Kesulitan untuk Kenikmatan

Kesulitan untuk Kenikmatan

Oleh Iis Nuryati, S.Pd.

 

“Saya tinggal di kost di pinggiran kota. Tidak ada pemanas, tidak ada kamar mandi. Saya atur mandi saya, seminggu hanya sekali. Uang kiriman sering datang terlambat. Kalau kiriman uang belum datang, saya sering tidak makan. Perut keroncongan. Saya habiskan waktu di perpustakaan, mengerjakan tugas. Kadang hanya makan sebutir apel …”

Bayangkan hal ini: hidup sendiri di negeri orang demi menuntut ilmu. Tak ada beasiswa sebagaimana mahasiswa-mahasiswa lainnya. Tak pelak, kesulitan demi kesulitan datang menghampiri. Bukan sekali dua kali kiriman uang datang terlambat. Ke kampus mesti jalan kaki, padahal jarak antara tempat tinggal dengan kampus cukup jauh, (terpaksa menyewa yang jauh karena tak mampu membayar sewa asrama mahasiswa). Fasilitasnya pun tak layak. Bahkan suatu ketika, karena sering tidak makan, TBC menyerangnya. Berpikir kondisi itu akan membuatnya mundur? Oh tidak. Justru semua itu tak sedikit pun melemahkannya, justru sebaliknya, menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.

Berbilang tahun kemudian, sosok ini telah meraih cita-citanya. Ia tak hanya meng-Indonesia, tapi telah mendunia dengan karya-karya besarnya. Hasil risetnya menjadi acuan riset-riset berikutnya. Namanya masuk ke jajaran ilmuwan muslim abad ini.

Adakah yang tahu, siapakah tokoh dalam kisah di atas? Ya, beliau adalah BJ Habibie, putra Indonesia, seorang pakar auronautika yang memegang beberapa hak paten pada teknologi penerbangan. Temuan-temuannya yang dikenal dengan Faktor Habibie, Teori Habibie dan Metode Habibie menyumbang peran penting bagi kemajuan teknologi kedirgantaraan. Namanya bersanding erat dengan kepakarannya di dunia pesawat terbang. Dunia telah mengetahuinya. Akan tetapi, tak banyak yang tahu, bahwa untuk menjadi Habibie yang seperti ini, ada jalan panjang yang harus dilalui. Ada kesulitan yang harus ditaklukkan. Ada kesabaran yang harus selalu ditanam. Tapi Habibie telah menunjukkan, bahwa kesulitan dan kepayahan itu telah berbuah kenikmatan.

Kenikmatan tidak dapat diraih dengan kenikmatan. Ini adagium yang berlaku. Mereka yang ingin merasakan kenikmatan harus melalui kesulitan dan kepayahan. Seberapa besar dia mampu bertahan dalam kesabaran, sebesar itulah dia akan mengecap manisnya kenikmatan. Mereka yang sedari awal tidak mau susah, maka pasti di akhirnya akan susah. Mereka yang pada mulanya lebih suka berleha-leha, bersantai dan bersenang-senang, pasti tidak akan merasakan kesenangan pada akhirnya.

Adapun mereka yang mampu menahan diri dari berkeluh kesah, ingin cepat berhasil, dan bersabar menempuh jalan, niscaya akan sampai pada kenikmatan yang dijanjikan. Dikatakan bahwa, “Tidak ada kebesaran kecuali bagi orang yang punya tekat, tidak ada kelezatan kecuali bagi yang sabar, dan tidak ada istirahat kecuali bagi yang lelah.”

Ini adalah ketentuan yang harus dilalui dalam segala lini kehidupan. Para pelajar tidak akan mendapat nilai yang memuaskan kecuali dengan kesungguhan belajar. Para pegawai atau pengusaha tidak akan memeroleh penghasilan sesuai harapan kecuali dengan merasakan capeknya bekerja. Para menteri, para presiden, semuanya harus bersusah payah lebih dahulu untuk kemudian merasakan hasilnya di kemudian hari. Tidak ada keberhasilan kecuali dengan usaha gigih. Tidak ada kenikmatan yang terlihat di depan mata datang begitu saja secara instan dan bersifat tetiba. Jalan harus ditempuh, dayung harus dikayuh. Keringat mesti menetes, darah mesti mengalir. Yang harus kita lakukan adalah bertahan dalam perjuangan dan bersabar menempuh kesulitan. Semoga kemudahan selalu menyertai kita.