“Membaca” Masa Depan

“Membaca” Masa Depan

Oleh: Teguh Waloyo

Mahasiswa Prodi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang

 

Hodgson (1960), membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.

Membaca merupakan bagian dari proses dalam kehidupan manusia. Apalagi dalam dunia manusia modern, menjadi bagian tak terpisahkan. Ada tahapan yang harus dilewati agar dapat membaca. Seingat saya, dalam pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu SD dijelaskan aspek-aspek terakait bahasa. Disana dijelaskan ada aspek berbicara, membaca, menulis. Dilihat dari proses pembelajaran manusia, ketiga aspek tersebut sudah tersusun urut. Sebelum dapat membaca, seseorang harus melewati berbagai proses untuk dapat membaca. Sebagaimana kita ketahui, ada tata urutan pengetahuan manusia yang harus dilewati agar dapat membaca. Manusia belajar berbicara dulu, kemudian belajar membaca, setelah itu barulah belajar menulis.

Tata urutan sebagaimana yang sudah disebutkan adalah tidak mutlak. Ada berbagai faktor yang menyebabkan tata urutan menjadi tidak pakem. Seiring berjalannya proses pembelajaran seseorang, ketiga aspek tersebut akan berkelindan. Membangun relasi keterkaitan antara satu aspek dengan aspek lainnya. Misal seperti ini, untuk menjadi seorang pembicara yang ulung, tampaknya koleksi bacaannya harus cukup memadai. Faktor bacaan akan berdampak pada kualitas daripada apa yang nantinya akan keluar dari mulut sang pembicara. Lihatlah Bung Karno, apa-apa yang disampaiaknnya memiliki bobot nilai tinggi tidak terlepas dari apa yang ia baca. Begitu pula dengan penulis ulung, mereka giat membaca agar tulisannya berkualitas. Dalam hal ini, membaca adalah kunci utama untuk berbicara dan menulis.

Dewasa ini, kita diberi kemudahan dalam mengakses bahan bacaan. Toko-toko buku dapat dijumpai diberbagai tempat. Adapula perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan. Entah itu buku, majalah, tabloid, koran, dan bahan bacaan lainnya. Apalagi saat ini dimanjakan dengan adanya internet. Berbagai e-book dapat kita temui di dunia maya yang itu dapat dipergunakan sebagai nilai lebih bagi generasi kita untuk mengakses bahan bacaan. Sebenarnya, tidak ada alasan untuk tidak membaca di era ini. Kecuali malas.

Tanggungjawab

Menurut data World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Conecticut State University, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika. Berjarak tujuh tingkat dari negara tetangga kita, Malaysia yang duduk di posisi 53. Sedang negara yang literasinya paling baik adalah Finlandia. (Tempo, 16 April 2016)

Freebody & Luke (1990) menawarkan konsep literasi. Literasi, dalam pandangan Freebody & Luke, adalah proses memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikan teks. Tidak berhenti pada bisa atau tidaknya seseorang membaca dan menulis. Melek huruf yang ditandai dengan kebisaan seseorang membaca dan menulis tidak selalu berhubungan dengan luasnya wawasan dan pengetahuan seseorang.

Lemahnya literasi di Indonesia kiranya dapat tercermin dari cerita kawanku. Ia bercerita, suatu ketika dirinya sedang mebaca buku berjudul “Pemberontak” karya Albert Camus. Pada saat membaca dirinya ditanyai oleh salah seorang temannya. Temannya itu bertanya apa yang ia baca. Langsung saja kawanku menunjukkan sampul buku tersebut kepada temannya yang penasaran. Temannya yang bertanya itu tampaknya masih penasaran dengan buku tersebut. Jadilah sebuah perbincangan menarik yang tidak berhenti disitu.

Temannya itu menyusuli dengan pertanyaan apakah buku yang sedang dibaca berkaitan dengan materi kuliah. Jawab kawanku, bahwa buku tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan materi kuliah. Dan pada akhirnya sang penanya berkata, apa gunanya membaca buku seperti itu, toh tidak menunjunag perkuliahan. Begitu kawanku bercerita kepadaku.

Kisah kawanku ini semacam menunjukkan ada dikotomi dalam dunia membaca. Sepenangkapan saya, temannya kawanku itu memilah dan memilih perihal pengetahuan. Ia akan membaca jika bahan bacaannya menunjang pada perkuliahan yang berdampak pada nilai mata kuliah. Selain buku kuliahan, ada anggapan tidak penting. Dari sini timbul kekhawatiran bahwa banyak pelajar atau mahasiswa itu membaca disebabkan oleh kepentingan nilai akademik belaka. Jika demikian adanya, kelak jika sudah tidak menempuh pembelajaran di instansi pendidikan formal ia akan berhenti membaca. Bukankah membaca bagian dari proses kehidupan yang hendaknya dilakukan secara terus menerus?

Sebenarnya, apakah gunanya membaca? Itulah pertanyaan yang timbul dalam benak pikiran saya. Setelah saya pikir-pikir, membaca itu akan menambah pengetahuan. Setelah membaca tentunya kita akan menjadi tahu tentang apa yang dibaca. Yang dulunya tidak tahu, setelah membaca akan menjadi tahu. Selain itu membaca juga akan memperkaya kosa kata dari pembaca. Dengan membaca akan menemukan kosa kata baru yang akan menambah koleksi kosa kata di kepala pembaca. Hal ini berdampak pada gaya bicara pembaca atau tulisannya lebih variatif dalam hal penggunaan diksi dalam uraiannya. Ada lagi, membaca akan membawa pembaca untuk berimajinasi secara bebas. Perihal semacam ini biasanya ketika kita membaca novel. Kita akan menggambarkan dengan imajinasi kita sendiri apa yang dituliskan oleh teks dalam buku. Imajinasi secara bebas tidak akan kita dapatkan dalam budaya visual semacam televisi. Karena televisi sudah melakukan tafsir terhadap visual cerita sehingga pembaca tidak diberi kewenangan untuk berimajinasi secara bebas.

Sudah saatnya bangsa ini gemar dan menggemarkan membaca. Kita bisa melihat bangsa-bangsa besar tidak terlepas dari kuatnya budaya baca. Seperti halnya Jepang, warganya begitu akrab dengan yang namanya membaca. Mumpung bisa membaca, marilah kita bergiat membaca. Goenawan Mohamad, sastrawan Indonesia pernah berkata, “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.”