Fabriek Fikr 2 Manfaatkan Ruang Bekas PG Colomadu

Pertunjukan Fabriek Fikr 2 tahun 2016 selama dua hari memanfaatkan ruang dan isi yang ada di bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

Pertunjukan Fabriek Fikr 2 tahun 2016 selama dua hari memanfaatkan ruang dan isi yang ada di bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

Karanganyar, Minggu (20/11/2016)

Pertunjukan Fabriek Fikr 2 tahun 2016 selama dua hari memanfaatkan ruang dan isi yang ada di bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu, Kabupaten Karanganyar, seperti di atas bekas mesin giling dan tempat yang dulu digunakan pabrik yang berdiri tahun 1861 itu.

Tahun ini, ada pertunjukan dance performance  tentang sekelompok anak muda Papua, selain latihan menari, mereka juga harus berlatih memasak untuk hidup hemat di Jakarta. Pada pertunjukan ini, di dalam ruang pabrik PG Colomadu, mereka menggelar cara-cara berlatih memasak, mulai dari cara tradisional, yang disebut Bakar Batu Papua, hingga ketrampilan memasak kuliner modern.

Ada pula pertunjukan Painting Performance, bila di Singapura berbentuk pertunjukan melukis tunggal, maka di Fabriek Fikr 2 ini, Sardono W Kusuma melibatkan empat hingga lima orang pelukis muda yang melukis interaktif dengan tiga penari yang ketika bergerak, rambut panjangnya akan berubah menjadi kuas yang mencambuk kanvas dan melelehkan warna-warna.

Selain itu ada Pantomime, di Fabriek Fikr tahun ini,sekelompok aktor pantomime merefleksikakan peristiwa yang disorot oleh Charlie Chaplin pada masa tersebut di atas mesin Pabrik Gula Colomadu.

Pertunjukan visual Video Mapping  dengan memanfaatkan tembok besar bangunan PG Colomadu yang mengangkat tema Pabrik dan Dimensi. Dibagian dalam pabrik, dinding disepanjang ruang Stasiun Masakan diisi dengan visual video mapping bertema Water and Particle . Sementara itu diruang listrik, bertema Cosmic and Electric           

Selanjutnya adapula Expanded Cinema, dengan mempertunjukan film-film karya Sardono W Kusuma, berbicara tentang dokumentasi kehidupan seni dan upacara adat di beberapa tempat yang dibuat tahun 1968 hingga 1973, seperti Nias, Batak, Jakarta, Bali, Keraton Surakarta, Candi Borobudur, Paris dan Osaka.

Kemudian Tony Broer, kali ini mendirikan tenda di dalam Pabrik. Dia ingin mengurung tubuhnya di dalam sebuah ruang, selama 10 hari, menikmati prosesnya hidup di ruang yang begitu kecil hingga pertunjukan tiba.

Sardono W Kusuma, saat dijumpai di lokasi, Sabtu (19/11) mengatakan tahun ini setelah Fabriek Fikr 1 Tahun 2015 mengadakan pertunjukan lagi. Berbeda dengan tahun lalu,  tahun ini ditampilkan proses bagaimana orang teater bekerja.

“Seperti prosesnya ditampilkan lukisan, bagaimana pelukis bekerja. Memberikan ruang anak-anak muda kreatif. Pertunjukan dibuka dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 19.30 WIB,” katanya.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Ricky Pesik, mengatakan di ranah global kreatifitas sudah menjadi sumber pendapatan baru buat berbagai bangsa untuk maju perekonomian. Indonesia adalah negara yang mempunyai sumber kreatifitas yang beragam.

“Tugas besar kita adalah secara terencana bisa membentuk ekosistem hadirnya kegiatan-kegiatan yang bertaraf Internasional, itu sungguh menarik,” katanya.

Badan Ekonomi Kreatif ingin mendukung sesuatu yang sudah dirintis oleh pelaku setempat itu sendiri,supaya berkelanjutan. “Jangan menciptakan yang baru menyaingi apa yang sudah dirintis oleh pelaku itu sendiri, tapi kita mendukungnya,” katanya.

Sementara itu ditempat yang sama, Wakil Bupati Karanganyar, Rohadi Widodo, mengatakan banyak pemikiran-pemikiran yang luar biasa.

“Masih ingat dalam benak saya, seperti yang pernah dikatakan Mas Don (Sardono W Kusuma), untuk membangun sebuah theater tidak perlu membangun gedung yang mewah dan megah, tapi justru seperti hal ini menjadi sebuah budaya dengan menampilkan seni dari berbagai daerah,” katanya.

Selain itu, dengan acara ini orang yang tidak paham seni secara bagus harapannya dengan adanya pertunjukan ini, bisa hadir dan menikmati karya seniman-seniman.pd