Menjadi Pahlawan

Menjadi Pahlawan

Iis Nuryati, S.Pd.
Pandeyan, Tasikmadu

Sejarah telah melahirkan pahlawan-pahlawan besar, nama-nama mereka terus hidup meski pemiliknya telah berpuluh, beratus atau bahkan beribu tahun telah tiada. Makam mereka diziarahi, kisahnya diulang-ulang. Usia historis mereka lebih panjang dari usia biologisnya. Sebuah kehormatan yang memang layak didapat oleh mereka semua karena jasa, pengabdian, dan perjuangannya telah membawa perubahan besar bagi peradaban.

Telah terukir nama Jendral Soedirman, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, dan beribu pahlawan tak bernama yang telah mewariskan kemerdekaan bagi negeri ini. Kisah mereka melegenda, menjadi simbol kejayaan bangsa. Keperwiraan mereka menyejarah, melewati ruang dan waktu, sebagai sumber keteladanan bagi generasi sepeninggalnya.

Mereka, para pahlawan itu, telah tiada. Meninggalkan jejak-jejak kebaikan hingga kita bisa mengenalinya meski tak pernah bersua. Mereka hidup di masa yang berbeda dengan masa kita. Dan sekarang, marilah kita tengok pada diri kita masing-masing, apakah kelak kita layak menyandang gelar pahlawan? Bila dibandingkan dengan mereka, tentu kita tidak ada apa-apanya. Kita bukan siapa-siapa, tak memiliki modal apa-apa, dan tak ada kerja yang bagaimana-bagaimana. Kita (merasa) hanya sesosok insan dengan segudang kekurangan dan setitik saja kelebihan. Maka bagaimana kita akan menjadi pahlawan?

Kita tak perlu berkecil hati, karena sebenarnya peluang untuk menjadi pahlawan selalu ada, lowongan menjadi pahlawan tetap terbuka. Tidak ada syarat yang menyulitkan untuk menjadi pahlawan, baik dari segi latar belakang pendidikan, pekerjaan, keluarga, pelatihan, dan lain-lainnya. Tidak pula ada ketentuan harus memiliki setumpuk modal atau segudang pengalaman. Karena menjadi pahlawan hanya membutuhkan satu hal: kesungguhan. Yap,  kesungguhan memainkan peran.

Maka semua yang bersungguh-sungguh dengan peran-peran masing-masing berhak menjadi pahlawan.

Seorang ayah adalah pahlawan bagi keluarganya. Kerja kerasnya mencari nafkah, melindungi, dan mengarahkan keluarganya menuju surga adalah perjuangan yang tak ternilai harganya. Seorang ibu adalah pahlawan, karena pengorbanannya mendidik dan merawat dan membekali putra-putrinya dengan bekal dunia akhirat. Seorang anak bisa menjadi pahlawan dengan berbakti pada kedua orang tuangya. Ketua RT, kepala desa, camat, bupati, gubernur dan presiden adalah pahlawan. Kebijakannya membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Petugas kebersihan, guru, pedagang,  dan beragam profesi atau jabatan apapun, mulai dari karyawan rendahan sampai petinggi perusahaan, adalah pahlawan di bidangnya masing-masing.

Lalu, bagaimana dengan yang tak punya jabatan sama sekali? Tak perlu khawatir, bahkan tanpa jabatan atau gelar satu pun yang menempel, kita tetap bisa menjadi pahlawan. Yakni dengan mempersembahkan amal unggulan yang keberkahan dan kemanfaatannya dapat dirasakan oleh orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya? Kebermanfaatan inilah yang akan menjadikan sosok yang biasa-biasa menjadi sosok pahlawan, meski mereka tak pernah memanggul senjata atau menghasilkan karya besar yang melegenda. Nama mereka mungkin tidak akan tertulis dalam buku-buku sejarah, tetapi jejak kebaikannya akan tetap dirasakan oleh sesamanya.

Ada banyak orang di sekeliling kita dengan kebermanfaatan seperti ini. Ada yang setiap hari berbagi sarapan, ada yang mengajar mengaji tanpa digaji, ada yang menularkan ilmu memasak tanpa dibayar, dan lain-lain.  Mereka ini orang-orang yang keberkahannya bisa membahagiakan sesama, seperti setetes embun yang memercik daun, terasa benar keberadaannya. Laksana lebah yang  menghasilkan hanya yang baik-baik saja, kehadirannya selalu ditunggu, ketiadaannya bakal dirindu.

Dan andaikan karena sesuatu, kemanfaatan itu masih terbatas pada diri sendiri, itupun tak mengapa. Karena ketika kita bersungguh-sungguh membina diri kita sendiri, kita pun sejatinya telah menjadi pahlawan, setidaknya, pahlawan bagi diri sendiri. Perjuangan mengalahkan hawa nafsu, menundukkan keinginan-keinginan semu dan melawan kemalasan yang banyak menghabiskan waktu itu bukan hal yang mudah. Saat yang lain bergelimang kemaksiatan sedang kita mampu bertahan dalam kebaikan adalah sebuah prestasi besar. Ini artinya, jika berhasil mengalahkan hawa nafsu, layak pula disebut pahlawan.

Ketangguhan melawan hawa nafsu ini akan melahirkan sosok dengan pribadi yang baik dan akhlak mulia. Dengan bekal ini, akan lebih mudah mengajak orang lain menjadi baik pula. Membentuk pribadi yang baik juga merupakan tahap awal mencetak keluarga yang baik. Dan dari keluarga-keluarga yang baik, akan terwujud masyarakat yang baik. Ternyata, jika ditelusuri, semua bisa berawal dari langkah kecil kita. Tanpa kita sadari, kita telah turut serta menjadi pahlawan dalam kehidupan.

Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjadi pahlawan. Setiap kita telah dibekali dengan potensi kebaikan yang bisa kita kembangkan sebaik-baiknya dengan penuh kesungguhan. Mungkin karya atau amal kita tak begitu dikenal orang, tapi tak perlu kita risau. Karena  yang kita tuju adalah kedudukan kita di sisi Tuhan, bukan gelar atau pandangan di mata manusia. Karenanya, bila kita tidak dianggap pahlawan bagi manusia, selalu ada kesempatan untuk menjadi pahlawan di hadapan Tuhan.

“Pahlawan sejati tidak akan membuang energi untuk memikirkan apakah mereka akan ditempatkan dalam sejarah manusia atau ditempatkan di liang lahat makam pahlawan. Karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana mendapat tempat yang paling terhormat di sisi Tuhan Yang Mahaesa” (HM. Anis Matta)

 

Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2017
(Iis Nuryati, S.Pd.)