Redam Laju Inflasi, BI Kembangkan Klaster Bawang Putih

Bupati Karanganyar, Juliyatmono menandatangani Perjanjian Kerjasama Klaster Program Pengendalian Inflasi Komoditas Bawang Putih di Jawa Tengah, Rabu (24/08) di Camping Tawangmangu Baru, Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Rabu (24/08)
Bupati Karanganyar, Juliyatmono menandatangani Perjanjian Kerjasama Klaster Program Pengendalian Inflasi Komoditas Bawang Putih di Jawa Tengah, Rabu (24/08) di Camping Tawangmangu Baru, Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Rabu (24/08)

Karanganyar, Rabu (24/08/2016)

Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Tengah saat ini mengembangkan klaster bawang putih di delapan Kabupaten di Jawa Tengah, antara lain, Karanganyar, Magelang, Temanggung, Tegal, Batang, Pekalongan, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Kesepakatan tersebut tertuang di Perjanjian Kerjasama Klaster Program Pengendalian Inflasi Komoditas Bawang Putih di Jawa Tengah, Rabu (24/08) di Camping Tawangmangu Baru, Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu. Yang di hadiri masing-masing Bupati delapan Kabupaten.

Di jelaskan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Tengah, Iskandar Simorangkir, bahwa kestabilan  nilai rupiah salah satu ukurannya adalah laju inflasi yang rendah.

Dari hasil kajian BI penyebab inflasi karena kelompok makanan yang sering bergejolak. Setelah diteliti lebih jauh, ternyata berasal dari bawang putih. Ketika inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli masyarakat, dan mengurangi daya saing produk barang apalagi sudah masuk MEA.

“Di tahun 2015,  Jawa Tengah, laju inflasi mencapai 2,73 persen dan menjadi TPID terbaik yakni Provinsi  Jawa Tengah. Dari data historis, ternyata bawang putih menjadi yang paling sering peyebab inflasi di Jawa Tengah. Kontribusi inflasi bawang putih yakni 0,56 persen,” kata Iskandar Simorangkir.

Dengan adanya klaster bawang putih di delapan Kabupaten itu, pihaknya ingin menjadikan Provinsi Jawa Tengah sebagai pusat produksi bawang putih di Indonesia.  Selain itu agar tidak impor bawang putih dan laju inflasi rendah karena ketersediaan melimpah.

“Misalkan saja inisiasi di delapan Kabupaten itu, lahan seluas 200 hektar bisa menghasilkan 20 ton, kemudian total bisa dihasilkan 32 ribu ton,” katanya.

Di Jawa Tengah yang mempunyai potensi besar dalam program klaster pengendalian inflasi komoditas bawang putih, kemudian dibentuk klaster di delapan Kabupaten itu.

Ditempat yang sama, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan dengan dibentuknya klaster itu, suplai bawang putih akan meningkat, bibit-bibit bawang putih di ciptakan, harapannya masa tanam berikutnya akan kelihatan.

“Maka mestinya, pada Januari 2017 mestinya sudah ada produksi bawang yang banyak. Tugas BI untuk mengendalikan harga melalui produksi bawang putih yang banyak, sehingga laju inflasi bisa dikendalikan,” katanya.

Ganjar juga mengatakan ini sebagai gerakan daulat bawang putih. Di Jawa Tengah merupakan salah satu suplai nasional. Maka akan didorong untuk pengembangannya.pd