Pedagang Jujur, Kambing Sakit Tidak Dijual

Petugas dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Karanganyar saat memeriksa kambing kurban.

Karanganyar, Kamis (31/08/2017)

Pedagang kambing kurban ini patut di contoh, karena kambing miliknya ada yang sakit, sehingga tidak dijual. Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Karanganyar mengapresiasi kejujuran pedagang.

“Ada dua kambing yang sakit mata (belekan). Ini saya sendirikan, tidak dijual. Biar sembuh dulu, butuh waktu satu bulan untuk mengobati,” kata pedagang kambing, Agus Sutarsono, di Padangan, Kelurahan Jungke, Kecamatan Karanganyar, Rabu (30/08).

Agus menganggap, hewan sakit itu tak layak dijual untuk kambing kurban, sehingga  menyarankan calon pembeli memilih kambing lainnya yang fisiknya lebih sempurna. Dia tidak mau membohongi pembeli.

“Kalau saya biarkan, berarti membohongi pembeli. Ini saya obati dulu sampai sembuh, baru kemudian dijual,” kata Agus.

Di tempatnya, Agus memiliki sekitar 50 ekor kambing siap jual yang dibelinya dari Ponorogo, Jatim dan sekitarnya. Harga kambing mengalami kenaikan menjelang hari raya kurban. Kenaikannya hingga Rp 400 ribu per ekor.

“Saya menjual seekor kambing paling murah Rp 1,5 juta jenis lokal sedangkan termahal Rp 5 juta jenis Ettawam” katanya.

Kasi Keswan Disnakkan Kabupaten Karanganyar, Fathurrahman, mengatakan pemeriksaan hewan kurban dengan mengambil beberapa sampel di tiap kecamatan dimulai Senin (28/08).

“Hasilnya kami berulangkali mendapati hewan sakit bercampur sehat di kandang, seharusnya hewan sakit dikarantina agar tidak ikut terbeli,” kata Fathurrahman

Pihaknya mendapati hewan sakit mata, koreng dan sejenisnya karena efek cuaca dan pengangkutannya ke lapak. Dia meminta untuk dikarantina dulu, sampai sembuh, dan  jangan dijual jika masih sakit.

“Kami terus memantau hewan kurban. Sebelum pemotongan, pemeriksaan pada kesehatan hewan sedangkan setelah dipotong pada kualitas daging tetmasuk jerohan,” katanya. (pd)