Tradisi Wahyu Kliyu, Ribuan Apem Direbutkan Warga

Adat tradisi Wahyu Kliyu

Karanganyar, Senin (09/10/2017)

Jelang tengah malam, ratusan warga sudah berkumpul di rumah sesepuh Desa Kendal, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Jumat (06/10), menunggu dimulainya tradisi lempar apem. Warga setempat menyebutnya Wahyu Kliyu.

Setiap tanggal 15 bulan Suro, tradisi Wahyu Kliyu rutin diadakan sebagai wujud rasa syukur warga Dusun Kendal Lor dan Dusun Kendal Kidul. Sebelum acara inti lempar apem dimulai, didahului dengan pagelaran wayang kulit.

Tepat pukul 23.30 WIB, acara Wahyu Kliyu dimulai dengan doa dipimpin pemuka agama desa setempat. Setelah selesai, ratusan warga berdiri mengelilingi wadah berbentuk kotak berukuran besar.

Tepat pukul 00.00 WIB, dengan aba-aba tokoh desa, ratusan warga itu kompak melemparkan apem yang dibawanya dari masing-masing rumah. Namun, arah lemparan apem harus ke arah bawah, sehingga tidak saling mengenai pelempar.

Saat melempar kue apem yang berjumlah 344 potongan yang ditaruh di “tengok”, mereka mengucapkan “Wahyu Kliyu” bersama-sama, secara berulang sampai potongan habis tak tersisa.

Setelah selesai, ribuan potongan apem yang berada ditengah kerumunan warga di tutup daun pisang, setelah beberapa saat doa-doa kembali dipanjatkan, lalu daun pisang dibuka dan potongan-potongan kue apem itu dibagi-bagikan untuk warga.

“Tradisi ini sudah turun temurun ada sejak dulu sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan warga kami yang dipegang terus menerus dan tetap dilestarikan,” kata sesepuh desa, Rakino.

Di acara tersebut, Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan Wahyu Kliyu ini merupakan adat budaya lokal sebagai keyakinan warga setempat. Selain itu, Bupati mengimbau adat itu jangan sampai diterjemahkan oleh pihak lain yang tidak suka.

“Bagi yang tidak suka tidak usah melihat, sebaiknya saling menghormati. Karena ini sebuah keyakinan agar guyub rukun hidupnya,” katanya.(pd)