupakan keharusan di era ini. Teknologi memberikan kemudahan bagi penggunanya. Membantu penggunanya untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Sebagai contohnya, kita saat ini tidak takut tersesat tatkala hendak bepergian ke suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi. Meskipun tidak tahu jalan, kita dibantu oleh teknologi. Google maps sebagai jawabannya. Dengan google maps kita dapat kemanapun tanpa takut tersesat. Tinggal memasukkan lokasi tujuan, dan kita akan dituntun sampai lokasi yang kita kehendaki. Itu baru satu contoh kasus. Belum lagi dengan contoh lainnya yang masih banyak.

Berbicara ihwal teknologi informasi, tampaknya kurang absah jika tidak membicarakan media sosial.  Sebuah platform untuk berinteraksi melalui media internet ini sangat digemari oleh khalayak. Diantara media sosial yang dekat dengan kita masyarakat Indonesia adalah facebook, twitter, instagram, path, whatsapp, telegram, dll. Berbagai platform medsos tersebut tampaknya selalu memiliki peminat yang banyak. Pengguna internet Indonesia mencapai 63 juta orang. 95% menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Peringkat Indonesia sendiri menempati peringkat 4 pengguna facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India. (kominfo.go.id)

Dengan memiliki akun medsos, menjadikan manusia mudah dalam mengakses informasi. Berbagai informasi akan menghampiri kita. Malah, saking banyaknya informasi yang kita dapatkan melalui media sosial dapat diibarat dengan tsunami informasi. Masuk media sosial memberikan berbagai macam informasi. Kelihatannya positif bukan manakala kita dapat memiliki informasi yang banyak?

Keberadaan media sosial ternyata tidak selamanya berdampak positif. Perkembangan teknologi informasi juga membawa dampak negatif pula. Tsunami informasi tersebut membawa persoalan juga. Akurasi data informasi medsos dipertanyakan. Ternyata banyak kabar bohong (hoaks) yang bertebaran di dunia maya melalui medsos. Bila dibiarkan, hal semacam ini tentunya tidak bagus untuk ketahanan sebuah bangsa.

Bahaya Hoaks

Jika hendak menghancurkan sebuah negara, tidak perlu repot-repot membuat senjata nuklir ataupun senjata kimia lainnya. Saat ini telah ditemukan cara alternatif untuk menghancurkan sebuah negara. Cukup dengan teks saja suatu negara bisa hancur. Menggunakan teks yang diberi nyawa hate spin dan hoax adalah jawabannya. Teks tersebut dengan sendirinya akan bergerak menyerang isi kepala pembacanya. Teks yang amat mematikan dan siap menyerang siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Waspadalah!

Hate spin atau praktik rekayasa pesan yang penuh hasutan merupakan gejala yang sedang menjangkiti Indonesia. Saat ini keberadaannya sudah terasa meresahkan. Jika dibiarkan berkembang, maka eksistensi negara ini dipastikan akan berakhir tidak lama lagi. Apalagi negara ditopang oleh struktur masyakat yang majemuk dan kedewasaan masyarakat maya yang masih labil. Faktor ini turut menyuburkan perkembangbiakan hate spin dan hoax.

Pun dengan Hoax (berita bohong). Hoax juga menjadi virus di media berbasis internet. Penyebarannya begitu cepat dan mengerikan. Karena mengonsumsi berita hoax, orang perorang bisa berdebat tiada ujung bahkan berkelahi adu fisik. Keberadaan berita hoax tidak terlepas dari budaya internet yang kian berkembang. Informasi yang ada di internet menjadi semakin cepat terupdate. Hanya sekali klik maka gelombang tsunami informasi akan menghampiri. Kenyataan semacam ini berdampak pula pada perkembangan hoax yang semakin cepat.

Orang yang tidak bertanggungjawab biasanya menggunakan hoax sebagai senjata untuk meraih tujuan tertentu. Bahkan bisa juga menggunakan hoax sebagai alat politik. Bila hal demikian dilakukan secara terus menerus akan berdampak pada kerusakan di dunia nyata. Bisa saja terjadi aksi saling serang bahkan bunuh membunuh dikarenakan mengonsumsi berita hoax. Keberadaan berita hoax hendaknya menuntut kepada pembaca agar lebih berpikir jernih dan mengedepankan konfirmasi serta verifikasi.

Cherian George, dalam bukunya berjudul “Hate Spin: The Manufacture of Religious Offense and Its Threat to Democracy (2016)” mengklasifikasikan hate spin menjadi dua bagian. Pertama, incitement atau hasutan, yaitu bentuk-bentuk pesan yang mendiskreditkan, menyerang atau mendiskriminasikan kelompok lain, baik secara halus maupun kasar. Kedua, indignation, yaitu semacam pembelaan diri yang dilegitimasi persepsi adanya serangan ataupun ancaman tertentu. Pesan semacam ini biasanya membawa polarisasi yang menajam. Seperti contoh guyonan yang sebenarnya biasa saja dikemas menjadi seolah-olah itu persolan prinsip antara hidup dan mati.

