Sanitasi, Antara Perilaku dan Kepedulian

Sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yg baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat (http://kbbi.web.id/sanitasi). Sedangkan dalam  https://id.wikipedia.org/wiki Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Secara singkat sanitasi dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk mewujudkan  kondisi lingkungan yang sesuai dengan persyaratan kesehatan.

Clip_3Sanitasi yang memadai (sesuai dengan persyaratan kesahatan) dapat mendorong peningkatan derajat kesehatan dan derajat perekonomian masyarakat. Namun sanitasi yang tidak memadai dapat mengundang munculnya berbagai penyakit dan menghabiskan dana untuk mengatasinya. Untuk mencegah meluasnya dampak tersebut, masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya sanitasi. Urusan sanitasi meliputi pengolahan tinja dengan penyediaan jamban pada tiap keluarga, pengelolaan pembuangan akhir sampah, dan drainase di lingkungan masyarakat.

Berdasarkan data RPJMD Kabupaten Karanganyar Tahun 2014-2018, Persentase cakupan layanan sanitasi dikaranganyar Tahun 2013 sebesar 57% dan ditargetkan pada tahun 2018 mencapai 67,5%. Sementara itu data dari http://stbm-indonesia.org (25/8/15 jam 10.02 AM) bahwa akses yang dicapai oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar terkait dengan  akses sanitasi (jamban) mencapai 93.31%, dengan jumlah KK yang masih BABS sebanyak 16.013 KK dari 257.041 KK.

Informasi dari Dinas Kesehatan, bahwa pemerintah kabupaten Karanganyar bertekad untuk dapat menyelesaikan persoalan akses sanitasi (jamban) sekaligus menjadikan karanganyar sebagai Kabupaten yang bebas BABS pada tahun 2017.

Dalam upaya mendukung target tersebut, bahwa pembenahan sanitasi (jamban) tidak mungkin hanya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten saja, tetapi perlu kolaborasi penanganan sanitasi oleh berbagai pihak baik itu masyarakat, pemerintah desa, stakeholder/perusahaan dan  lembaga-lembaga keswadayaan masyarakat.

Terkait dengan hal tersebut, saya selaku Koordinator Kota P2KKP (Program Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman) mengusulkan ide Kolaborasi pencapaian 100% akses sanitasi (dalam hal ini jamban) melalui beberapa kegiatan atau Gerakan.

1. Gerakan Serbu Sanitasi (Gerakan Seribu Sanitasi)

Sasaran : siswa/I Sekolah mulai dari SD sampai dengan SMA sederajat di Kabupaten Karanganyar
Substansi kegiatan : Belajar memupuk rasa kepedulian terhadap warga miskin yang tidak memiliki akses/sarana sanitasi minimal di desa/ kecamatan dimana sekolah itu berada.
Konsep : Siswa berinfaq dengan menyisihkan uang jajannya sebesar Rp. 1000 per bulan
Teknis : Infaq siswa dikoordinir oleh ketua kelas. Kemudian menyerahkan dana serbu Sanitasi ke organisasi Siswa Sekolah / Pramuka.
Penggerak : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Kepala Sekolah
Pelaku : Ketua Kelas dan Osis/Pramuka

2. Gerakan BerceSan (Berbagi Cemban Sanitasi)

Sasaran : PNS pegawai Pemda / Dinas se-Karanganyar
Substansi kegiatan : PNS menjadi bagian dalam penyelesaian masalah sanitasi di Kabupaten Karanganyar
Konsep : Setiap PNS menghimpun dana sosial Bercesan minimal Rp. 10.000 per bulan.
Teknis : Dana Bercesan di kumpulkan kepada Relawan sanitasi di masing-masing SKPD. Relawan Sanitasi menerima, mencatat dan menyerahkan dana Bercesan kepada Relawan Sanitasi Tingkat Kabupaten.
Penggerak : Sekda, Kepala Dinas, Kabid masing-masing SKPD
Pelaku : Relawan Sanitasi SKPD dan Relawan Sanitasi Tingkat Kota

3. Gerakan Berambisi Sanitasi  (BERANI AMBIL SANITASI)

Sasaran : Organisasi Sosial, Perusahaan, Organisasi profesi (IDI, IBI,  INI, dll)
Substansi kegiatan : Perwujudan tanggungjawab social terhadap masyarakat miskin yang belum memiliki akses/sarana sanitasi.
Konsep : Kesanggupan organisasi social, perusahan dan organisasi profesi mewujudkan sarana dan prasarana sanitasi secara periodic.
Teknis : Perusahaan, Organisasi sosial, organisasi profesi BERAMBISI membangun jamban masyarakat miskin (data dari DKK) secara mandiri dengan biaya dari perusahaan/ormas/ organisasi profesi sesuai dengan kesanggupan.
Penggerak : Sekda, Disperindagkop, DKK, Kesbanglinmaspol, Kodim
Pelaku : Penanggungjawab Organisasi Sosial, Perusahaan, Organisasi profesi (IDI, IBI,  INI, dll)

