Napak Tilas Perjanjian Giyanti

kominfo
Sambutan Bupati Karanganyar dalam acara Napak Tilas Perjanjian Giyanti. (12/2/2017)

Karanganyar, 12 Februari 2017

Malam itu hujan tak juga ada hentinya, akan tetapi hadirin sudah siaga mengikuti prosesi Napak Tilas Perjanjian Giyanti di dukuh Kerten RT 01 RW 08 Kelurahan Jantiharjo. Diawali dengan kirab tumpeng hasil bumi dan makanan tradisional yang diarak oleh para pemuda, rombongan menuju lokasi acara.

Lurah Jantiharjo, Ardianto menyatakan  apresiasinya kepada para tamu undangan yang berkenan hadir malam itu, Sabtu, 12 Februari 2017. Acara yang diketuai oleh Ngadimin ini dimaksudkan untuk tetap mengenang sejarah terwujudnya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Ikut hadir pada acara tersebut di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga,   Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia Karanganyar, Camat Karanganyar, Lurah Popongan, Lurah Bolong, Danrtamil dan Kapolsek Karanganyar.

Dalam sambutannya Bupati Karanganyar, Juliyatmono menyampaikan kebanggaannya akan banyaknya tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Karanganyar di antaranya Desa Anggrasmanis Kecamatan Jenawi yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram , Museum Manusia Purba di Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Monumen Perjanjian Giyanti di Kelurahan Jantiharjo, dan lain-lain.

Dengan banyaknya peninggalan bersejarah di Kabupaten Karanganyar ini kita harus menjaga dan memeliharanya supaya bisa diteruskan kepada anak cucu penerus bangsa. Hal ini dimaksudkan juga untuk meningkatkan kecintaan kepada tanah air Indonesia.

“Saya berkeinginan supaya suatu saat wakil dari Kesultanan, dari Mangkunegaran dan dari Kasunanan bisa datang ke Monumen Perjanjian Giyanti ini supaya mereka paham bahwa di sinilah terjadi pembicaraan tentang pembagian wilayah di Kerajaan Mataram waktu itu,” kata Juliyatmono.

Ditambahkan Juliyatmono bahwa untuk mempersiapkan hal ini monumen yang sudah berusia 262 tahun ini harus dibuat dan ditata lebih baik dan layak sehingga pantas dan menarik untuk dikunjungi.

Di akhir acara disuguhkan tarian Tri Darma yang dibawakan oleh dua orang penari putri berpakaian tradisional, diiringi tembang Macapat yang dibawakan oleh Waluyo serta musik tradisional gender. Macapat yang ditembangkan berkisah tentang terjadinya Perjanjian Giyanti. Demikian Diskominfo (kris/adit)