Untuk berita kategori hate spin ini bisa saja berpijak dari fakta. Namun fakta disini merupakan fakta yang sudah digoreng dengan minyak beracun. Apabila fakta ini dihidangkan kepada konsumen maka akan mengakibatkan sekarat bahkan kematian kepada orang mengonsumsinya. Seperti halnya gejala Islamophobia di Amerika Serikat juga tidak terlepas dari upaya hate spin yang terjadi disana. Jika hate spin terus dibiarkan berkembang di Indonesia, kemungkinan konflik horizontal yang berujung disintegrasi bangsa tidak terelakkan.

Pada negara yang terinfeksi hate spin, George menawarkan solusi alternatif. Yaitu melibatkan publik, politisi, dan media. Pendekatan yang dilakukan oleh ketiga unsur tersebut diharapkan mampu meredam perkembangan hate spin maupun hoax yang menjamur di internet Indonesia. Akan tetapi, banyak juga yang meragukan akan hal ini. Dimana masyarakat saat ini cenderung tidak mempercayai lagi pemerintah dan media. Meski demikian, harapan haruslah hidup. Jika harapan sudah mati, lantas apa yang merubah semua ini?

Jika memang pemerintah dan media tidak bisa diharapkan. Maka sudah menjadi kewajiban bagi publik untuk mengambil alih tanggungjawab melawan hate spin dan hoax. Terlebih kepada pelajar yang menjadi basis intelektualitas di masyarakat. Sejauh ini posisi mahasiswa juga berada di atas dua kaki. Disatu sisi mereka adalah intelektualitas yang seharusnya mampu melawan hate spin dan hoax dengan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya. Dilain sisi mereka juga sebagai agen yang berkontribusi sebagai aktor penyebar hate spin dan haox. Dimana kelompok pelajar merupakan kelompok yang memiliki kecenderungan untuk menggunakan internet dan biasanya suka men-share berita-berita. Itu gejala psikologis anak muda yang memiliki kecenderungan agar mendapat kesan dirinya sebagai orang yang update.

Peran Santri Pelajar

Santri merupakan bagian dari sebuah entitas pelajar. Keberadaan santri memiliki posisi yang tidak boleh dianggap enteng di dalam dunia pendidikan. Jika ditelisik, santri memiliki nilai lebih jika hanya dibandingkan dengan pelajar pada umumnya. Hal ini disebabkan santri pelajar mendapatkan ilmu sesuai dengan pelajar umumnya dan ditambah dengan basic pendidikan keagamaan yang kuat. Nilai terakhir inilah yang menjadi nilai tambah bagi santri pelajar jika dibanding dengan pelajar pada umumnya.

Santri sebagai pelajar juga memiliki orientasi yang sama dengan elemen pelajar yang lainnya. Di Indonesia ini, ihwal pendidikan diatur dalam  Undang-Undang No 20 tahun 2003. Disana dijelaskan terkait tujuan yang hendaknya dicapai oleh peserta didik, yaitu mengacu Pasal 3, yang berbunyi: “Pendidikan nasional  berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Mengacu UU No 20 tahun 2003, hendaknya santri pelajar menggali dan memaknai dengan baik terkait regulasi ini. Mempersiapkan segala sesuatu yang menunjang tercapainya tujuan ini dan mengamalkan segala keilmuan yang telah dipelajarinya. Keinsafan akan status sebagai pelajar harus dimiliki oleh setiap pelajar. Sebuah entitas masyarakat yang menuntut dan menggenggam ilmu. Tidak hanya sekadar menuntut dan menggenggam ilmu, sudah seharusnya santri pelajar mengamalkan ilmunya. Konon kata pepatah arab mengatakan, ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Jadi ilmu tanpa dibarengi amal kegunaannya perlu dipertanyakan.

Sebagai ahli ilmu, santri pelajar dituntut untuk senantiasa beramal. Pun ketika hidup di dalam dunia maya, dunia medsos yang seperti alam rimba. Bertebaran informasi yang kebenarannya perlu diragukan. Malah sering, medsos sebagai wahana untuk menyebar hoaks, kebencian dan fitnah. Melihat fenomenan ini, hendaknya santri pelajar menjadi angin segar dengan membawa semangat perubahan. Mengarahkan media sosial untk saling bertukar informasi, berdiskusi, menjalin silaturahim, dan amal kesalehan lainnya. Jangan malah turut serta dalam arus degradasi moral bangsa.

*IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA (IPNU) Kab. Karanganyar