Jaga Kelestarian Populasi Sapi Di Kabupaten Karanganyar, Disnakan Larang Pemotongan Sapi Betina Produktif

KOMINFO
Bupati Karanganyar Juliyatmono membuka ‘Sosialisasi Pencegahan Pemotongan Ternak Betina Ruminansia Produktif Di Kabupaten Karanganyar’ di Ruang Podang 2 Setda Kabupaten Karanganyar, Kamis (8/6).

Karanganyar, Kamis 08 Juni 2017

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Karanganyar melakukan sosialisasi terhadap para peternak dan penjagal mengenai pelarangan pemotongan sapi betina produktif, Kamis (08/06/2017) di ruang Podang II Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Karanganyar.

Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada para peternak dan penjagal untuk lebih memahami tentang aturan-aturan yang berkaitan dengan pelarangan pemotongan ternak sapi betina produktif sehingga keberadaan populasi sapi di Karanganyar berkembang dan bertambah.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Disnakan Karanganyar, Sumijarto mengatakan populasi sapi betina di Karanganyar tergolong tinggi yakni mencapai enam puluh ribu ekor. Dan untuk tahun depan Disnakan menargetkan sapi betina produktif capai 15.700 ekor dan diharapkan 70 persen buntingnya dari jumlah populasi tersebut.

Ditambahkannya, selain sosialisasi untuk menjaga populasi sapi betina produktif, Disnakan juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga Rumah Pemotongan Hewan (RPM) dan hasilnya tidak ada sapi betina produktif yang dipotong.

“Kami lakukan sidak di tiga RPH dan hasilnya nol pelanggaran. Semoga dapat terus dipelihara sehingga populasi sapi berkembang, pelaku usaha dapat berjalan lancar dan dapat menyediakan daging yang sehat,aman, halal dengan harga yang tidak terus melambung tinggi,”ujarnya.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono berharap dengan adanya sosilaisasi pencegahan pemotongan ternak betina ruminansia produktif, Karanganyar dapat menjadi Kabupaten swasembada daging.

Dalam sosialisasi tersebut menghadirkan drh. Slamet dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah sebagai narasumber. Ia menyampaikan sapi potong berperan sebagai penghasil daging, sumber pendapatan, sarana investasi, tabungan, fungsi sosial, sumber pupuk,tenaga kerja dan pemanfaatan limbah pertanian.

“ UU No. 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal  18 ayat 2 yaitu ternak ruminansia betina produktif dilarang disembelih karena merupakan penghasil ternak yang baik, kecuali untuk keperluan penelitian, pemuliaan atau pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan.

Lebih lanjut, ia mengatakan upaya meningkatkan produktivitas dengan melaksanakan kegiatan intensif dan penyelamatan pemotongan ternak ruminansia betina produktif.

Demikian Diskominfo (ft/ind)