KPA Karanganyar Ajak Warga Peduli HIV AIDS

kominfo

Wakil Bupati sekaligus Ketua KPA Karanganyar (tengah) bersama Sekretaris KPA, Djatmiko (kanan) dan kabid P2PL Dinkes Karanganyar (kiri), Fathkul Munir saat menyampaikan upaya pengendalian penyebaran virus HIV AIDS, Senin (26/9).

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Karanganyar Meminta Peran Aktif Masyarakat Dalam Pengendalian HIV AIDS. Langkah ini sebagai upaya untuk menekan penyebaran HIV AIDS di Kabupaten Karanganyar. Hal itu diungkapkan Ketua KPA Kab. Karanganyar sekaligus Wakil Bupati Rohadi Widodo pada Program Pencegahan HIV Melalui Tranmisi Seksual (PMTS), Senin (26/9/2016) di Ruang Pertemuan SFA Karanganyar.

“Semua kab/kota mengalami peningkatan HIV AIDS di masing masing wilayah. Berbagai upaya untuk penurunan HIV AIDS  kita lakukan, salah satunya setiap pasangan calon pengantin untuk cek kesehatan dan donor darah sebagai antisipasi terjangkitnya virus HIV AIDS,” kata Ketua KPA Karanganyar, Rohadi Widodo dihadapan para peserta Program PMTS yang diikuti SKPD, TNI, POLRI, LSM Pendampingan dan pihak terkait.

Pada kesempatan tersebut, disampaikan beberapa wilayah yang terindikasi sebagai tempat penyebaran virus HIV AIDS di Kabupaten Karangayar. Wilayah tersebut meliputi Karangpandan, Dangkrong Tasikmadu, Jumantono, Jumapolo, Jatipuro, dan  Jatiyoso.

“Empat (4) J menjadi wilayah yang rawan, karena banyak  komunitas  Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) ataupun waria dan ini sangat sensitif sekaligus penyebaran virus HIV AIDSnya cenderung lebih cepat . Ini harus menjadi perhatian khusus, karena tugas kita juga melindungi orang-orang yang sehat,”tandas Rohadi Widodo

Wabup menambahkan pihaknya hingga kini terus berupaya menekan penyebaran HIV AIDS di Kabupaten Karangayar.

“Harapan kami, 87 desa dari 177 desa/kalurahan yang terbentuk WP (Warga Peduli) HIV AIDS untuk bersama melakukan upaya pencegahan penyebaran HIV AIDS,”pesannya.

Dilaporkan data terakhir per Juni 2016 sebanyak 401 orang telah positif terjangkit HIV AIDS. Dan itupun yang terdata. Kemungkinan yang tidak terdata oleh kita bisa mencapai dua setengah kali jumlahnya.

”Seperti fenomena gunung es lebih dari itu, hanya yang tampak saja yang diketahui. Bahaya HIV AIDS ini luar biasa dibandingkan dengan narkoba. Tingkat mematikannya luar biasa dan berdampak buruk untuk kehidupannya,”tambah Rohadi Widodo.

Ia juga menghimbau kepada Kementerian Agama  (Kemenag) agar di Masjid-Masjid, Gereja dan tempat ibadah lainnya untuk menyampaikan materi tentang bahaya perzinaan. Yang mana perzinaan bukan hal yang tabu lagi. Secara kultur juga harus dibangun. Dengan demikian untuk menjadi perhatian semua pihak dalam berbagai upaya membatasi penyebaran  HIV AIDS.

Sementara itu dari Dinas Kesehatan Karanganyar, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Fathkul Munir mengatakan HIV AIDS pada saat ini epidemi terkonsentrasi. Ada tiga (3) tingkatan epidemi yakni tinggi, terkonsentrasi dan rendah.

“Di Jawa Tengah khususnya Karanganyar masuk tingkatan terkonsentrasi. Dan semoga kita tetap bisa pertahankan di konsentrasi,”harapnya.

Ditambahkannya, tujuan Pengendalian HIV AIDS dan Infeksi Menular Seks (IMS) dalam istilah Getting Three Zeroes yakni menurunkan jumlah kasus baru HIV, menurunkan angka kematian serta menurunkan stigma dan diskriminasi sehingga mampu menguatkan kualitas hidup ODHA.

Disamping itu ada program empat (4) pilar PMTS di Indonesia  meliputi perubahan perilaku beresiko, promosi dan distribusi kondom yang berkisanambungan, lingkungan yang kondusif dan layanan IMS dan HIV AIDS yang layak.

Sementara  untuk warga yang terindikasi mengidap virus HIV AIDS, RSUD Karanganyar telah menyediakan fasilitas berupa layanan konseling dan test sukarela (VCT). Identitas penderita HIV AIDS dijamin kerahasiaanya.

Demikian Dishubkominfo (adt/ind)