Tekan AKI AKB, RSUD Karanganyar Siapkan PONEK dan PUG

kominfo
dr. Hadiasri Widyasari sekaligus istri dari Wakil Bupati Karanganyar (posisi tengah – jilbab hijau), saat cek lokasi PONEK dan POG di IGD RSUD Karanganyar, Selasa Siang (6/9)

Guna meningkatkan pelayanan perlindungan perempuan dan anak, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karanganyar fasilitasi Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Kompherensif (PONEK) dan Pengarusutamaan Gender (PUG).

Direktur RSUD Karanganyar, dr. G. Maryadi mengatakan RSUD Karanganyar sebagai Rumah Sakit berperan dalam lini kedua sebagai pusat rujukan bagi masyarakat. Peran besar harus dimainkan oleh Rumah Sakit dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka Kematian Bayi (AKB) terutama di Kab. Karanganyar. Karena keterlambatan dalam “3 T” adalah keterlambatan dalam memberikan pelayanan, keterlambatan mengambil keputusan dan keterlambatan merujuk.

“Harus ada komitmen bersama untuk perlindungan perempuan dan anak, Dan program ini masuk salah satu program Kementerian Kesehatan yakni penurunan angka kematian ibu dan bayi, karena di Jawa Tengah sendiri, nilai AKI AKB masih tinggi khususnya di Kab. Brebes. Untuk itu harus ada koordinasi dengan puskesmas-puskesmas, bidan-bidan di daerah maupun bidan-bidan di Rumah Sakit yang sudah ada program PONEK,”terang dr. G. Mariyadi saat Revitalisasi Ponek dan PUG di Aula RSUD Karanganyar, Selasa (06/9/2016).

Ia juga menambahkan, usaha meningkatkan layanan terhadap maternal dan nonatal melalui upaya revitalisasi PONEK, dimana saat ini layanan PONEK telah terintegrasi, menyatu dan terpadu dalam layanan Instalasi Gawat Darurat, sehingga kecepatan dan ketepatan akses layanan dapat dioptimalkan, dengan tujuan dapat menekan kematian ibu dan anak serendah-rendahnya.

“Selain program PONEK, kami juga berupaya memberikan layanan secara terpadu dalam menangani korban kekerasan terhadap perempuan dan anak baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual dengan membuka shelter khusus, sehingga privasi terjamin, pasien lebih nyaman dalam penanganannya. Diperlukan kerjasama yang baik dengan pihak terkait, dalam hal penanganan non medis dan pendampingan korban, sehingga diharapkan peran dari Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan” harapnya di hadapan peserta revitaslisasi PONEK dan PUG yang dihadiri Ketua KP2 A Karanganyar, Pejabat Struktural RSUD Karanganyar, Ketua DWP RSUD, Dinas Kesehatan, Kepala BP3 AKB, Kepala Puskesmas, Bidan Koordinator.

Sementara itu Ketua Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (KP2A) Karanganyar, dr. Hadiasri Widyasari sekaligus istri dari Wakil Bupati Karanganyar, mengapresiasi dan menyambut baik program PONEK dan PUG di RSUD Karanganyar dengan harapan benar-benar dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

“RSUD Karanganyar sudah melangkah lebih jauh kedepan, menguatkan kita untuk berkomitmen bersama agar program PONEK ini terus dapat dilaksanakan dengan tujuan menurunkan AKI AKB, sesuai program Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yakni Jateng Gayeng Nginjen Wong Meteng untuk mendata sekaligus monitoring/memantau kondisi ibu pada masa kehamilan sampai melahirkan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Hadiasri menyampaikan rasa keprihatinannya terhadap angka kekerasan perempuan dan anak yang terjadi, utamanya di wilayah Kab. Karanganyar.

“Maraknya pembuangan bayi baru lahir di wilayah Karanganyar, menjadikan perhatian dan kewajiban kita untuk bersinergi dalam menekan angka kematian bayi,”pesannya.

Berharap dengan adanya shelter kekerasan pada anak dan call center yang langsung dapat dihubungi dengan cepat, dapat membantu memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat.

“Shelter ASOKA yang berarti kesucian ini, setidaknya dapat menjadikan RSUD lebih membuka diri untuk merubah image kepada masyarakat sehingga timbul kepercayaan. Harapan saya, shelter ASOKA ini semoga saja tidak dapat dimanfaatkan, dalam artian jangan sampai ada korban kekerasan khususnya di wilayah Karanganyar,”harap Hadiasri Widyasari saat memberikan motivasinya. Demikian Dishubkominfo (ad/ind)