Pentas Drama Tari Sekar Saka Surendra

kominfo
Bupati Karanganyar Juliyatmono saat memberikan sambutan dihadapan warga Karanganyar di Anjungan Jateng TMII, Minggu Siang (17/11)

Karanganyar – Pemerintah Kabupaten Karanganyar menghibur warga Karanganyar yang merantau di Jabodetabek seperti Paguyuban Warga Karanganyar (Pagar Anyar), Cah Karanganyar Rantau (Cakra), Sedulur Bumi Karanganyar (Sebra), Komunitas Pesbuker Karanganyar (KPK), dan Paguyuban Warga Karanganyar Surakarta (PWKS) dengan mempersembahkan drama tari Sekar Saka Surendra di Pendopo Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jaktim, Minggu Pagi (17/12).

Acara tersebut merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Pemprov Jateng dalam rangka misi kesenian untuk masing-masing Kabupaten Kota di wilayah Propinsi Jateng memperkenalkan kesenian daerahnya.

Hadir dalam acara tersebut Bupati Karanganyar beserta istri dan jajaran kepala OPD di lingkup Pemkab Karanganyar.

Dalam sambutannya, Bupati Karanganyar Juliyatmono meminta masukan kepada tokoh Karanganyar yang ada di Jakarta untuk terus bersama membangun Karanganyar semakin maju dan sejahtera.

“Ibarat pertandingan sepakbola, warga Karanganyar di Jakarta adalah penonton, disitulah justru peran Bapak Ibu sekalian dalam menyaksikan Karanganyar dari jauh lebih detail. Masukan Bapak Ibu kiranya dapat membantu Pemerintah Daerah memajukan Karanganyar”, ujar Juliyatmono

Ditambahkan lebih lanjut, Juliyatmono mengatakan Pemkab Karanganyar siap memfasilitasi warga Karanganyar dalam membentuk sekretariatan bersama pelbagai paguyuban tersebut diatas untuk bersinergi bersama-sama membangun Karanganyar.

Sementara itu hadir 1000 (seribu) warga Karanganyar memadati pendopo Anjungan Jateng dan antusias menyaksikan suguhan yang disajikan oleh Duta Seni Kabupaten Karanganyar. Selain drama tari ditampilkan pula kesenian campur sari Sangga Buana asal Karanganyar.

Sutradara drama tari, Ari Kuntarto mengatakan Sekar Saka Surendra, Gerak kekuatan ilmu sondo dan Koro merupakan cerita simbol kisah dramatik – tragis cikal bakal berdirinya desa tasikmadu yang diadopsi dari cerita Sondokoro yang ada di Karanganyar. Dikisahkan ada seorang Tumenggung kaya raya dan bermartabat bernama Jaya Lelono. Dengan kekuasaanya itu, Tumenggung menginginkan Sri Widowati dan Setyowati, keduanya adalah putri dari Sondo dan Koro.

Dikarenakan Tumenggung Joyo Lelono tidak mengetahui bahwa Sri Widowati dan Setyowati adalah putri dari Sondo dan Koro, maka terjadilah perseteruan diantara mereka sehingga terjadi peperangan yang membuat langit menggelegar dan bergemuruh bagai kilat di awan. Karena Jaya Lelono dan Sondo Koro berasal dari satu perguruan Padepokan Padas Plalar, peperangan berlangsung hingga 40 hari 40 malam yang berakhir sempyuh (hilang) tanpa ada yang menang dan kalah.

“Inti dari cerita tersebut jangan sampai harta benda membutakan kita, tapi dengan harta tersebut menjadikan sesama lebih bahagia dan sejahter”, ujar Ari Kuntarto.

Demikian Diskominfo (ad)