4. Gerakan Desa Bebas BABS

Sasaran : Desa/Kelurahan se-Kab. Karanganyar
Substansi kegiatan : Persoalan sanitasi menjadi bagian prioritas pembangunan desa/Kelurahan
Konsep : Kesanggupan desa untuk percepatan Bebas BABS
Teknis : Desa mengalokasikan dana desa dan dana program lainnya untuk pembangunan sarana sanitasi secara periodik sesuai target penanganan.
Penggerak : Pemdes, Bapermasdes, Dinas Pekerjaan Umum, Camat
Pelaku : Kepala Desa dan BPD, BKM, UPK

5. GEMESI (Gerakan Menangani Sanitasi)

Sasaran : Warga Masyarakat Peduli (Segmen Menengah ke atas)
Substansi kegiatan : Kepedulian masyarakat terhadap penanganan persoalan sanitasi di desa/ lingkungan sekitarnya.
Konsep : Masyarakat mengumpulkan dana Gemesi sesuai dengan kemampuannya sendiri secara periodic.
Teknis : Dana Gemesi dikumpulkan via pertemuan warga, kemudian disetorkan kepada Lembaga/Badan Keswadayaan Masyarakat untuk dijadikan alokasi pembangunan sarana sanitasi.
Penggerak : Bappermasdes, DPU, BKM, Kepala Desa, Camat
Pelaku : RT/RW, Relawan Masyarakat, BKM

6. Gerakan Arisan Jamban

Sasaran : Warga yang mampu tetapi tidak memiliki Jamban
Substansi kegiatan : Warga yang mampu, secara swadaya dapat memenuhi kebutuhan sanitasinya secara mandiri.
Konsep : Warga sasaran berkelompok menghimpun diri dan mengadakan arisan jamban.
Teknis : Besar arisan jamban ditentukan dikelompok dan pembangunan secara bergilir sesuai dengan target waktu yang ditetapkan kelompok.
Penggerak : Kepala Desa, Kadus
Pelaku : Penerima manfaat

7. Gerakan  Somasi (Sosialisasi Masalah Sanitasi)

Sasaran : Masyarakat, Pemdes, Stakeholder
Substansi kegiatan : Mensosialisasikan program 100% akses sanitasi, mendorong perubahan sikap dan perilaku hidup sehat, menyebarluaskan informasi pelaksanaan program.
Konsep : Melakukan sosialisasi kepada khalayak melalui media yang dimiliki, media social, media masa baik cetak-audio-audio visual maupun media warga sehingga dapat mempengaruhi khalayak untuk ikut berpartisipasi dan merasa memiliki.
Teknis : Melakukan sosialisasi kepada warga atau stakeholder, melakukan peliputan, menayangkan berita/kejadian melalui media yang dimilikinya.
Penggerak : Kepala Daerah, Sekda, Dinas Kesehatan, TKPKD
Pelaku : Dishubkominfo, RSPD, Forum Wartawan Karanganyar, Relawan, Sanitarian, DKK

Gerakan Kolaborasi

Mengapa pencapaian 100% akses sanitasi di Kabupaten Karanganyar harus dilaksanakan melalui gerakan kolaborasi ?

Pertama: Persoalan sanitasi sudah sangat kompleks dan kronis (tidak sekedar keterbatasan sarana prasarana, pendanaan, tetapi juga terkait dengan perilaku), sehingga tidak ada satu pihak pun yang dapat mengklaim memahami persoalan yang dihadapi.  Keberhasilan tidak sekedar diakui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, tetapi merupakan kolaborasi dengan stakeholder/SKPD/Masyarakat.

Kedua: Pergeseran posisi pelaku utama dari pemerintah dan swasta ( sebagai pemasok) ke masyarakat. Masyarakat menjadi bagian utama dalam penyelesaian masalah sanitasi, sehingga masyarakat bisa merencanakan, melaksanakan dan memonitoring kegiatan.

Ketiga: Keterbatasan sumberdaya di semua pihak baik pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan maupun di pihak pelaku pembangunan lainnya; swasta maupun masyarakat, sehingga perlu dilakukan sinergi untuk mencapai tujuan bersama. Sehingga dalam kegiatan ini melibatkan berbagai pihak yang dapat mendorong pencapaian 100% sanitasi sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki

Keberhasilan gerakan kolaborasi 100% akses sanitasi bisa berjalan apabila ada komitmen dan kepedulian yang kuat dari seluruh pelaku dan penggerak kegiatan, disertai dengan perubahan sikap dan perilaku warga yang tidak memiliki akses jamban.

Pengirim:
Dade Saripudin
Koordinator Kota P2KKP Kab. Karanganyar