Wahyu Kliyu, Tradisi Turun Temurun Cegah Pagebluk

Upacara tradisi Wahyu Kliyu bagi warga dusun Kendal, desa Jatipuro, kecamatan Jatipuro

Upacara tradisi Wahyu Kliyu bagi warga dusun Kendal, desa Jatipuro, kecamatan Jatipuro

Karanganyar, Jumat (30/10/2015)
Sekitar pukul 19.00 WIB, warga Dusun Kendal, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro satu persatu Kepala Keluarga (KK) keluar dari rumah masing-masing dengan membawa tenggok berisi apem, Kamis (29/10).

Setiap KK diwajibkan membawa 344 biji apem, tidak boleh kurang atau pun lebih, dan telah dipotong-potong.

Mereka menuju rumah mantan Kepala Desa Jatipuro Rakino untuk mendatangi acara Wahyu Kliyu, yakni tradisi turun temurun sudah sejak lama yang dilakukan warga setempat.

Biasanya, upacara tradisi yang dilakukan setiap tanggal 15 bulan Suro diawali dengan hiburan wayang kulit atau klenengan. Kemudian tepat pukul 00.00 WIB, warga yang telah datang dan mengitari tempat kosong bersiap-siap dengan berdiri, lalu dengan dipimpin seorang modin, ratusan warga dari 12 RT itu melempar satu per satu apem tersebut ke tempat kosong itu.

Sambil melempar, mereka mengucapkan Wahyu Kliyu…Wahyu Kliyu hingga habis apem-apem tersebut. Setalah itu, sekitar satu jam tempat kosong berbentuk kotak tadi telah penuh, kemudian ditutup dengan daun pisang kemudian di doakan oleh modin.

Setelah didoakan, apem-apem tersebut dibawa pulang untuk warga setempat atau orang-orang yang menonton.

“Wahyu kliyu ini sudah ada sejak lama. Awalnya karena pernah suatu ketika di desa ini seperti terkena penyakit seperti terjadi banyak penyakit, dan orang meninggal,” kata Rakino, Jumat (30/10) dini hari.

Sebaran apem sejumlah 96.320 biji itu, bagi kepercayaan warga setempat sebagai simbol mendapatkan keselamatan tidak ada halangan suatu apapun. pd